5 Cara 'New Normal' Pengaruhi Budaya Nongkrong

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 15:38 WIB
Group of happy young people having a rooftop party at evening. Friends enjoying party with drinks. Rindu dengan teman-teman, rindu nongkrong bareng di kafe? Sabar dulu sampai memang benar-benar kondisi dinyatakan aman untuk beraktivitas seperti biasa.(Istockphoto/Jacoblund)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rindu dengan teman-teman, rindu nongkrong bareng di kafe? Sabar dulu sampai memang benar-benar kondisi pandemi corona ini dinyatakan aman untuk beraktivitas seperti biasa.

Namun the new normal saat ini, orang Indonesia mau tak mau harus menahan diri untuk tidak nongkrong di kafe atau restoran selama masa pandemi virus corona. Beberapa restoran dan kafe akhirnya menerapkan cara baru agar tetap mendapat pemasukan dan pelanggan setia masih bisa mendapatkan menu kesukaan mereka di tempat tersebut yaitu pesan antar. Selain itu banyak juga restoran yang menyediakan berbagai menu frozen alias bisa diracik sendiri di rumah.

Beberapa restoran juga menerapkan jarak aman ketika menata ulang tempat duduk restorannya. namun ketika PSBB diperketat, kebanyakan restoran dan kafe hanya menerapkan pesan antar, mereka juga menetapkan jarak aman antar pembeli sampai menyediakan hand sanitizer, pakai masker, sampai mungkin saja cek suhu.


Hal-hal tersebut jadi kehidupan normal saat ini. Masyarakat harus berdamai dengan cara tersebut saat pandemi. Namun ketika situasi sudah dinyatakan lebih aman dan warga bisa kembali beraktivitas seperti biasa.


Meski demikian, mau tak mau, the new normal dalam hidup pasca pandemi bakal mengubah kebiasaan orang ketika nongkrong, namun tentunya itu semua tergantung diri masing-masing. Ada beberapa persepsi tentang kebiasaan tersebut:

1. Perubahan kebiasaan nongkrong
Soal nongkrong kebiasaan nongkrong di kafe, mal, restoran hanya sekadar untuk chit-chat lebih dominan dilakukan kaum milenial menengah ke atas. Nongkrong atau bahasa kerennya, kongko ini merujuk pada duduk santai sambil bercengkrama dengan teman-teman dan bertujuan untuk sekadar 'mengupdate hidup.'

Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, kongko adalah duduk santai dengan pembicaraan yang tak menentu ujung pangkalnya (beberapa orang bersama-sama).

Namun pasca karantina dan PSBB yang cukup lama, akankah orang khususnya team nongkrong langsung menghambur keluar dan 'berkerumun' serta bikin janji untuk 'memenuhi' kafe, mal, atau restoran yang sudah lama diidamkannya? 

Ilustrasi makan di kafeFoto: Pixabay/stokpic
Ilustrasi makan di kafe


Perkara budaya nongkrong, perubahan sudah pasti akan terjadi. Banyak orang yang diprediksi bakal ogah langsung nongkrong begitu PSBB usai. Setidaknya sampai situasi dan kondisi benar-benar aman dan terjamin, termasuk dengan tersedianya vaksin atau antivirus. 

Ada juga orang yang bakal masih ingin nongkrong namun tentunya dengan berbagai catatan khusus. Misalnya dengan selalu membawa hand sanitizer, memakai masker, duduk tak lagi mau berdekatan, dan juga enggan untuk memakai peralatan makan dan minum milik teman, misalnya satu sedotan berdua ketika mencicipi minuman temannya. Mereka akan lebih memilih untuk meminta sedotan lain atau bahkan membawa sedotan stainlessnya sendiri ke mana-mana. 

2. Pedagang kaki lima diminta lebih bersih karena pelanggan lebih aware kesehatan
Tak dimungkiri pedagang makanan kaki lima adalah 'harta karun' di Indonesia. Berbagai makanan enak rata-rata dijual di pinggir jalan di kaki lima.

Penjaja makanan tradisional, termasuk di daerah banyak yang tak rajin cuci tangan usai memegang banyak hal, termasuk uang kemudian memegang makanan. Anda tentunya masih ingat ada ungkapan yang menyebut "Makin enak karena pakai tangan."

Namun tak dimungkiri kalau pandemi corona ini membuat orang-orang akhirnya menjadi lebih aware soal kebersihan dan kesehatan. Bukan tak mungkin kalau nanti pada akhirnya pedagang kaki lima diminta untuk berubah agar lebih memperhatikan kebersihan dagangan mereka.

Hal ini sebenarnya bukan 'permintaan' baru. Namun adanya pandemi ini tak langsung bakal menuntut banyak orang dan semua pihak untuk berubah dan jadi lebih bersih, misalnya pakai sarung tangan plastik ketika jualan, memakai capit, cuci tangan, dan cucu peralatan makanan yang bersih.

"Beberapa waktu lalu sempat beli bubur enak banget dan langganan di daerah Pondok Indah. Tapi tiba-tiba lagi bungkusin makanan, abangnya tiba-tiba bersin dan dia enggak pakai masker. Akhirnya dibayar dan bawa pulang tapi, akhirnya dibuang aja. Bukan gimana-gimana tapi takut aja," ucap Farid.

"Waktu kasus COVID-19 heboh di China, gw makan di kantin samping kantor. Eh, pas nyuapin makan, si ibu batuk dong. Pusing langsung kepala gue," kata Wira.

"Kalau emang dari lihat aja sudah enggak bersih lebih baik enggak usah dibeli," tambah Dini.

"Gue lebih ke beli makan kaya jajanan pinggiran yang gue bakal pertimbangin banget," ucap Mia, responden lainnya.

Berbeda dengan beberapa orang lainnya, ada juga kemungkinan untuk masih bisa menolerir penjual kaki lima yang tak terlalu higienis.

"Tapi pasti abis itu dipanasin lagi di rumah," ucap Dhika, responden lainnya.



Lebih paham kesehatan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2