Sejarah Khao San Road, Destinasi Wajib Backpacker Dunia

CNN Indonesia | Sabtu, 20/02/2021 15:01 WIB
Kawasan Khao San Road di Bangkok, Thailand. (Foto: iStockphoto/LeoPatrizi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebelum dikenal menjadi kawasan backpacker serta hotel dan bar murah, Jalan Khao San (Khao San Road) merupakan sentra penjualan beras terbesar di Bangkok, Thailand.

Dari atas perahu kayu sederhana, pedagang beras yang sebagian besar penduduk setempat, menyusuri Sungai Chao Phraya yang luas dan masuk ke muara Kanal Banglamphu, di mana mereka menurunkan ribuan ton dalam karung goni ke pedagang grosir di lingkungan itu.

Pada akhir abad ke-19, distrik Banglamphu sejauh ini merupakan pasar beras terbesar tidak hanya di Bangkok, tetapi di Thailand, negara yang tak hanya sering mendapat sebutan Negara Gajah tetapi juga negara penghasil beras terbesar di dunia.


Pedagang partai kecil membuka toko di daratan, di selatan kanal yang berbentuk gang. Keramaian jual beli beras membuat gang menjadi begitu padat, sehingga Raja Chulalongkorn memerintahkan pembuatan jalan yang layak pada 1892.

Hanya berjarak 410 meter, jalur berbatu tidak cukup megah untuk dinamai dengan nama seorang raja, sehingga hanya disebut Soi Khao San (Jalur Penggilingan Padi).

Banglamphu terus berkembang menjadi sentra penjualan beras, sehingga muncul pedagang lain yang mulai menjual pakaian (termasuk seragam sekolah siap pakai pertama di Thailand), sepatu kulit kerbau, perhiasan, sampai kostum teater klasik Thailand.

Kedatangan orang-orang teater yang berbelanja ikut melahirkan dua rumah komedi musikal, label rekaman nasional pertama Thailand (Kratai), dan salah satu bioskop film bisu pertama di Thailand.

Satu abad kemudian, serbuan para backpacker dunia seakan "menghapus" sejarah pasar tradisional ini.

Dimulai dengan kedatangan sekelompok kecil hippies yang menggemari budaya dan ritual pada akhir 1970-an, Khao San Road semakin ramai didatangi backpacker mancanegara pada 1990-an.

Ruko dua lantai

Joe Cummings, penulis buku panduan wisata Lonely Planet edisi Thailand pada 40 tahun yang lalu, bisa dibilang merupakan turis mancanegara yang mendokumentasi perkembangan Khao San Road.

Mengutip tulisannya di CNN, ia mengatakan kalau jalanan itu dipenuhi oleh bangunan ruko berlantai dua mulai abad ke-19.

Ruko-ruko banyak dibuka sebagai toko sepatu, kedai kopi Thailand-China, penjual mi, pedagang grosir, dan bengkel sepeda motor. Pemilik atau penyewanya tinggal di lantai dua.

Beberapa pedagang beras bertahan, tetapi karena truk roda telah mengambil alih lalu lintas perahu, transportasi dan perdagangan beras dipindahkan ke tempat lain.

Sementara Yaowarat, Pecinan Bangkok, adalah fokus komersial utama bagi pedagang dan penduduk Tionghoa, dan Phahurat diramaikan komunitas India, Banglamphu jelas merupakan wilayah yang kental dengan kehidupan khas Thailand.

Di sudut Jalan Chakkaphong dan Phra Sumen, toko-toko pengrajin masih membuat kostum dan topeng untuk pemain teater klasik Thailand.

Grand Palace, Kuil Buddha Zamrud (Wat Phra Kaew), Kuil Budha Berbaring (Wat Pho), dan Giant Swing, hanya berada dalam radius satu kilometer dari Jalan Khao San.

Pemandangan khas Thailand tersebut bisa dibilang atraksi wisata utama Khao San Road.

Jadi ketika Cummings melihat dua hotel China-Thailand di sana, ia langsung berpikir untuk merekomendasikannya di buku panduan sebagai tempat yang nyaman bagi para pelancong.

Hampir identik dengan fasilitas sederhana mereka, Nith Chareon Suk Hotel dan Sri Phranakhon Hotel bertarif US$5 (dengan kurs pada empat dekade yang lalu). Tamunya kebanyakan pedagang Thailand yang membeli barang grosir di Banglamphu untuk dijual di luar Bangkok.

Di gang sempit di dekatnya, Cummings bahkan sangat gembira saat menemukan VS Guest House, yang dibuka oleh salah satu keluarga di Banglamphu dengan arsitektur ala tahun 1920-an dan didominasi kayu. Tarif bermalamnya US$ 1,50 per kepala.

Cummings melanjutkan lagi perjalanannya ke dalam gang Khao San Road, sampai menemukan lagi dua wisma yang dikelola keluarga, Bonny dan Tum. Tarif bermalamnya kurang lebih sama dengan wisma sebelumnya.

Kedua hotel dan tiga wisma di Jalan Khao San itu masuk dalam buku panduan berjudul "Thailand: A Travel Survival Kit" yang pertama kali diterbitkan pada 1982.

Ketika ia kembali setahun kemudian untuk memperbarui info untuk edisi kedua, jumlah tempat penginapan bertambah lima kali lipat. Edisi kedua lalu diterbitkannya pada 1984.

Sejak saat itu, setiap kali Cummings kembali ke Banglamphu untuk pembaruan edisi, jumlah tempat penginapan telah berlipat ganda.

Dalam satu dekade, lebih dari 200 tempat penginapan terhitung buka hanya di Khao San Road.

Sejarah Khao San Road, Destinasi Wajib Backpacker Dunia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK