LANCONG SEMALAM

Kepul Terakhir Tembakau Garangan di Timur Jakarta

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 20/02/2021 13:14 WIB
Tak ada yang bisa mengusik kekhusyukan Tjan Kee Beng menikmati rokok kawung. Aromanya mungkin asing buat penikmat rokok pabrikan atau vape. Lempeng tembakau garangan dipotong menjadi lempeng kecil kemudian dikemas. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak ada yang bisa mengusik kekhusyukan Tjan Kee Beng saat menikmati rokok kawung. Satu tarikan, lalu beberapa detik kemudian kepulan asap menyeruak. Aromanya mungkin asing buat penikmat rokok pabrikan atau vape yang digilai anak muda. Namun buatnya, kepulan asap ini jadi nostalgia kejayaan tembakau garangan di kawasan ibukota.

Ia dan sang kakak, Tjan Kee Liong, jadi generasi kedua yang meneruskan toko tembakau bernama 'Semut' di kompleks Pintu Pasar Timur, Jatinegara, Jakarta Timur. Pria yang akrab disapa Abeng ini cuma terkekeh saat teringat perkenalannya dengan tembakau dan kebiasaan merokok.

Meski punya usaha toko tembakau, Tjan Joe Djin, sang ayah, tidak memperbolehkan kedelapan anaknya untuk merokok. Tak habis akal, Abeng kecil yang kerap diajak sang ayah ke desa untuk belanja tembakau melihat sendiri cara pengolahan dan belajar melinting rokok dari pegawai ayahnya.


"Pahit, begitu merokok, batuk terus meludah. Sekali hisap meludah. Cuma lihat orang-orang kok merokok (terlihat) enak, kok saya meludah. Coba terus. Lama-lama ketahuan ayah sesudah SMA. Enggak diomelin cuma dibilang 'Jago ya sekarang'," kata Abeng saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di tokonya, beberapa waktu lalu.

Di sela obrolan, Abeng memotong lempeng hitam berserat berukuran sekitar 30x15 centimeter ke dalam ukuran mini 10x3 centimeter. Tak disangka ini adalah tembakau garangan, produk unggulan Toko Semut. Sekilas, lempengan-lempengan berwarna coklat kehitaman ini lebih mirip keset daripada olahan tembakau yang biasa digunakan untuk rokok kretek.

Lempeng-lempeng tembakau garangan ini dikemas dalam besek atau wadah bambu berlapis daun pisang kering. Dalam satu besek berisi 10 lempeng tembakau garangan.

"Disebut garangan karena tembakaunya digarang, dipanggang. Di manapun enggak ada, Dieng, Wonosobo ada. Asal muasalnya saya belum tahu. Kalau jenis tembakau lain yah tembakau jemur, itu saya tahunya (kawasan) Gunung Sumbing sudah ada. Dari 1950-an, orang sudah mulai bikin (rokok) klobot (kulit jagung) dengan cengkeh. Generasi kakek, saya lihat melinting klobot, kawung," ujarnya.

Dari Parakan, Temanggung, sang ayah membeli tembakau garangan dari berbagai desa di kawasan Dieng, Wonosobo termasuk Desa Katekan, Desa Pringsewu, Desa Sontolayan, Desa Ngadirejo, juga Desa Sukorejo. Tembakau-tembakau ini pun dikemas, diberi 'grade' lalu dikirim untuk dipasarkan di Batavia.

Sebelum toko berdiri pada sekitar 1947-1948, tembakau dipasarkan oleh sang paman. Di zaman itu, Pasar Jatinegara masih berupa los. Baru setelah toko ada, tembakau dari Parakan dipasok langsung ke toko untuk diperjual-belikan.

"Keluarga semua di Parakan tapi saat itu nenek, paman sudah di sini (Jakarta), bibi juga pindah kemari. Ayah yang di Parakan memasok ke sini. Saya masuk SD di 1972, suka jaga toko juga. Saat musim tembakau, kan libur, jadi ke Parakan ikut bantu," kata Abeng.

Tjan Kee Liong, kakak Tjan Kee Beng, saat melayani pembeli di toko mereka. Kebanyakan pelanggan lebih menyukai tembakau mole dan kretek.Tjan Kee Liong, kakak Tjan Kee Beng, saat melayani pembeli di toko mereka. Kebanyakan pelanggan lebih menyukai tembakau mole dan kretek. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Lancong Semalam masih berlanjut ke halaman selanjutnya...

Kepul Terakhir Tembakau Garangan di Timur Jakarta

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK