CERITA TAKJIL

Kisah Panjang di Balik Sepotong Tempe Goreng

tim, CNN Indonesia | Minggu, 18/04/2021 15:24 WIB
Apa lagi yang lebih nikmat daripada tempe goreng untuk takjil? Namun jarang yang tahu bagaimana proses dan asal-usul pembuatan tempe. Apa lagi yang lebih nikmat daripada tempe goreng untuk takjil? Namun jarang yang tahu bagaimana proses dan asal-usul pembuatan tempe. (iStockphoto/Nitykala)
Jakarta, CNN Indonesia --

Meski banyak anggapan kalau makan gorengan saat berbuka puasa itu tak sehat, namun tak bisa bohong tak ada yang bisa menggantikan renyahnya makan gorengan.

Aneka bakwan, tahu, singkong, ubi, cireng, dan tak boleh ketinggalan tempe goreng yang disantap dengan cabe rawit hijau menjadi sajian pembuka puasa yang enak. Salah satu yang paling klasik dan jadi favorit adalah tempe goreng tepung di tukang gorengan depan rumah atau kantor. 

Tak dimungkiri, meski sering dijadikan biang kerok kolesterol, minyak jahat, sampai tudingan perusak kesehatan karena digoreng dengan minyak berplastik, namun gorengan tetap jadi idola buat takjil buka puasa. 


Apa lagi yang lebih nikmat daripada tempe goreng? Hampir semua orang tahu tempe goreng tepung dan bisa membuatnya namun tak banyak yang tahu asal-usul dan proses pembuatan tempe. Sumber protein satu ini terbilang murah, mudah ditemui dan mudah diolah. Bahkan, ahli teknologi pangan, Driando Ahnan-Winarno melihat tempe sebagai 'food of hope'.

"Siapa sih yang enggak butuh sumber protein tinggi, terjangkau? Mau dari strata sosial apa pun, semua butuh. Tempe dari sudut pandang ilmu pangan punya semua yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ini," ujar pria yang akrab disapa Ando ini dalam bincang virtual bersama Masak.TV dan TelusuRI, Jumat (9/4).

Dalam riset yang dituangkan dalam 'Kitab Tempe', Ando menemukan tempe memberikan kontribusi nutrisi sama atau lebih baik daripada daging sapi. Ini mulai dari kontribusi energi yang sama, serat dan kalsium lebih tinggi, lemak jenuh dan garam lebih rendah juga jumlah zat besi sama.

Akan tetapi tak bisa dimungkiri keberadaan tempe kerap dianggap sepele. Makan tempe tidak dianggap 'wah' apalagi jika dibandingkan dengan makan ayam goreng atau makan sate sapi. Saatnya menyelisik rahasia tempe lebih dalam dan menyelipkannya dalam menu sahur maupun berbuka Anda.

Identik dengan kedelai

Jika ditarik ke akarnya tempe merupakan warisan leluhur. Tempe mengandung nilai tradisi yang harus dipertahankan dan dimajukan di tengah kemajuan industri kuliner yang pesat.

"Kita punya tempe sebagai warisan tradisi sejarah. Bukan hanya gizinya tapi juga mengetahui tradisi dan sejarah di baliknya," imbuhnya.

Melihat sejarah awal tempe berarti melihat potensi kedelai di Indonesia. Menurut Fadly Rahman, sejarawan kuliner, selama ini tempe diasosiasikan dengan kedelai, budidaya kedelai yang begitu melimpah di Nusantara serta pemanfaatannya oleh masyarakat dari berbagai lapisan.

Kedelai masuk Nusantara berkat pengaruh dari Tionghoa. Bangsa Tionghoa dulu memperkenalkan kedelai kuning. Bahkan di masa kerajaan-kerajaan Nusantara masih berjaya, kedelai sudah dikenal lewat jejak teologis prasasti Watukura.

"[Disebut] ada sebuah produk tauku dari kedelai. Ini menarik, meski ada pengaruh Tionghoa, istilah kedelai bukan berasal dari kosakata Tionghoa. Kedelai dari kata 'kadalai', diadopsi dari kosakata Tamil," jelas Fadly dalam kesempatan serupa.

Dalam istilah Tionghoa, lanjutnya, terdapat istilah 'dao' untuk kedelai. Masyarakat Tionghoa sendiri mengenal kedelai untuk membuat tauco sehingga ada istilah 'dao tauco'.

Untuk produk tempe sebenarnya Georgius Everhardus Rumphius, ahli botani Jerman yang bekerja untuk VOC sempat menyinggung pangan yang mengarah ke pangan dari kedelai. Pangan ini dibuat oleh orang di Jawa khususnya Jawa Tengah.

"Kata tempe ini sendiri ada yang menyebut dari tumpi. Ada riset sejarawan Prancis, tempe ini dari kata tape dan tempayan. Tape kan fermentasi dari apa pun, kemudian kebiasaan membuat tempe dengan tempayan lalu diakronimkan," katanya.

Fresh tempeh with slices on white backgroundFoto: iStockphoto/PicturePartner

HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK