Lancong Semalam

Dari Jalan Jaksa ke Weltevreden

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 20/05/2018 18:32 WIB
Romance Cafe, salah satu saksi sejarah perkembangan wisata di Jalan Jaksa, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Membaca' Jakarta memang sangat membosankan jika hanya dikaji lewat pandangan mata saat ini, sebab Jakarta tak lebih dari perkara polusi dan ambisi yang tak bertepi. Namun Jakarta akan 'sedikit mengasyikkan' jika ditilik lewat jalur sejarah.

Jika mencari pusat pemerintahan Jakarta zaman dulu, atau yang disebut Batavia, biasanya akan mengarah ke kawasan Kota Tua di Jakarta Utara. Namun kegagahan kota yang dilingkupi benteng itu tidak abadi. Beberapa alasan menyebabkan Gubernur Jendral terakhir VOC, Gerardus van Overstraten, memutuskan kawasan Weltevreden (Gambir dan sekitarnya) menjadi pusat pemerintahan yang baru.

Mengutip situs Badan Perencanaan Kotamadya Jakarta Pusat, Weltevreden bukanlah sebuah wilayah baru dalam peta Batavia karena kawasan ini sudah terbentuk sejak abad 17. Peradaban di kawasan ini bermula saat Anthonij Paviljoun membangun vila-vila peristirahatan, di atas lahan pemberian pemerintah kolonial tahun 1648 dengan nama Weltevreden.


Komplek perumahan inilah yang merupakan cikal bakal kawasan Weltevreden, letak kompleks tersebut saat ini berada disekitar Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.

Kawasan Weltevreden mulai berkembang saat Justinus Vinck membangun dua buah pasar besar di dalamnya (saat ini Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang). Pasar-pasar tersebut dihubungkan oleh De Grote Zuiderweg (sekarang Jalan Kebon Sirih sampai Jalan Kramat Kwitang)

Pada tahun 1905, Gemeente Batavia mengambil alih tanggung jawab atas pengelolaan seluruh wilayah kota Batavia. Rencana perluasan kota yang lebih terstruktur dicanangkan. Kawasan seperti Menteng dan Gondangdia dialihfungsikan, dari wilayah perkebunan menjadi wilayah perumahan.

Sementara, wilayah seputar Koningsplein (saat ini kawasan Medan Merdeka) dikembangkan besama Weltevreden sebagai pusat pemerintahan, perkantoran, dan hiburan berdasarkan rencana induk kota Batavia 1937. Pola ini masih dilanggengkan hingga saat ini.

Dari Jalan Jaksa ke WeltevredenDua jalur di Jalan Jaksa sepanjang 400 meter yang kini sepi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Beberapa bangunan bersejarah masa lalu di kawasan Weltevreden seperti Istana Koningsplein (Istana Merdeka), Volksraad (Gedung Pancasila), Indische Woonhuis (Galeri Nasional), Museum Royal Batavian Society of Arts and Sciences Batavia (Museum Nasional), Willemkerk (Gereja Immanuel), Waterloplein (Kawasan Lapangan Banteng), dan Stasiun Weltevreden (Stasiun Gambir) masih dirawat dengan cukup baik.

Tempat-tempat itu akhirnya menjadi destinasi bersejarah bagi para turis asal Belanda untuk berziarah ke Jakarta. Pada tahun 1960-an, turis Belanda mulai ramai memasuki kawasan Jalan Jaksa untuk menjadi lokasi menginap dalam rangka wisata ziarah.

Jarak dari Jalan Jaksa menuju lokasi-lokasi itu tidaklah jauh, biasanya turis berjalan kaki untuk menyambangi lokasi-lokasi tersebut.

Namun tidak dengan saya. Saya memilih menggunakan sepeda motor untuk menjelajah kawasan Weltevreden dari Jalan Jaksa.

Berikut ini ialah pengalaman saya berkeliling di kawasan itu seharian:

Berlanjut ke halaman berikutnya...

(ard)



1 dari 3