Makanan tinggi gula dan karbohidrat juga bisa main-main dengan neurotransmitter yang membantu menjaga suasana hati tetap stabil. Mengonsumsi gula merangsang pelepasan neurotransmitter serotonin yang meningkatkan suasana hati. Pengaktifan jalur serotonin secara terus-menerus bisa menguras persediaan neurotransmitter yang terbatas, yang dapat berkontribusi untuk gejala depresi, menurut Dr Datis Kharrazian, ahli pengobatan fungsional dan penulis Why Isn't My Brain Working?.
Kadar gula darah tinggi yang kronis juga telah dikaitkan dengan peradangan di otak. Dan beberapa penelitian telah menemukan, peradangan saraf dapat menjadi salah satu penyebab depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian juga menemukan bahwa orang yang makan diet standar Amerika yang tinggi makanan olahan - yang biasanya mengandung jumlah tinggi lemak jenuh, gula dan garam - berada pada peningkatan risiko mengembangkan depresi, dibandingkan dengan mereka yang makan makanan rendah gula.