LANCONG SEMALAM

Riuh Petak Sembilan Jelang Imlek yang Disekap Pandemi

CNN Indonesia | Kamis, 11/02/2021 09:50 WIB
Lilin sembahyang dan dekorasi Kerbau Logam yang membisu sampai bakmi tanpa penikmat menjadi pemandangan Imlek di Petak Sembilan kala pandemi. Lengangnya suasana Petak Sembilan, kawasan pecinan terbesar di Jakarta, jelang Imlek 2021. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suasana Petak Sembilan di Glodok, Jakarta Barat, menjelang Imlek selalu ramai. Namun kondisi tersebut hanya terjadi sebelum pandemi virus Corona melanda Indonesia dan dunia.

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Petak Sembilan, kali ini berniat berbincang dengan para pedagang dan pengunjung yang sedang melakukan persiapan perayaan Tahun Baru China di tengah pandemi.

Pasar yang berada di daerah Pecinan Pancoran Glodok ini tidak besar tapi isinya terbilang lengkap.


Di pintu masuk pengunjung akan disambut dengan deretan lampion dan pernak-pernik Imlek bernuansa merah. Kalau niatnya ingin wisata kuliner, Petak Sembilan merupakan destinasi yang tepat untuk didatangi.

Begitu masuk ada berbagai lapak dan restoran yang menyediakan beragam menu kuliner khas China, seperti tripang, bakmi, bakso, kue keranjang, dan kue khas Tionghoa yang sudah langka, yaitu mipan.

Bakmi di Petak Sembilan memang terkenal enak. Setidaknya ada dua bakmi yang bisa dicoba yaitu Bakmi Sasak dan Bakmi Bulan. Jika menyeberang ke Gang Gloria, kita akan menemukan bakmi yang tak kalah enak yaitu Bakmi Amoy.

Masih di Gang Gloria, lurus terus dari tempat bakmi Amoy, ada Kopi Es Tak Kie. Bagi pecinta kopi, mungkin sudah tak asing lagi. Ada dua jenis kopi yang paling banyak dibeli, yaitu es kopi hitam dan es kopi susu.

"Kalau Sabtu atau Minggu jangan harap bisa berdiri," kata Andri Kurniawan, pemilik Toko Sukaria di Petak Sembilan yang saya temui. Tapi, itu adalah gambaran Petak Sembilan sebelum pandemi. Kini pecinan terbesar di Indonesia itu terlihat lengang.

Lilin-lilin yang berdiri membisu

Saya masuk ke toko milik Andri yang menjual peralatan ibadah. Tokonya cukup luas, banyak barang-barang bernuansa merah digantung, ada pula yang disusun rapi di rak.

Andri berdiri di depan meja kasir, memerhatikan para pembeli yang hari itu jumlahnya bisa dihitung jari. Padahal perayaan Imlek sudah di depan mata.

Toko Sukaria didirikan oleh ayahnya pada 1946. Kemudian pada 1992 operasional toko tersebut dilanjutkan oleh dirinya sampai sekarang.

Dari sejak berdiri sampai 2018 toko miliknya tak pernah sepi pembeli, apalagi menjelang perayaan Imlek. Cuan yang ia dapat bisa lebih dari Rp100 juta per hari.

Tapi sejak 2019 pendapatannya mulai menurun. Puncaknya pada tahun lalu dan berlanjut pada tahun ini ketika pandemi menghantam.

Andri terpaksa mengelus dada akibat merosotnya omset. Ia sempat menghitung pendapatannya turun 50 sampai 70 persen.

"Ada 70 persen saya rasa. Omset saya separo hilang. Kalau Sabtu dan Minggu itu kan bisa sampe Rp100 jutaan sebelum pandemi. Kalau sekarang hanya Rp40 juta sampai Rp50 juta," keluhnya.

Umat sembahyang di Kelenteng Petak Sembilan Glodok, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2020. CNNIndonesia/Safir MakkiSuasana lengang di kelenteng yang berada di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. (CNNIndonesia/Safir Makki)

Saat PSBB awal, tokonya hanya diperbolehkan membuka pintu selebar satu meter. Ia hanya bisa duduk di depan menunggu pelanggan. Mendapatkan lima pembeli saja sudah membuatnya bersyukur.

Selama pandemi pengunjung Petak Sembilan sendiri, menurut Andri, cenderung sepi, terutama setelah diberlakukannya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Orang-orang yang datang ke Petak Sembilan untuk wisata sampai ibadah hampir tidak ada.

"Pas PSBB itu udah kaya mau pingsan kita. Cuma boleh buka satu meter pintunya. Barang ga boleh dipajang. Kita duduk di depan ngelayanin. Omset bisa Rp1 jutaan aja saya udah bersyukur," jelas Andri sambil memasang raut wajah sedih.

Kini, kesedihan dia bertambah lantaran perayaan Imlek tak bisa digelar di vihara demi mencegah kerumunan penyebaran virus Corona. Tentu saja tokonya bakalan ikut sepi.

Salah satu barang yang menyumbang pendapatan besar untuknya adalah lilin 1.000 kati. Sebab ketika Imlek, lilin ini wajib disediakan di vihara.

Toko milik Andri menjual beberapa jenis lilin dengan ukuran yang berbeda. Ia menjelaskan ada yang berukuraan 20 kati, 100 kati, 500 kati dan 1.000 kati. Lilin 1.000 kati biasanya dibandrol dengan harga Rp17 juta sampai Rp18 juta per pasang.

Kini lilin-lilin besar itu cuma bisa menjadi saksi bisu betapa toko Andri dan Petak Sembilan terhempas aturan pandemi.

Akibat pandemi, perayaan Imlek dirayakan di rumah masing-masing. Lilin yang paling banyak dibeli pun hanya lilin 20 kati.

"Paling yang kecil-kecil yang 20 kati. Itu untuk rumahan karena vihara udah ga pake. Jadi yang laku lilin kecil aja untuk sembahyang di rumah," jelas Andri.

Puluhan lilin milik umat sudah tersusun rapi di Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Jakarta, Rabu, 25 Januari 2017. Lilin ini akan dinyalakan bersamaan saat hari pertama Imlek 28 Januari mendatang. CNN Indonesia/Safir MakkiLilin-lilin besar yang digunakan untuk ibadah di kelenteng. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Riuh Petak Sembilan Jelang Imlek yang Disekap Pandemi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK