TAIPAN

Lo Kheng Hong, Kaya Raya dari Koleksi Saham

Agus Triyono, CNN Indonesia | Minggu, 09/05/2021 09:23 WIB
Lo Kheng Hong yang dijuluki Warren Buffetnya Indonesia, berhasil memupuk harta triliunan rupiah dari investasi saham. Berikut kisah sukses investasinya. Lo Kheng Hong yang dijuluki Warren Buffetnya Indonesia, berhasil memupuk harta triliunan rupiah dari investasi saham. (CNNIndonesia/Basith Subastian).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perjalanan hidup dan kesuksesan seseorang dalam mendapat harta tidak pernah seorang pun akan mengetahuinya. Begitu juga yang terjadi pada investor saham yang disebut-sebut sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, Lo Kheng Hong.

Bagaimana tidak, jauh sebelum meraih suksesnya saat ini, pria yang orang tuanya pernah bekerja sebagai pemecah buah kelapa di Kalimantan Barat ini pernah mengalami jalan hidup berliku akibat keterbatasan penghasilan keluarga.

Termasuk saat bersekolah. Dikutip dari berbagai sumber, karena keterbatasan penghasilan orang tua, ia tidak bisa ikut study tour terakhir yang diselenggarakan SMA-nya ke Candi Borobudur. Memang, ongkosnya cuma Rp50 ribu. Tapi saat itu, uang Rp50 ribu merupakan jumlah yang besar.


Tak hanya itu, karena keterbatasan biaya, usai menamatkan pendidikan SMA-nya, ia juga tidak bisa langsung melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dan harus rela bekerja sebagai pesuruh fotokopi di sebuah bank.

Ingin nasibnya berubah, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Itu ia lakukan malam hari usai jam kerjanya habis pada pukul 4 sore.

"Saya kuliah malam, uang pangkal Rp50 ribu dan uang kuliah Rp10 ribu. Itu 41 tahun lalu, di perguruan tinggi yang tak punya kampus dan karena itu kelasnya harus menyewa," katanya seperti dikutip dari sebuah acara bertajuk "Lo Kheng Hong - Pengalaman 30 Tahun Berinvestasi Di Bursa Efek Indonesia | IdeaCloud' yang videonya diupload di Youtube seperti dikutip.

Selepas menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, Lo Kheng Hong bekerja di sebuah bank. Namun, di bank itu, ia merasa 'ngenes'. 

[Gambas:Video CNN]

Pasalnya, selama 11 tahun mengabdi, kenaikan pangkat yang selalu diidamkan oleh setiap karyawan tak pernah ia dapat. Ia tetap jadi pegawai tata usaha yang gajinya hanya naik dari Rp20.700 pada awal bekerja jadi Rp350 ribu setelah 11 tahun ia mengabdi.

Penghasilannya mulai menanjak naik ketika seorang nasabahnya asal Surabaya mengajak Lo bekerja di bank yang baru ia buka. Di tempat kerja yang baru itu, gajinya melonjak jadi Rp1,05 juta

Berselang 1 tahun kemudian, pangkat naik jadi kepala cabang. Kenaikan pangkat mengubah hidupnya.

Gaji kecil yang selama ini selalu mewarnai hari-harinya, menjadi tinggal kenangan. Setelah naik pangkat menjadi kepala cabang, gaji dilipatgandakan.

Dari situlah hidupnya mulai berubah besar. Gaji yang ia terima usai menjadi kepala cabang tidak pernah ia belanjakan.

Ia selalu gunakan gaji itu untuk belanja saham. Dan 30 tahun setelah kebiasaan itu ia lakukan, 'ternak' uangnya di saham semakin membesar.

Keberhasilan itu mengubah haluan hidupnya. Pada 1996, ia memutuskan untuk berhenti kerja dan fokus menjadi investor saham.

Ia melihat potensi harta karun sangat besar di pasar modal yang bisa membawanya menjadi orang kaya. Itu ia lihat berdasarkan potensi dana masyarakat yang berputar di sektor pasar modal.

Saat bekerja di bank, ia pernah berfikir uang masyarakat banyak berputar di bank. Tapi, berdasarkan data yang dimilikinya pada 2019, dana masyarakat di bank hanya sekitar Rp6.077 triliun.

Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan di pasar modal yang sudah tembus Rp6.518 triliun

"Harta karun terbesar di dunia adanya di pasar modal, ada uang besar di pasar modal. Kalau mau jadi orang kaya pasar modal lah tempatnya," katanya.

Setelah keputusan itu diambil, hampir setiap hari kehidupannya ia manfaatkan untuk duduk di taman dekat rumah berisi kamboja dan pohon mangga untuk melakukan tiga hal yang ia sebut sebagai RTI, yaitu reading, thinking, dan investing.

Takut Pegang Dolar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK