Pemandangan kota Strasbourg di Prancis. (iStockphoto/Leonid Andronov)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya percaya mimpi bisa jadi kenyataan, asal kita berusaha mewujudkannya.
Krisis ekonomi dunia pada 1997 sempat membuat saya yang baru lulus kuliah bingung hendak melamar pekerjaan di mana. Setelah menamatkan bangku S1 di Malang, akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung ke Bali.
Kondisi perekonomian yang tidak pasti tak membuat saya gentar. Saya justru mengambil kursus kecantikan dengan harapan bisa melanjutkan karier di bidang spa. Beruntung ada banyak kelas yang bisa diambil di sini. Lulusannya juga bisa dengan mudah magang atau menjadi karyawan salon atau hotel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah beberapa tahun berkarier sebagai staf pusat spa di salah satu jaringan hotel dunia yang ada di Bali, saya memberanikan diri melamar pekerjaan di Maldives. Karena pernah punya pengalaman bekerja di resor, rasanya tak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri di sana.
Tahun 2001, ketika perekonomian dunia mulai membaik, saya mulai menghitung tabungan. Ah, rasanya cukup untuk pelesir ke Prancis, begitu pikir saya. Negara dengan ikon Menara Eiffel itu memang sudah lama menjadi destinasi wisata impian saya.
Sebagai penggemar seni sejak kecil, rasanya hati sangat membuncah begitu memikirkan bisa mendatangi museum-museum sampai memandangi bangunan-bangunan kuno di sana.
Hingga akhirnya pada 2002 saya menikah dengan orang Prancis. Namun sayangnya kami harus berpisah.
Pada 2012 saya menikah lagi dengan pria yang juga asal Prancis. Momen pertemuan kami cukup unik. Ketika itu saya sedang menari Bali untuk sebuah acara di kebun milik keluarganya, untuk acara seorang warga Indonesia.
Kami lalu bermukim di Strasbourg, kota dekat perbatasan Prancis-Jerman yang juga disebut kota parlemen. Jarak ke Paris sekitar 2 jam 20 menit dengan perjalanan kereta cepat.
Saat ini kami sudah memiliki anak laki-laki yang berusia enam tahun. Puji syukur, tempat spa saya juga semakin berkembang.
Selain mengurus bisnis, saya juga punya kesibukan lain berupa melukis dengan bahan kopi. Ya, kopi yang biasa di minum. Hobi melukis sebenarnya sudah ada sejak kecil, bahkan guru kesenian di sekolah mendukung semangat seni saya. Namun, tidak demikian dengan orang tua. Mereka masih merasa anak gadis yang kuliah di jurusan seni kurang cerah masa depannya.
Begitu sudah punya usaha, punya gaji sendiri, dan punya banyak waktu luang, hobi melukis kembali saya lakukan. Selain bahannya yang untuk, teknik melukis saya juga katanya membuat orang tercengang. Karena sebelum menggoreskan tangan yang sudah dilumuri kopi ke atas kanvas, saya harus berdiam diri sesaat sebelum kemudian seakan berada di dunia lain seperti sedang kesurupan.
Lukisan karya Rosita Ujianti Yordey yang berjudul 'Jardin Sauvage (Taman Liar)'. (Arsip Rosita Ujianti Yordey)
Teman saya, Dr Yudha Bantono, yang pertama kali melihat potensi tersebut. Hingga saat ini saya semakin percaya diri untuk menekuninya, bahkan sudah beberapa kali pameran di villa asosiasi parlemen dan hotel berbintang di Strasbourg atas bantuan dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Bapak Profesor Doktor Warsito. Lukisan-lukisan saya juga banyak yang sudah laku terjual.
Jujur saja, sebelumnya saya tak berekspektasi jadi pebisnis spa sekaligus pelukis. Untuk kegiatan yang kedua, saya juga tak menyediakan waktu khusus untuk melakukannya. Jika sedang ingin, maka melukis. Jika tidak, jangan dipaksa. Tapi momen yang pas biasanya menghasilkan lukisan yang menurut saya lebih bermakna.
Kalau diceritakan secara singkat, rasanya perjalanan hidup saya mungkin mirip novel atau film. Tapi sesungguhnya, setiap kisah hidup pasti punya perjuangannya sendiri. Sebagai perempuan yang sedang merantau di negeri orang, terus optimis dan punya semangat juang rasanya harus dilakukan lebih ekstra. Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak?
Perjuangan pertama ialah soal bahasa. Jujur hingga saat ini bahasa Prancis saya masih belum sempurna. Tapi ada kelas bahasa yang bisa diikuti secara gratis. Selagi ada kesempatan, saya juga berusaha berbahasa Prancis dengan penduduk lokal. Dari pengalaman saya, mereka tidak akan menghakimi pendatang yang belum fasih, melainkan akan lebih menghargai.
Hingga saat ini, saya belum pernah mengalami perlakukan rasial. Sepertinya sebagian besar penduduk Prancis yang saya temui amat menghargai keberadaan imigran.
Kalau belum kenal mungkin belum terlalu dekat, karena pada dasarnya mereka agak tertutup. Tapi jika sudah kenal, mereka akan buka pintu lebar, layaknya keluarga, khususnya di kota saya tinggal. Jadi selain faktor bahasa, jangan lupa juga soal pembawaan diri yang baik, di manapun tempat merantaunya.
Sudah tinggal di Prancis sekitar 20 tahun, saya masih terus menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Turis mancanegara pasti menganggap tinggal di sini berarti glamor. Sebenarnya kehidupan di sini tidak melulu mewah, tergantung pembawaan orangnya. Kalau ingin kongko di tempat mewah, ada. Kalau ingin kongko di tempat murah, ada.
Jujur saya kurang tergiur untuk mengoleksi barang mewah. Ada pertimbangan soal tabungan anak dan cicilan apartemen yang harus terlunasi. Tapi, saya mudah lapar mata kalau urusan makanan haha... Saya dan suami penggemar makanan organik, jadi bahan makanan yang berkualitas tentu saja menjadi godaannya.
Untuk urusan makanan di rumah, saya tidak begitu repot. Senangnya hati saya begitu mengetahui kalau pria yang saya nikahi ini ternyata juga menggemari rasa pedas.
Suami saya berkarier sebagai seorang programmer. Ia punya ketertarikan besar terhadap budaya Indonesia, bahkan bisa sedikit berbahasa kita. Hampir setiap tahun saya mengajaknya dan anak pulang kampung ke Bali. Namun sudah dua tahun setengah kami tak mengunjungi Pulau Dewata akibat pembatasan perjalanan yang masih ketat. Rasa rindu sudah tentu ada.
Saya berharap pandemi virus Corona bisa segera berlalu, sehingga saya bisa menuntaskan kangen kepada keluarga sekaligus tukang dawet kacang ijo gerobak yang jadi langganan saya di Pasar Seminyak.
Rosita Ujianti Yordey bersama keluarga kecilnya. (Arsip Rosita Ujianti Yordey)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya percaya mimpi bisa jadi kenyataan, asal kita berusaha mewujudkannya.
Krisis ekonomi dunia pada 1997 sempat membuat saya yang baru lulus kuliah bingung hendak melamar pekerjaan di mana. Setelah menamatkan bangku S1 di Malang, akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung ke Bali.
Kondisi perekonomian yang tidak pasti tak membuat saya gentar. Saya justru mengambil kursus kecantikan dengan harapan bisa melanjutkan karier di bidang spa. Beruntung ada banyak kelas yang bisa diambil di sini. Lulusannya juga bisa dengan mudah magang atau menjadi karyawan salon atau hotel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah beberapa tahun berkarier sebagai staf pusat spa di salah satu jaringan hotel dunia yang ada di Bali, saya memberanikan diri melamar pekerjaan di Maldives. Karena pernah punya pengalaman bekerja di resor, rasanya tak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri di sana.
Tahun 2001, ketika perekonomian dunia mulai membaik, saya mulai menghitung tabungan. Ah, rasanya cukup untuk pelesir ke Prancis, begitu pikir saya. Negara dengan ikon Menara Eiffel itu memang sudah lama menjadi destinasi wisata impian saya.
Sebagai penggemar seni sejak kecil, rasanya hati sangat membuncah begitu memikirkan bisa mendatangi museum-museum sampai memandangi bangunan-bangunan kuno di sana.
Hingga akhirnya pada 2002 saya menikah dengan orang Prancis. Namun sayangnya kami harus berpisah.
Pada 2012 saya menikah lagi dengan pria yang juga asal Prancis. Momen pertemuan kami cukup unik. Ketika itu saya sedang menari Bali untuk sebuah acara di kebun milik keluarganya, untuk acara seorang warga Indonesia.
Kami lalu bermukim di Strasbourg, kota dekat perbatasan Prancis-Jerman yang juga disebut kota parlemen. Jarak ke Paris sekitar 2 jam 20 menit dengan perjalanan kereta cepat.
Saat ini kami sudah memiliki anak laki-laki yang berusia enam tahun. Puji syukur, tempat spa saya juga semakin berkembang.
Selain mengurus bisnis, saya juga punya kesibukan lain berupa melukis dengan bahan kopi. Ya, kopi yang biasa di minum. Hobi melukis sebenarnya sudah ada sejak kecil, bahkan guru kesenian di sekolah mendukung semangat seni saya. Namun, tidak demikian dengan orang tua. Mereka masih merasa anak gadis yang kuliah di jurusan seni kurang cerah masa depannya.
Begitu sudah punya usaha, punya gaji sendiri, dan punya banyak waktu luang, hobi melukis kembali saya lakukan. Selain bahannya yang untuk, teknik melukis saya juga katanya membuat orang tercengang. Karena sebelum menggoreskan tangan yang sudah dilumuri kopi ke atas kanvas, saya harus berdiam diri sesaat sebelum kemudian seakan berada di dunia lain seperti sedang kesurupan.
Lukisan karya Rosita Ujianti Yordey yang berjudul 'Jardin Sauvage (Taman Liar)'. (Arsip Rosita Ujianti Yordey)
Teman saya, Dr Yudha Bantono, yang pertama kali melihat potensi tersebut. Hingga saat ini saya semakin percaya diri untuk menekuninya, bahkan sudah beberapa kali pameran di villa asosiasi parlemen dan hotel berbintang di Strasbourg atas bantuan dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, Bapak Profesor Doktor Warsito. Lukisan-lukisan saya juga banyak yang sudah laku terjual.
Jujur saja, sebelumnya saya tak berekspektasi jadi pebisnis spa sekaligus pelukis. Untuk kegiatan yang kedua, saya juga tak menyediakan waktu khusus untuk melakukannya. Jika sedang ingin, maka melukis. Jika tidak, jangan dipaksa. Tapi momen yang pas biasanya menghasilkan lukisan yang menurut saya lebih bermakna.
Dua Dekade Mewujudkan Mimpi di Strasbourg
Pemandangan kota Strasbourg di Prancis. (iStockphoto/Leonid Andronov)
Kalau diceritakan secara singkat, rasanya perjalanan hidup saya mungkin mirip novel atau film. Tapi sesungguhnya, setiap kisah hidup pasti punya perjuangannya sendiri. Sebagai perempuan yang sedang merantau di negeri orang, terus optimis dan punya semangat juang rasanya harus dilakukan lebih ekstra. Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak?
Perjuangan pertama ialah soal bahasa. Jujur hingga saat ini bahasa Prancis saya masih belum sempurna. Tapi ada kelas bahasa yang bisa diikuti secara gratis. Selagi ada kesempatan, saya juga berusaha berbahasa Prancis dengan penduduk lokal. Dari pengalaman saya, mereka tidak akan menghakimi pendatang yang belum fasih, melainkan akan lebih menghargai.
Hingga saat ini, saya belum pernah mengalami perlakukan rasial. Sepertinya sebagian besar penduduk Prancis yang saya temui amat menghargai keberadaan imigran.
Kalau belum kenal mungkin belum terlalu dekat, karena pada dasarnya mereka agak tertutup. Tapi jika sudah kenal, mereka akan buka pintu lebar, layaknya keluarga, khususnya di kota saya tinggal. Jadi selain faktor bahasa, jangan lupa juga soal pembawaan diri yang baik, di manapun tempat merantaunya.
Sudah tinggal di Prancis sekitar 20 tahun, saya masih terus menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Turis mancanegara pasti menganggap tinggal di sini berarti glamor. Sebenarnya kehidupan di sini tidak melulu mewah, tergantung pembawaan orangnya. Kalau ingin kongko di tempat mewah, ada. Kalau ingin kongko di tempat murah, ada.
Jujur saya kurang tergiur untuk mengoleksi barang mewah. Ada pertimbangan soal tabungan anak dan cicilan apartemen yang harus terlunasi. Tapi, saya mudah lapar mata kalau urusan makanan haha... Saya dan suami penggemar makanan organik, jadi bahan makanan yang berkualitas tentu saja menjadi godaannya.
Untuk urusan makanan di rumah, saya tidak begitu repot. Senangnya hati saya begitu mengetahui kalau pria yang saya nikahi ini ternyata juga menggemari rasa pedas.
Suami saya berkarier sebagai seorang programmer. Ia punya ketertarikan besar terhadap budaya Indonesia, bahkan bisa sedikit berbahasa kita. Hampir setiap tahun saya mengajaknya dan anak pulang kampung ke Bali. Namun sudah dua tahun setengah kami tak mengunjungi Pulau Dewata akibat pembatasan perjalanan yang masih ketat. Rasa rindu sudah tentu ada.
Saya berharap pandemi virus Corona bisa segera berlalu, sehingga saya bisa menuntaskan kangen kepada keluarga sekaligus tukang dawet kacang ijo gerobak yang jadi langganan saya di Pasar Seminyak.
Rosita Ujianti Yordey bersama keluarga kecilnya. (Arsip Rosita Ujianti Yordey)