Pesona Sumba

Mengenal Lebih Dekat Ritual Sakral Marapu

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Sabtu, 03/12/2016 10:18 WIB
Mengenal Lebih Dekat Ritual Sakral Marapu Pemeluk Marapu di Kampung Adat Dikita, Sumba Barat. Penduduk di sana kerap membawa parang saat bepergian. Selain itu, mereka juga gemar mengunyah sirih yang dicampur dengan pinang. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Selamat datang di Bumi Marapu!", itulah ungkapan yang selalu diucapkan penduduk Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, kepada wisatawan yang menginjakkan kaki di sana.

Kata marapu bukan berarti gersang, kondisi alam yang acap membingkai pandangan orang terhadap Sumba. Marapu adalah agama kepercayaan asli sebagian besar penduduk Sumba.

Kelestarian kepercayaan ini masih terjaga sampai sekarang. Hal itu terlihat kala CNNindonesia.com berkunjung ke Kabupaten Sumba Barat pada Selasa (22/11).


Saat pertama kali bertemu penduduk yang memeluk Marapu, terlihat ada yang berbeda dari penyampaian salamnya.

Biasanya jabatan tangan atau pelukan diberikan sebagai gerakan salam. Namun, mereka menyampaikan salam dengan melakukan cium hidung. Hal yang membuat wajah orang yang belum terbiasa memerah saat melakukannya.

Marapu dapat diartikan sebagai keyakinan atas kemampuan arwah leluhur menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Mayoritas masyarakat Sumba percaya bahwa leluhur yang telah meninggal dunia dapat berkomunikasi dengan Tuhan.

Karena kesaktian yang dimilikinya, arwah leluhur menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan. Penganut Marapu menyampaikan permohonannya terhadap Tuhan melalui arwah sang leluhur melalui upacara-upacara adat.

Penganut Marapu umumnya hidup bersama di kampung adat. Keberadaan kampung adat Marapu dapat ditemukan dengan mudah di Pulau Sumba. Mereka umumnya ada di dataran rendah maupun bukit yang jauh dari pusat keramaian.

Tempat tinggal

Mengenal Lebih Dekat Pemeluk MarapuBentuk rumah penganut Marapu di Kampung Adat Tarung. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Di kampung adat, penganut Marapu tinggal di rumah panggung beratap ilalang dan beralas kayu. Ada dua jenis rumah di sana, yaitu rumah besar (uma kalada) dan rumah biasa (ana uma).

Uma kalada merupakan rumah pertama yang dibangun leluhur di sebuah kampung adat. Rumah tersebut ditinggali keturunan sang nenek moyang.

Dalam sebuah kampung adat ada lebih dari satu uma kalada. Rumah-rumah besar itu dihuni kabisu, atau keturunan nenek moyang suku yang memiliki tanah adat.

Kepala suku di kampung adat disebut Rato. Ia hidup bersama istri dan anaknya di uma kalada.

Sementara ana uma adalah rumah bagi penganut kepercayaan Marapu yang lain. Walau tidak disebut rumah besar, namun ana uma memiliki bentuk dan ukuran yang sama dengan uma kalada.

Rumah-rumah di kampung adat berdiri sejajar mengelilingi sebuah pelataran. Di pelataran itu, penganut kepercayaan Marapu biasa menggelar upacara adat atau ritual keagamaan di momen-momen tertentu.
Mengenal Lebih Dekat Pemeluk MarapuKumpulan tengkorak kepala kerbau dan babi yang harus dikumpulkan dan dipajang oleh Rato. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
"Tempat menyelenggarakan ritual itu namanya natara podu. Ada tarian, beberapa persembahan kurban berupa ayam, yang nanti seluruh rumah mengurbankan dan mendapat ramalan (saat melakukan ritual)," kata Rato Kampung Adat Tarung, Lado Regi Tera, di Sumba Barat, Selasa (22/11).

Rumah adat penganut Marapu memiliki arsitektur yang khas. Selain beratap ilalang dan beralas kayu, rumah adat itu juga ditopang empat balok kayu besar di dalamnya.

Keberadaan empat balok kayu bukan tanpa alasan. Yuliana Leda Tara, istri Lado Regi Tera, berkata bahwa empat balok itu adalah simbol keluarga dalam masyarakat Sumba.

"Empat tiang ini simbol ayah, anak laki-laki, anak perempuan, dan istri. Tiang-tiang ini menunjukkan fondasi yang harus dimiliki tiap rumah tangga masyarakat Sumba," ujarnya.

Ritual keagamaan
Mengenal Lebih Dekat Pemeluk MarapuOrnamen ritual yang dimiliki penganut Marapu di Kampung Adat Waigali bernama Batu We Kurang (Batu Air Hujan). Penduduk setempat kerap melakukan pembacaan perubahan musim melalui ritual di sini. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Penganut Marapu memiliki beragam ritual besar keagamaan. Dua ritual besar yang menarik diperhatikan adalah wulla poddu dan pasola.

Wulla poddu adalah bulan suci bagi penganut Marapu. Di bulan itu, terdapat sejumlah larangan atau pamali yang harus dipatuhi penganut Marapu.

"(Selama wulla poddu) tidak boleh membangun rumah, adakan pesta apapun, kalau ada yang meninggal dilarang pukul gong bahkan ditangisi, tidak berhubungan badan dengan pasangan, tidak boleh memperbaiki rumah terutama atapnya," kata Lado Regi Tera.

Selama wulla poddu, penganut Marapu juga wajib berpuasa memakan daging babi dan anjing. Mereka hanya diperbolehkan memakan sayur daging ayam dan nasi sebulan penuh.

Ritual besar keagamaan kedua adalah pasola. Perang adat damai adalah arti dari pasola.
Mengenal Lebih Dekat Pemeluk MarapuKubur batu yang umum ditemukan di kampung-kampung adat penganut Marapu. Dalam kubur tersebut terdapat jenazah keluarga mereka. Biasanya satu kubur batu berisi dua jenazah. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Saat pasola digelar, masing-masing suku akan berperang menggunakan kuda dan lembing kayu. Mereka akan dihadapkan satu sama lain untuk saling melempar lembing ke arah lawan.

Walau terdengar menyeramkan, pasola justru menjadi momen perekat hubungan kabisu masyarakat Marapu. Ritual ini biasa dilakukan saat awal musim tanam tiba setiap tahun.

Pernikahan
Mengenal Lebih Dekat Pemeluk MarapuBatu yang tak boleh diinjak oleh orang sembarang karena dikeramatkan oleh penganut Marapu di Kampung Adat Waigali. Di sisinya ada Tiang Adung, tempat diletakkannya tebasan kepala musuh saat perang masih dilakukan. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Penganut Marapu juga memiliki cara tersendiri dalam menyelenggarakan pernikahan.

Berdasarkan adat yang mereka wariskan turun temurun, seserahan atau belise harus diberikan keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita. Namun, belise yang diserahkan tidak murah harganya.

Keluarga calon pengantin pria biasanya diminta menyerahkan belise berupa puluhan hingga ratusan hewan seperti kuda atau kerbau. Seserahan itu harus dibawa kehadapan keluarga perempuan saat acara 'lamaran' berlangsung.

"Jumlahnya banyak, tapi bisa dicicil bayarnya sampai nanti. Biasanya bisa keluarga laki-laki bawa saja sebagian atau 20 hewan dulu, mamule (perhiasan khas Sumba), sisanya dibayar bebas seumur hidup," tutur Rato Toda Lero, salah satu kepala suku di Kampung Adat Bondomaroto.

'Lamaran' biasa dilakukan sehari jelang pernikahan berlangsung. Setelah belise diberikan, keesokan harinya pernikahan akan dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan.

Saat pernikahan berlangsung keluarga mempelai pria dan perempuan saling menyiapkan juru bicara. Juru bicara adalah saksi yang harus menjadi penengah atau pemberi penjelasan jika suatu saat terjadi pertengkaran dalam rumah tangga kedua mempelai.

"Setelah sah secara adat, perempuan harus langsung ikut ke rumah laki-laki," tutur Lado Regi Tera.

(ard/ard)