Pengusaha Khawatirkan Rencana DKI Tarik Rem Darurat Corona

cnn, CNN Indonesia | Selasa, 29/12/2020 06:00 WIB
Pengusaha khawatirkan rencana DKI Jakarta menarik rem darurat demi mencegah penularan corona usai libur Tahun Baru 2021 karena bisa berdampak ke bisnis. Kalangan pengusaha khawatir terkait wacana Pemprov DKI Jakarta yang akan mengambil kebijakan emergency brake atau rem darurat usai libur Tahun Baru 2021. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Para pengusaha khawatir terkait wacana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan mengambil kebijakan emergency brake atau rem darurat usai libur Tahun Baru 2021.

"Wacana ini membuat psikologi pengusaha khawatir, cemas dan galau. Dengan kebijakan tersebut pemerintah DKI Jakarta akan menerapkan pembatasan jam operasional dan pembatasan ruang gerak warga," ujar Sarman Simanjorang, Ketua Umum DPD HIPPI Provinsi DKI Jakarta dalam keterangan resmi, Senin (28/12).

Menurut Sarman, jika kondisi kembali seperti yang dulu akan membuat aktivitas ekonomi semakin terbatas dan stagnan.


"Ini sinyal ekonomi yang kurang baik di awal tahun,dan secara psikologis akan menurunkan rasa optimisme di kalangan pelaku usaha," paparnya.

Sarman berharap hal tersebut menjadi suatu pertimbangan Pemprov DKI Jakarta dalam mengambil kebijakan karena sudah 10 bulan dunia usaha tertekan dan terpuruk. Dia menegaskan jika kebijakan ini kembali diberlakukan maka berpotensi menaikkan angka PHK dan semakin banyaknya UMKM akan tumbang atau tutup.

Sebelumnya, pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka peluang untuk menarik emergency brake atau rem darurat penanganan virus corona dengan cara memperketat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota. 

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan upaya tersebut bakal dilakukan jika kasus covid-19 terus meningkat. Ia mengaku pihaknya akan memantau peningkatan kasus usai libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021.

Riza menyadari terjadi peningkatan kasus positif covid-19 di Jakarta dalam beberapa pekan terakhir. Namun, politikus Partai Gerindra itu menilai peningkatan kasus tersebut terjadi karena beberapa faktor.

Salah satunya karena hasil pemeriksaan warga Jakarta dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes usap (swab) terus meningkat sehingga kasus yang ditemukan turut bertambah.

[Gambas:Video CNN]



(age/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK