Jakarta, CNN Indonesia -- Membeli rumah merupakan dambaan semua orang, tak terkecuali untuk keluarga yang baru menikah. Namun, harga properti yang selangit kadang menjadi kendala bagi pasangan muda memiliki rumah.
Meski begitu, kalau mau rajin menjelajah dunia maya, banyak pengembang properti yang menawarkan harga rumah di bawah Rp500 juta. Hal tersebut khususnya berada di daerah penyangga ibu kota, seperti Bogor dan Depok.
Pasangan muda bisa mencari terlebih dahulu secara acak di Google atau membuka platform jual dan beli rumah. Ada pihak yang menawarkan rumah baru hingga rumah second.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika sudah menemukan harga, lokasi, dan desain rumah yang cocok, pasangan muda bisa langsung melihat secara langsung ke lokasi untuk mengecek hunian tersebut. Jangan sampai hanya melihat harganya yang murah, tapi kualitas jauh di bawah standar.
Lalu, apa saja yang harus diperhatikan atau dibutuhkan bagi keluarga muda ketika membeli rumah?
1. Legalitas
Pengamat Properti Aleviery Akbar mengatakan keluarga muda harus jeli ketika membeli rumah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah cek status tanah atau sertifikat rumah yang akan dibangun supaya tidak menjadi masalah di kemudian hari.
"Apakah di kemudian hari akan bermasalah," kata Aleviery kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/10).
Selain itu, keluarga muda jangan sampai lupa untuk mengecek izin pembangunan rumah tersebut. Jika ingin membeli melalui kredit pemilikan rumah (KPR), maka rumah tersebut sudah harus memiliki surat izin mendirikan bangunan (IMB).
[Gambas:Video CNN]
2. Bank Pemberi KPR
Pasangan muda harus rajin mencari bank yang memberikan bunga murah. Calon pembeli rumah bisa menghubungi pihak perbankan untuk mengetahui lebih detail.
"(Cek) Suku bunga dan kemudahan proses (KPR)," kata Aleviery.
Biasanya, setiap developer sudah memiliki kerja sama dengan beberapa bank untuk memberikan layanan KPR. Dari pilihan bank-bank tersebut, konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan.
Diketahui, bunga yang ditetapkan perbankan biasanya dipengaruhi oleh suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Lalu, masing-masing bank memiliki suku bunga dasar kredit (SBDK) di tiap jenis kredit. Hal tersebut terlihat di laman resmi perusahaan bank.
Sebagai contoh, SBDK KPR di PT Bank Central Asia Tbk sebesar 7,2 persen saat ini. Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank CIMB Niaga Tbk masing-masing 7,25 persen.
Namun, setiap bank akan punya penilaian lagi dalam menentukan bunga KPR kepada masing-masing nasabah. Dengan demikian, bunga yang diberikan tak berarti sama persis dengan SBDK.
Selain bunga, Aleviery juga menyarankan calon pembeli rumah melihat biaya-biaya lain yang ditetapkan perbankan dalam memberikan KPR. Hal itu seperti biaya administrasi dan provisi.
"Provisi bisa cek bank untuk pengambilan KPR," jelas Aleviery.
3. Rekam Jejak Developer
Selanjutnya, Aleviery mengatakan keluarga muda sebaiknya jangan asal membeli rumah. Rekam jejak pengembang (developer) juga harus dicek terlebih dahulu.
"Datang ke marketing office, lihat di brosurnya, pernah bangun apa saja developer tersebut," kata Aleviery.
Sependapat, Konsultan Properti Cushman and Wakefield Arief Rahardjo mengatakan mengecek rekam jejak developer wajib dilakukan sebelum membeli rumah. Jika salah memilih, tentu konsumen akan rugi.
"Jangan sampai ternyata rumah yang dibeli tidak kunjung dibangun," kata Arief.
Punya Banyak Fasilitas dan Aman
Pengamat properti memberikan 6 poin yang bisa jadi pertimbangan bagi pasangan muda yang akan beli rumah KPR dengan harga di bawah Rp500 juta. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi).
4. Punya Banyak Fasilitas
Selain itu, Arief mengatakan keluarga muda juga sebaiknya melihat fasilitas publik yang ditawarkan oleh developer atau yang berada di sekitar perumahan. Fasilitas yang dimaksud, seperti sekolah, rumah sakit, dan area belanja.
Fasilitas publik harus diperhatikan untuk mempermudah kehidupan keluarga muda. Misalnya, orang tua tak perlu susah mencari sekolah untuk anaknya dan istri mudah mencari tempat belanja sehari-hari.
Selain fasilitas publik, Arief menyebut pasangan muda sebaiknya memilih perumahan yang menyediakan ruang terbuka hijau. Salah satunya ada taman.
"Ruang terbuka hijau akan mempengaruhi kualitas hidup," imbuh Arief.
Tak hanya itu, perumahan yang ideal juga harus berada di kawasan yang menyediakan air bersih dan ketersediaan listrik. Lalu, jangan lupa memastikan provider atau perusahaan penyedia internet yang lancar digunakan di sekitar rumah.
"Akhir-akhir ini internet juga menjadi salah satu fasilitas yang dibutuhkan di dalam rumah, sehingga ketersediaan provider internet dengan kualitas baik di kawasan perumahan dapat menjadi nilai tambah," jelas Arief.
Sependapat, Aleviery mengatakan sebaiknya memilih rumah yang dekat dengan kawasan sekolah, rumah sakit, mal, dan pasar. Setidaknya, jarak perumahan dengan fasilitas publik jaraknya 1 km.
"Dalam jarak berjalan kaki radius 1 km masih oke," imbuh Aleviery.
Lalu, ia merekomendasikan pasangan muda memilih perumahan yang menyediakan fasilitas tempat ibadah. Salah satunya masjid atau musala.
5. Akses Transportasi Umum
Selanjutnya, Aleviery menyarankan keluarga muda membeli rumah yang dekat dengan akses transportasi umum. Hal ini seperti stasiun kereta atau bus.
Akses transportasi umum harus diperhatikan karena mayoritas pasangan muda memiliki mobilitas tinggi. Sebagian besar dari pasangan muda bekerja di ibu kota.
Jika tak dekat dengan akses transportasi umum, maka akan sulit untuk pergi bekerja. Ujung-ujungnya, masyarakat harus mengeluarkan banyak anggaran untuk transportasi bekerja.
"Bukannya tidak merekomendasikan (perumahan yang tidak dekat dengan akses transportasi umum), tapi akan ada konsekuensi biaya tambahan lagi menuju ke stasiun," kata Aleviery.
6. Keamanan
Sementara, Arief menyebut perumahan yang ideal memiliki sejumlah satpam untuk menjaga rumah warga. Setidaknya, satpam berjaga di pintu masuk dan keluar.
"Petugas keamanan biasanya ada di tempat masuk dan keluar perumahan," ujar Arief.
Selain itu, ada beberapa pos satpam di sekitar rumah warga. Jadi, satpam bisa memantau rumah warga dari jarak lebih dekat.
"Kemudian dilengkapi dengan CCTV," tutup Arief.