Begini Cara Gula Merusak Otak
Merry Wahyuningsih | CNN Indonesia
Selasa, 07 Apr 2015 11:17 WIB
Jika Anda pernah mengalami ‘kecelakaan gula’, Anda akan tahu kenaikan gula darah secara tiba-tiba dapat menyebabkan Anda mengalami gejala seperti mudah marah, mood swings (perubahan suasana hati), mudah bingung dan kelelahan. Itu karena donat atau minuman soda menyebabkan kadar gula darah meningkat tajam sesaat setelah dikonsumsi dan kemudian menurun secara drastis. Ketika gula darah kembali turun (dikenal dengan istilah ‘kecelakaan’), Anda akan merasa cemas, murung atau depresi.
Makanan tinggi gula dan karbohidrat juga bisa main-main dengan neurotransmitter yang membantu menjaga suasana hati tetap stabil. Mengonsumsi gula merangsang pelepasan neurotransmitter serotonin yang meningkatkan suasana hati. Pengaktifan jalur serotonin secara terus-menerus bisa menguras persediaan neurotransmitter yang terbatas, yang dapat berkontribusi untuk gejala depresi, menurut Dr Datis Kharrazian, ahli pengobatan fungsional dan penulis Why Isn't My Brain Working?.
Kadar gula darah tinggi yang kronis juga telah dikaitkan dengan peradangan di otak. Dan beberapa penelitian telah menemukan, peradangan saraf dapat menjadi salah satu penyebab depresi.
Remaja mungkin sangat rentan terhadap efek gula pada suasana hati. Sebuah studi pada tikus remaja, yang dilakukan oleh para peneliti di Emory University School of Medicine, menemukan diet tinggi gula menyebabkan depresi dan gangguan perilaku seperti kecemasan.
Penelitian juga menemukan bahwa orang yang makan diet standar Amerika yang tinggi makanan olahan - yang biasanya mengandung jumlah tinggi lemak jenuh, gula dan garam - berada pada peningkatan risiko mengembangkan depresi, dibandingkan dengan mereka yang makan makanan rendah gula.
Add
as a preferred
source on Google
Makanan tinggi gula dan karbohidrat juga bisa main-main dengan neurotransmitter yang membantu menjaga suasana hati tetap stabil. Mengonsumsi gula merangsang pelepasan neurotransmitter serotonin yang meningkatkan suasana hati. Pengaktifan jalur serotonin secara terus-menerus bisa menguras persediaan neurotransmitter yang terbatas, yang dapat berkontribusi untuk gejala depresi, menurut Dr Datis Kharrazian, ahli pengobatan fungsional dan penulis Why Isn't My Brain Working?.
Kadar gula darah tinggi yang kronis juga telah dikaitkan dengan peradangan di otak. Dan beberapa penelitian telah menemukan, peradangan saraf dapat menjadi salah satu penyebab depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian juga menemukan bahwa orang yang makan diet standar Amerika yang tinggi makanan olahan - yang biasanya mengandung jumlah tinggi lemak jenuh, gula dan garam - berada pada peningkatan risiko mengembangkan depresi, dibandingkan dengan mereka yang makan makanan rendah gula.
Add
as a preferred source on Google
Penurunan kognitif dan pikun
BACA HALAMAN BERIKUTNYA