Sejak menikah pada 2000 dan mendapatkan sepasang anak pada 2001, Ine memang sudah memutuskan untuk tetap bekerja meski sudah ada tanggung jawab anak. Sang suami pun setuju.
Namun sebagai seorang eksekutif muda yang memiliki jadwal serta wewenang cukup besar, Ine sadar ia harus membagi waktu untuk pekerjaan, rumah tangga, dan anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia dan suami—saat masih bersama—berkomitmen tidak menggunakan bantuan baby sitter saat akhir pekan dan liburan. Ine selalu memegang prinsip, tidak ada yang lebih penting dibanding anak.
Namun ia tidak berkeinginan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Dia selalu teringat pesan sang ibunda yang ditanamkan kepadanya semasa kecil.
"Saya selalu diajarkan oleh ibu, bahwa sebagai perempuan itu harus punya identitas diri. Saya diajarkan kalau orang kenal bukan karena istri seseorang, tapi dari karya saya," kata Ine.
"Saya beritahu anak-anak ketika mereka beranjak remaja. Alasannya, ya selain ekonomi, sebagai perempuan harus bisa mandiri dalam baik dalam ilmu atau ekonomi," kata Ine. "Namun juga tidak boleh sok pinter karena pada hakikatnya tetap harus mengabdi pada suami."
Kini, Ine menjadi pengusaha furnitur dan orang tua tunggal. Meski begitu, ia tetap berkegiatan dengan mengikuti berbagai organisasi sosial macam Lion's Club dan Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia.