Ditjen Bea Cukai Buka-bukaan Soal Tarif Impor Emas

CNN Indonesia | Senin, 14/06/2021 19:54 WIB
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) buka suara terkait tarif bea masuk importasi emas batangan yang disebut tak sesuai aturan sehingga bebas pajak. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) buka suara terkait tarif bea masuk importasi emas batangan yang disebut tak sesuai aturan sehingga bebas pajak.(ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) buka suara terkait tarif bea masuk importasi emas batangan yang disebut tak sesuai aturan sehingga bebas pajak.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC Kementerian Keuangan Syarif Hidayat menjelaskan impor emas dapat diklasifikasikan ke dalam empat klasifikasi tarif bea masuk (BM), yakni: 

1. Klasifikasi HS 7108.12.10 untuk emas batangan yang akan diolah kembali dalam bentuk bongkah, ingot, atau batang tuangan dengan tarif BM 0 persen.
2. Klasifikasi HS 7108.12.90 selain dalam bentuk bongkah, ingot, atau batang tuangan, dengan tarif BM 5 persen.
3. Klasifikasi HS 7108.13.00 untuk emas bentuk setengah jadi lainnya, dengan tarif BM 5 persen.
4. Klasifikasi HS 7115.90.10 untuk emas batangan yang langsung siap dijual, dengan tarif BM 5 persen.


"Pengklasifikasian yang dilakukan oleh Bea Cukai sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Importir melakukan pengajuan Pemberitahuan Impor Barang dengan klasifikasi pada HS 7108.12.10," katanya seperti dikutip dari rilis, Senin (14/6).

Lebih lanjut, ia menyebut dalam menentukan klasifikasi emas, bea cukai melakukan penelitian terhadap uraian barang berpedoman ketentuan, kaidah, serta referensi yang diatur dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI).

Aturan dituangkan dalam Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS), catatan bagian, catatan bab, dan catatan penjelasan (explanatory notes).

Dia menjelaskan bahwa hasil penelitian menemukan bahwa emas tersebut tidak dimasukkan sebagai minted gold bar (batangan emas cetak) dikarenakan barang tersebut tidak dihasilkan melalui proses penggilingan (rolling), cetakan (drawing), maupun pemotongan (cutting).

"(Emas) hanya berbentuk sebagaimana asalnya atau dalam bentuk sesuai mouldingnya (cetakan)," imbuhnya.

Syarif menyebut berdasarkan referensi lainnya, disebutkan penilaian yang ada pada permukaan atas tidak mengubah karakteristik sebagai ingot, karena itu emas tidak dimasukkan sebagai bentuk setengah jadi (semi manufactured).

"Atas dasar hasil penelitian tersebut maka klasifikasi importir dapat diterima," katanya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya sedang melakukan peninjauan kembali terkait penetapan tarif BM emas batangan tersebut. Saat ini peninjauan jenis emas batangan terkait masih berjalan secara internal di bea cukai dengan melihat ketentuan di BTKI, jenis emas batangan yang diimpor, dan ketentuan di World Customs Organization (WCO).

Nantinya, hasil tinjauan tersebut akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan bila emas batangan tersebut memang masuk spesifikasi HS 7108.12.10. Jika demikian, maka tarif BM akan tetap dikenakan 0 persen sesuai dengan yang sudah berjalan saat ini.

Namun, bila emas batangan tersebut masuk spesifikasi HS 7108.13.00 dan HS 7115.90.10, maka tarif BM akan dikoreksi menjadi 5 persen.

"Kemudian akan ada penelitian ulang untuk menghitung kembali beban BM dalam 2 tahun berjalan, sesuai ketentuan perundang-undangan," tutupnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan membeberkan dugaan kasus terkait impor emas yang dilakukan oleh petinggi Bea dan Cukai di Bandara Soekarno Hatta. Proses impor itu diduga tak sesuai aturan sehingga jadi tidak kena pajak.

"Ini ada masalah penggelapan, ini ada masalah ada maling terang-terangan. Saya ingin sampaikan, coba diperiksa Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Soekarno Hatta, namanya inisial FM. Apa yang dilakukan, Pak?" kata Arteria.

Dia menuturkan perkara ini berkaitan dengan proses importasi emas senilai Rp47,1 triliun. Menurutnya, ada dugaan proses importasi dilakukan dengan tindakan manipulatif, dipalsukan dan tidak sesuai aturan sehingga jadi tidak dikenakan pajak.

Arteria menjelaskan bahwa emas yang diimpor dari Singapura mulanya berbentuk setengah jadi dan berlabel Namun ketika sampai di Bandara Soetta, emas itu diubah label menjadi produk emas bongkahan, sehingga tidak dikenakan pajak ketika masuk di Bandara Soetta.

Data emas yang teregister pun diduga diubah. Semula dinyatakan berbentuk setengah jadi, tetapi diubah menjadi bongkahan ketika tiba di Bandara Soetta.

"Singkatnya ini emas biasa, semua emas diimpor dari Singapura, ada perbedaan laporan ekspor dari negara Singapura ke petugas Bea Cukai, waktu masuk dari Singapura barangnya sudah benar, Pak, HS-nya 71081300 artinya kode emas setengah jadi," kata Arteria.

"Potensi kerugian negaranya Rp2,9 triliun. Ini bukan uang kecil di saat kita lagi susah, Pak," lanjut dia.

Arteria lalu membeberkan sejumlah perusahaan yang diduga berkaitan dengan kasus itu. Misalnya, PT Jardin Trako yang telah melakukannya pada April 2020 lalu. Perusahaan ini diduga melakukan modus serupa dengan pejabat Bea dan Cukai yang disebutkan Arteria.

"Batangan emas yang sudah bermerk, yang sudah bernomor seri yang dikemas rapih bersegel dan bercetak berat dan kandungan emasnya. Seolah-olah dikatakan sebagai bongkahan emas," tambah dia.

Arteria juga meminta agar Kejaksaan Agung memeriksa Direksi hingga Vice President di PT Aneka Tambang (Antam). Dia menduga ada keterlibatan petinggi Antam dugaan kejahatan yang dibeberkannya itu.

Menurut Arteria, selama ini Antam kerap ikut campur dalam perdebatan bea dan cukai mengenai proses importasi emas, sehingga dapat meloloskan hal tersebut. "Sehingga bea masuknya bisa 0 persen, padahal sudah layak jual, Pak. Ini orang maling kasat mata," ucap Arteria.

Menurutnya, emas tersebut seharusnya dikenakan biaya impor hingga lima persen dan kena pajak penghasilan impor sebesar 2,5 persen. Namun, karena praktik penyelewengan di Bandara Soetta, maka emas yang dimaksud jadi tidak kena pajak.

Arteria kemudian menyerahkan dokumen yang dikumpulkannya kepada Jaksa Agung mengenai dugaan kasus importasi emas dari Singapura tersebut.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK