Jakarta, CNN Indonesia -- Baru saja dirilis pada Rabu (10/2) di Netflix ialah serial dokumenter kriminal dan misteri terbaru, yakni 'Crime Scene: The Vanishing at the Cecil Hotel' berfokus pada kasus Elisa Lam, seorang mahasiswa asal Kanada yang dinyatakan hilang saat mengunjungi Los Angeles pada 2013.
Kemunculan terakhirnya diketahui dari video dirinya dalam elevator yang viral, di mana dia tampak bertingkah aneh.
Tak sedikit yang mengatakan kalau ia tampak sedang berbicara dengan makhluk astral. Gerakan pintu elevator yang tak biasa juga membuat ngeri saat menonton video tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakwajaran dalam kasus Elisa Lam bukan yang pertama kali terjadi di Cecil Hotel.
Cecil Hotel bahkan disebut sebagai "hotel kematian" karena saking banyaknya kasus kriminal yang menyebabkan kematian terjadi di sana.
Selama beroperasi selama 94 tahun, Cecil Hotel dipenuhi dengan pelacur, pengedar narkoba, dan penjahat.
Hotel yang dibuka tahun 1927 ini memiliki 299 kamar hotel, bersama dengan 301 kamar hunian bersama.
Terletak di 640 S. Main Street di Los Angeles, tidak jauh dari Skid Row, nama lain dari salah satu lingkungan termiskin di dunia, jalanan yang dipenuhi oleh para tunawisma, pengguna narkoba, dan dikatakan sangat berbahaya.
Ketika dibangun, hotel itu akan menampung para pengusaha dan sosialita; tamu akan memasuki lobi marmer yang indah, dipenuhi dengan kaca patri dan pohon palem. Namun, peruntungannya memburuk beberapa tahun kemudian.
Ketika masa Depresi Hebat berlangsung pada tahun 1930-an, Cecil menjadi lebih seperti hotel melati, hanya dihuni oleh orang-orang dalam perjalanan singkat.
"Hotel ini menjadi tempat di mana orang-orang yang bernasib kurang baik berkumpul," kata pemandu wisata Richard Schave, seperti yang dikutip dari CNN.
"Hotel-hotel ini dipenuhi dengan orang-orang yang tak diterima dalam masyarakat, seperti penjahat, pengedar narkoba, dan pelacur," lanjutnya.
Menurut Los Angeles Times, hotel itu adalah salah satu "tempat pertemuan umum" pertama bagi Alcoholics Anonymous, komunitas bagi pecandu minuman alkohol yang berusaha sembuh.
Suramnya masa lalu Cecil Hotel menginspirasi Ryan Murphy dan tim kreatifnya untuk memproduksi 'Hotel', tayangan musim ke-lima dalam serial televisi soal hantu 'American Horror Story'.
Kasus bunuh diri pertama yang dilaporkan di hotel terjadi pada tahun 1931, menurut The Tab. Banyak penghuni yang bunuh diri di hotel setelah sebelumnya check-in dengan nama lain, sehingga meninggalkan beberapa korban yang belum juga teridentifikasi hingga hari ini.
Salah satu tamu terkenal adalah Elizabeth Short, lebih dikenal sebagai Black Dahlia dan kasusnya dinamai The Black Dahlia Murder.
Dia dilaporkan telah terlihat di bar Hotel Cecil beberapa hari sebelum tubuhnya ditemukan pada Januari 1947.
The Los Angeles Daily Mirror memberitakan bantahan pihak kepolisian bahwa dia ada di sana sebelum kematiannya.
Kabar burung tersebut masih saja membuat bulu kuduk merinding. Kasus pembunuhannya juga belum terpecahkan hingga hari ini.
Misteri Cecil Hotel masih berlanjut ke halaman berikutnya...
[Gambas:Youtube]
Kisah Nyata Cecil Hotel, Hotel Kematian di Dokumenter Netflix
Banyak yang mengatakan Cecil Hotel dikutuk iblis, karena banyak kasus bunuh diri sampai pembunuhan terjadi di sana.
Cecil Hotel menjadi lebih terkenal di tahun 1950-an dan 60-an, ketika semakin banyak tamu yang bunuh diri dengan meloncat dari jendela kamarnya.
Yang paling mengenaskan ialah pada tahun 1962, ketika Pauline Otton melompat dari jendela lantai sembilan setelah pertengkaran sengit dengan suaminya.
CNN mencatat bahwa dia mendarat di atas seorang pejalan kaki dan keduanya tewas seketika.
Pada tahun 1944, ketika Dorothy Jean Purcell mengira bayi yang dia lahirkan di kamar mandi kamar hotelnya sudah tewas.
Los Angeles Times melaporkan bahwa dia melemparkan bayinya - yang sebenarnya masih hidup, menurut seorang ahli bedah otopsi yang memeriksa bayi tersebut, keluar jendela. Mayatnya ditemukan tidak lama kemudian di atap terdekat.
Purcell didakwa dengan pembunuhan, tetapi dia akhirnya dinyatakan tidak bersalah dengan alasan kegilaan, menurut Grunge.
Tidaklah mengejutkan bahwa Cecil Hotel menjadi magNet orang yang putus asa atau yang sedang lari dari hukum.
Pembunuh berantai, Richard Ramirez dan Jake Unterweger, masing-masing dilaporkan menjadi penghuni hotel tersebut pada tahun 1985 dan 1991.
Ramirez, yang nama kriminalnya The Night Stalker, membayar US$14 semalam untuk sebuah kamar di lantai atas, catat CNN. Dia dilaporkan akan kembali ke hotel setelah melakukan aksi kejahatannya yang keji.
Ramirez diketahui "membuang pakaiannya yang berdarah di tempat sampah di luar hotel lalu masuk melalui pintu belakang," kata Schave, melalui CNN.
Unterweger, seorang wartawan asal Austria yang mendapat tuduhan pembunuh berantai, menghabisi nyawa tiga pelacur saat dia menjadi tamu Cecil Hotel.
Pada tahun 2011, hotel ini diganti namanya menjadi Stay on Main, hotel murah yang menargetkan wisatawan muda asal Eropa.
Stay on Main berupa hotel tiga lantai di bangunan Cecil Hotel. Renovasi yang dilakukan terbilang besar-besaran, bahkan hotel di dalam hotel ini memiliki garis warna oranye pada setiap interiornya.
Namun, karena lift bersifat komunal dan masih digunakan bersama oleh penghuni gedung lainnya, selalu ada peluang tamu Stay on Main berinteraksi dengan tamu-tamu mencurigakan Cecil Hotel.
Saking bersejarahnya, bangunan Cecil Hotel dijadikan cagar budaya pada enam tahun kemudian.
Saat ini, Cecil Hotel diharapkan mendapatkan renovasi kembali. Bangunan "hotel kematian" itu telah dibeli oleh pengembang real estat asal New York, Richard Born, Curbed Los Angeles melaporkan.
Hotel Cecil berpotensi dibuka kembali pada akhir 2021. Ada yang berani bermalam di tengah kisah mengerikannya?