Mengobati Luka Batin dalam Jalur Ziarah Santo Yakobus
CNN Indonesia
Rabu, 09 Jun 2021 10:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Peziarah berjalan kaki di jalur Camino de Santiago, Spanyol. (AP/Alvaro Barrientos)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jalur Camino de Santiago di Spanyol kembali ramai oleh peziarah, yang berjalan kaki selama berhari-hari sampai berbulan-bulan untuk menuju pemakaman Santo Yakobus.
Setelah ditutup lebih dari setahun karena pandemi virus Corona, jalur peziarah ini akhirnya kembali dibuka, dan kota Santiago de Compostela kembali ramai peziarah.
Salah satu peziarah yang menyusuri Camino ialah Laura Ferrón, yang pernikahannya berakhir selama penguncian wilayah di Spanyol dan saat ini sedang khawatir kehilangan pekerjaannya karena bank tempatnya bekerja merencanakan PHK besar-besaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia dan dua temannya terbang dari rumah mereka di daerah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, untuk menghabiskan waktu seminggu berjalan kaki sejauh 100 kilometer.
"Kegiatan ini membantu Anda melepaskan beban. Pandemi telah mengajarkan kita untuk lebih mementingkan apa yang kita miliki dan untuk melihat diri sendiri baik-baik," kata Ferrón (33) saat beristirahat di dekat Arzúa.
Desa di perbukitan hijau di barat laut Spanyol itu berjarak sekitar dua hari dari katedral abad pertengahan di Santiago, yang merupakan titik akhir jalur ziarah Santo Yakobus.
Camino de Santiago sebenarnya adalah serangkaian jalur yang membentang di luar Semenanjung Iberia dan menyebar ke seluruh Eropa.
Rute mana pun yang diambil, semuanya berakhir di katedral barok Santiago, di mana orang percaya dapat mengunjungi apa yang dikatakan sebagai makam Yakobus, rasul yang, menurut tradisi Katolik, membawa agama Kristen ke Spanyol dan Portugal.
Jalur ziarah ini berasal pada dugaan penemuan makam pada abad ke-9. Peziarah telah datang ke Santiago selama satu milenium, tetapi jumlah orang yang melakukan perjalanan itu meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir, setelah otoritas regional menghidupkan kembali jalur tersebut.
Saat ini jalur ziarah itu dilengkapi dengan banyak tempat penginapan dan tempat makan yang harganya ramah di kantong.
Lebih dari 340 ribu orang dari seluruh dunia berjalan kaki di "El Camino" pada tahun 2019. Hanya 50 ribu orang yang berjalan kaki tahun lalu, ketika Spanyol memblokir perjalanan asing dan domestik kecuali selama bulan-bulan musim panas.
Sebelum keadaan darurat yang membatasi perjalanan antar wilayah Spanyol berakhir pada 9 Mei, hanya segelintir peziarah Spanyol yang tiba di Santiago setiap hari dan mendaftar ke Kantor Penerimaan Peziarah untuk menerima kredensial resmi mereka karena telah menyelesaikan jalur ziarah.
Sekarang perjalanan kembali diizinkan, lebih banyak orang dari Spanyol dan tempat lain di Eropa berjalan di jalur ziarah ini, meskipun banyak hostel yang melayani para peziarah masih ditutup.
Beberapa ratus orang tercatat tiba di Santiago setiap hari, dibandingkan dengan beberapa ribu peziarah selama musim panas biasa.
Kementerian Kesehatan Spanyol telah melaporkan kematian lebih dari 79 ribu orang akibat COVID-19. Seperti yang terjadi di seluruh dunia, penyakit ini memakan korban terbesar para penduduk lansia di negara itu.
"Bagi orang tua, satu tahun pandemi terasa seperti lima tahun," kata Naty Arias (81) saat berjalan di Camino bersama suaminya yang berusia 84 tahun dan dua putrinya.
"Dan seperti yang dikatakan suamiku, kita tidak punya banyak waktu lagi, jadi kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin."
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Jumlah peziarah yang tiba di Camino de Santiago selama satu setengah tahun ke depan diperkirakan meningkat, setelah Paus Fransiskus memperpanjang tahun suci 2021 yang didedikasikan untuk Santo Yakobus hingga 2022.
Bagi umat Katolik Roma yang mengambil bagian dalam ziarah, berjalan selama Tahun Yubileum memberi mereka kesempatan untuk menerima indulgensi penuh, yang memberi mereka pengampunan penuh dari hukuman sementara atas dosa-dosa mereka. Tahun Yubileum terakhir untuk menyusuri jalur ziarah itu adalah pada tahun 2010.
Uskup Agung Santiago Julián Barrio mengatakan dia sangat optimis bahwa sekitar 300 ribu peziarah datang tahun ini, selama kecepatan program vaksinasi Spanyol dan situasi kesehatan di seluruh dunia terus membaik. Dia mengharapkan banyak orang datang mencari hiburan dari rasa sakit akibat pandemi.
"Jalan Santo Yakobus, dalam pengertian ini, dapat membantu kita. Ini adalah ruang yang membantu kita memulihkan kedamaian batin kita, stabilitas kita, semangat kita, yang tanpa diragukan lagi kita semua butuhkan, mengingat kesulitan yang kita hadapi dalam menghadapi rasa sakit dan kerusakan akibat pandemi yang terkadang membuat kita tidak bisa berkata-kata," kata Barrio.
Ziarah yang menyembuhkan
Para ahli kesehatan mental setuju bahwa perjalanan ziarah di Camino de Santiago dapat membantu penyembuhan emosional bagi orang yang melakukannya.
Dr Albert Feliu, seorang psikolog kesehatan dan dosen di Universitas Otonom Barcelona, mengatakan hasil awal dari survei terhadap 100 peziarah menunjukkan pengurangan stres dan depresi.
Survei tersebut merupakan bagian dari studi multi-tahun tentang manfaat berjalan di Camino de Santiago yang dilakukan oleh para peneliti klinis dari universitas di Spanyol dan Brasil.
Manu Mariño, direktur Quietud Mindfulness Center di Santiago, juga terlibat dalam penelitian ini. Ia telah menunaikan ziarah sebanyak 24 kali.
"Jalan Santo Yakobus adalah tempat yang sangat baik untuk membantu kita menyadari bahwa penderitaan merupakan bagian dari kehidupan, dan bahwa penderitaan kita bergantung pada bagaimana kita berhubungan dengan apa yang kita alami," kata Mariño.
"Anda belajar untuk hidup hanya dengan apa yang diperlukan, yang berarti persis apa yang dapat Anda bawa dalam ransel."
Vladimir Vala, seorang lulusan universitas berusia 25 tahun di bidang bisnis, datang ke Spanyol untuk berjalan kaki selama tiga minggu sebelum kembali ke Republik Ceko untuk menikah.
Vala merasa mendapat kedamaian saat ia berjalan kaki seorang diri melewati pedesaan.
"Orang-orang sendirian dan mereka harus menghadapi diri mereka sendiri (selama pandemi)," kata Vala setelah mengunjungi katedral.
"Dan saya pikir berjalan kaki di Camino adalah (tentang) menghadapi diri sendiri."
Ferron yang baru saja bercerai memiliki penilaian serupa.
"Jalurnya bagus untuk melatih kesehatan mental Anda, karena selama pandemi semua orang hampir merasa gila akibat dikurung," katanya.
"Beberapa medannya sangat sulit, tetapi pada akhirnya Anda mencapai tujuan Anda dan kemudian Anda mendapat hadiah bir dingin, yang luar biasa."
Jakarta, CNN Indonesia --
Jalur Camino de Santiago di Spanyol kembali ramai oleh peziarah, yang berjalan kaki selama berhari-hari sampai berbulan-bulan untuk menuju pemakaman Santo Yakobus.
Setelah ditutup lebih dari setahun karena pandemi virus Corona, jalur peziarah ini akhirnya kembali dibuka, dan kota Santiago de Compostela kembali ramai peziarah.
Salah satu peziarah yang menyusuri Camino ialah Laura Ferrón, yang pernikahannya berakhir selama penguncian wilayah di Spanyol dan saat ini sedang khawatir kehilangan pekerjaannya karena bank tempatnya bekerja merencanakan PHK besar-besaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia dan dua temannya terbang dari rumah mereka di daerah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, untuk menghabiskan waktu seminggu berjalan kaki sejauh 100 kilometer.
"Kegiatan ini membantu Anda melepaskan beban. Pandemi telah mengajarkan kita untuk lebih mementingkan apa yang kita miliki dan untuk melihat diri sendiri baik-baik," kata Ferrón (33) saat beristirahat di dekat Arzúa.
Desa di perbukitan hijau di barat laut Spanyol itu berjarak sekitar dua hari dari katedral abad pertengahan di Santiago, yang merupakan titik akhir jalur ziarah Santo Yakobus.
Camino de Santiago sebenarnya adalah serangkaian jalur yang membentang di luar Semenanjung Iberia dan menyebar ke seluruh Eropa.
Rute mana pun yang diambil, semuanya berakhir di katedral barok Santiago, di mana orang percaya dapat mengunjungi apa yang dikatakan sebagai makam Yakobus, rasul yang, menurut tradisi Katolik, membawa agama Kristen ke Spanyol dan Portugal.
Jalur ziarah ini berasal pada dugaan penemuan makam pada abad ke-9. Peziarah telah datang ke Santiago selama satu milenium, tetapi jumlah orang yang melakukan perjalanan itu meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir, setelah otoritas regional menghidupkan kembali jalur tersebut.
Saat ini jalur ziarah itu dilengkapi dengan banyak tempat penginapan dan tempat makan yang harganya ramah di kantong.
Lebih dari 340 ribu orang dari seluruh dunia berjalan kaki di "El Camino" pada tahun 2019. Hanya 50 ribu orang yang berjalan kaki tahun lalu, ketika Spanyol memblokir perjalanan asing dan domestik kecuali selama bulan-bulan musim panas.
Sebelum keadaan darurat yang membatasi perjalanan antar wilayah Spanyol berakhir pada 9 Mei, hanya segelintir peziarah Spanyol yang tiba di Santiago setiap hari dan mendaftar ke Kantor Penerimaan Peziarah untuk menerima kredensial resmi mereka karena telah menyelesaikan jalur ziarah.
Sekarang perjalanan kembali diizinkan, lebih banyak orang dari Spanyol dan tempat lain di Eropa berjalan di jalur ziarah ini, meskipun banyak hostel yang melayani para peziarah masih ditutup.
Beberapa ratus orang tercatat tiba di Santiago setiap hari, dibandingkan dengan beberapa ribu peziarah selama musim panas biasa.
Kementerian Kesehatan Spanyol telah melaporkan kematian lebih dari 79 ribu orang akibat COVID-19. Seperti yang terjadi di seluruh dunia, penyakit ini memakan korban terbesar para penduduk lansia di negara itu.
"Bagi orang tua, satu tahun pandemi terasa seperti lima tahun," kata Naty Arias (81) saat berjalan di Camino bersama suaminya yang berusia 84 tahun dan dua putrinya.
"Dan seperti yang dikatakan suamiku, kita tidak punya banyak waktu lagi, jadi kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin."
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Mengobati Luka Batin dalam Jalur Ziarah Santo Yakobus
Peziarah berjalan kaki di jalur Camino de Santiago, Spanyol. (AP/Alvaro Barrientos)
Jumlah peziarah yang tiba di Camino de Santiago selama satu setengah tahun ke depan diperkirakan meningkat, setelah Paus Fransiskus memperpanjang tahun suci 2021 yang didedikasikan untuk Santo Yakobus hingga 2022.
Bagi umat Katolik Roma yang mengambil bagian dalam ziarah, berjalan selama Tahun Yubileum memberi mereka kesempatan untuk menerima indulgensi penuh, yang memberi mereka pengampunan penuh dari hukuman sementara atas dosa-dosa mereka. Tahun Yubileum terakhir untuk menyusuri jalur ziarah itu adalah pada tahun 2010.
Uskup Agung Santiago Julián Barrio mengatakan dia sangat optimis bahwa sekitar 300 ribu peziarah datang tahun ini, selama kecepatan program vaksinasi Spanyol dan situasi kesehatan di seluruh dunia terus membaik. Dia mengharapkan banyak orang datang mencari hiburan dari rasa sakit akibat pandemi.
"Jalan Santo Yakobus, dalam pengertian ini, dapat membantu kita. Ini adalah ruang yang membantu kita memulihkan kedamaian batin kita, stabilitas kita, semangat kita, yang tanpa diragukan lagi kita semua butuhkan, mengingat kesulitan yang kita hadapi dalam menghadapi rasa sakit dan kerusakan akibat pandemi yang terkadang membuat kita tidak bisa berkata-kata," kata Barrio.
Ziarah yang menyembuhkan
Para ahli kesehatan mental setuju bahwa perjalanan ziarah di Camino de Santiago dapat membantu penyembuhan emosional bagi orang yang melakukannya.
Dr Albert Feliu, seorang psikolog kesehatan dan dosen di Universitas Otonom Barcelona, mengatakan hasil awal dari survei terhadap 100 peziarah menunjukkan pengurangan stres dan depresi.
Survei tersebut merupakan bagian dari studi multi-tahun tentang manfaat berjalan di Camino de Santiago yang dilakukan oleh para peneliti klinis dari universitas di Spanyol dan Brasil.
Manu Mariño, direktur Quietud Mindfulness Center di Santiago, juga terlibat dalam penelitian ini. Ia telah menunaikan ziarah sebanyak 24 kali.
"Jalan Santo Yakobus adalah tempat yang sangat baik untuk membantu kita menyadari bahwa penderitaan merupakan bagian dari kehidupan, dan bahwa penderitaan kita bergantung pada bagaimana kita berhubungan dengan apa yang kita alami," kata Mariño.
"Anda belajar untuk hidup hanya dengan apa yang diperlukan, yang berarti persis apa yang dapat Anda bawa dalam ransel."
Vladimir Vala, seorang lulusan universitas berusia 25 tahun di bidang bisnis, datang ke Spanyol untuk berjalan kaki selama tiga minggu sebelum kembali ke Republik Ceko untuk menikah.
Vala merasa mendapat kedamaian saat ia berjalan kaki seorang diri melewati pedesaan.
"Orang-orang sendirian dan mereka harus menghadapi diri mereka sendiri (selama pandemi)," kata Vala setelah mengunjungi katedral.
"Dan saya pikir berjalan kaki di Camino adalah (tentang) menghadapi diri sendiri."
Ferron yang baru saja bercerai memiliki penilaian serupa.
"Jalurnya bagus untuk melatih kesehatan mental Anda, karena selama pandemi semua orang hampir merasa gila akibat dikurung," katanya.
"Beberapa medannya sangat sulit, tetapi pada akhirnya Anda mencapai tujuan Anda dan kemudian Anda mendapat hadiah bir dingin, yang luar biasa."