Pengalaman Simone Biles dan Pentingnya Kesehatan Mental Atlet
CNN Indonesia
Rabu, 28 Jul 2021 19:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Psikolog memberi pendapat terkait keputusan Simone Biles mundur dari final all-around Olimpiade Tokyo 2020 dengan alasan kesehatan mental. (AFP/Loic Venance)
Padahal, Biles tampil cukup baik dalam laganya di semifinal. Sebagaimana dilansir CNN, Biles melakukan Amanar atau gerakan handspring dengan dua setengah putaran di udara sebelum mendarat dengan mulus.
Untuk ukuran peserta Olimpiade, ini sebuah prestasi dan Biles membuatnya 'effortless'. Namun dalam unggahannya di Instagram, ia mengaku bahwa 'beban' yang dipikulnya begitu berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian saat laga pada Selasa (27/7) ia seperti 'tersesat'. Ia hampir mendarat di lututnya dan meninggalkan lapangan nyaris menangis. Beberapa menit kemudian terdengar kabar bahwa Biles tidak akan melanjutkan pertandingan.
Harus diakui keputusan Biles menuai pro dan kontra. Tentu sangat disayangkan jika dia mundur begitu saja terlebih dalam gelaran olahraga bergengsi empat tahunan ini.
Namun Gardenia Junissa Siregar, psikolog klinis di Primaya Hospital Jakarta, mengatakan jika dilihat dari kondisi psikologis, keputusan Biles tepat.
"Ia tau kapan harus melindungi dirinya sendiri dengan menjaga kesehatan mentalnya. Karena mungkin saja sudah banyak permasalahan-permasalahan terkait kondisi psikologis yang selama ini ia pendam, akibat terlalu fokus mengikuti rangkaian persiapan Olimpiade ataupun karena kurangnya dukungan emosional dari lingkungan terdekatnya," kata Gardenia melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Rabu (28/7).
Kemudian, lanjutnya, hal ini makin berat karena merasa mendapat beban pikulan dari seluruh masyarakat AS untuk menang dan mengharumkan negara.
Dari pengalaman Biles, yang perlu disorot adalah pentingnya pembekalan psikologis yang baik, tak hanya soal fisik.
Seandainya tetap dipaksakan bertanding, ini sama sekali tidak membantu meredakan kondisi mental yang sedang tidak stabil.
Gardenia berkata bisa jadi Biles kurang maksimal dalam bertanding. Kalaupun bisa bertanding dengan baik, ia tidak akan merasakan kelegaan atau kepuasan untuk dirinya sendiri.
"Biles lebih mementingkan kepuasan negara atau dalam hal ini orang lain," imbuhnya.
Simak penjelasan psikolog mengenai pentingnya persiapan mental untuk atlet di halaman berikut.
Bersama dengan persiapan fisik, penting untuk juga melakukan persiapan secara mental. Atlet perlu memperoleh pendampingan psikolog termasuk skrining sejak awal untuk mengetahui kondisi psikologis atlet. Jika diperlukan, atlet bisa menjalani konseling dan terapi.
"Penting sekali adanya pendampingan secara psikologis untuk para atlet. Karena beban berjuang untuk negara yang ditanggung diri para atlet mungkin saja banyak mempengaruhi kesehatan mentalnya," kata Gardenia.
Pendampingan perlu dilakukan secara rutin, kemudian atlet juga proaktif menyampaikan jika memang ada keluhan, apa yang dirasakan.
Menurut Gardenia, para atlet rentan sekali mengalami kecemasan. Dia menjelaskan, kecemasan ini tak hanya menyoal menang atau kalah tetapi aspek terbesarnya ini terkait kemampuan diri dalam menjalankan pertandingan dengan baik.
Kecemasan tak pelak meningkat saat diri sendiri dibebani keinginan tampil sempurna dan menuai pujian negaranya.
"Namun tidak jarang juga, terdapat kecemasan-kecemasan lain dari lingkungan sosialnya, baik kecemasan terkait permasalahan kehidupan pribadi atau kecemasan di era pandemi seperti ini. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu kecemasan pada para atlet," imbuhnya.
Meski berada di luar pertandingan atau lapangan, dukungan penggemar atau penonton tetap diperlukan. Kondisi pandemi memang membuat lapangan terasa kosong, tak ada teriakan, yel-yel yang kerap memicu semangat para atlet. Media sosial pun jadi wadah sorakan penonton.
Gardenia menyarankan penonton atau netizen yang memantau pertandingan memberikan motivasi positif buat mereka yang sedang bertanding. Tanpa Anda sadari, komentar-komentar lewat media sosial turut mempengaruhi kondisi kesehatan mental para atlet. Dia menambahkan dukungan yang diberikan harus konsisten.
"Konsisten dalam artian kapanpun atlet ini mengalami kegagalan ataupun kemenangan dukungan harus tetap diberikan untuk menyemangati atlet tersebut. Dukungan konsisten yg tidak memihak tidak menyudutkan seperti inilah yang dibutuhkan untuk para atlet," katanya.
Padahal, Biles tampil cukup baik dalam laganya di semifinal. Sebagaimana dilansir CNN, Biles melakukan Amanar atau gerakan handspring dengan dua setengah putaran di udara sebelum mendarat dengan mulus.
Untuk ukuran peserta Olimpiade, ini sebuah prestasi dan Biles membuatnya 'effortless'. Namun dalam unggahannya di Instagram, ia mengaku bahwa 'beban' yang dipikulnya begitu berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian saat laga pada Selasa (27/7) ia seperti 'tersesat'. Ia hampir mendarat di lututnya dan meninggalkan lapangan nyaris menangis. Beberapa menit kemudian terdengar kabar bahwa Biles tidak akan melanjutkan pertandingan.
Harus diakui keputusan Biles menuai pro dan kontra. Tentu sangat disayangkan jika dia mundur begitu saja terlebih dalam gelaran olahraga bergengsi empat tahunan ini.
Namun Gardenia Junissa Siregar, psikolog klinis di Primaya Hospital Jakarta, mengatakan jika dilihat dari kondisi psikologis, keputusan Biles tepat.
"Ia tau kapan harus melindungi dirinya sendiri dengan menjaga kesehatan mentalnya. Karena mungkin saja sudah banyak permasalahan-permasalahan terkait kondisi psikologis yang selama ini ia pendam, akibat terlalu fokus mengikuti rangkaian persiapan Olimpiade ataupun karena kurangnya dukungan emosional dari lingkungan terdekatnya," kata Gardenia melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Rabu (28/7).
Kemudian, lanjutnya, hal ini makin berat karena merasa mendapat beban pikulan dari seluruh masyarakat AS untuk menang dan mengharumkan negara.
Dari pengalaman Biles, yang perlu disorot adalah pentingnya pembekalan psikologis yang baik, tak hanya soal fisik.
Seandainya tetap dipaksakan bertanding, ini sama sekali tidak membantu meredakan kondisi mental yang sedang tidak stabil.
Gardenia berkata bisa jadi Biles kurang maksimal dalam bertanding. Kalaupun bisa bertanding dengan baik, ia tidak akan merasakan kelegaan atau kepuasan untuk dirinya sendiri.
"Biles lebih mementingkan kepuasan negara atau dalam hal ini orang lain," imbuhnya.
Simak penjelasan psikolog mengenai pentingnya persiapan mental untuk atlet di halaman berikut.
Pentingnya persiapan mental buat atlet
Psikolog memaparkan pentingnya persiapan mental untuk atlet. (REUTERS/Leonhard Foeger)
Bersama dengan persiapan fisik, penting untuk juga melakukan persiapan secara mental. Atlet perlu memperoleh pendampingan psikolog termasuk skrining sejak awal untuk mengetahui kondisi psikologis atlet. Jika diperlukan, atlet bisa menjalani konseling dan terapi.
"Penting sekali adanya pendampingan secara psikologis untuk para atlet. Karena beban berjuang untuk negara yang ditanggung diri para atlet mungkin saja banyak mempengaruhi kesehatan mentalnya," kata Gardenia.
Pendampingan perlu dilakukan secara rutin, kemudian atlet juga proaktif menyampaikan jika memang ada keluhan, apa yang dirasakan.
Menurut Gardenia, para atlet rentan sekali mengalami kecemasan. Dia menjelaskan, kecemasan ini tak hanya menyoal menang atau kalah tetapi aspek terbesarnya ini terkait kemampuan diri dalam menjalankan pertandingan dengan baik.
Kecemasan tak pelak meningkat saat diri sendiri dibebani keinginan tampil sempurna dan menuai pujian negaranya.
"Namun tidak jarang juga, terdapat kecemasan-kecemasan lain dari lingkungan sosialnya, baik kecemasan terkait permasalahan kehidupan pribadi atau kecemasan di era pandemi seperti ini. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu kecemasan pada para atlet," imbuhnya.
Meski berada di luar pertandingan atau lapangan, dukungan penggemar atau penonton tetap diperlukan. Kondisi pandemi memang membuat lapangan terasa kosong, tak ada teriakan, yel-yel yang kerap memicu semangat para atlet. Media sosial pun jadi wadah sorakan penonton.
Gardenia menyarankan penonton atau netizen yang memantau pertandingan memberikan motivasi positif buat mereka yang sedang bertanding. Tanpa Anda sadari, komentar-komentar lewat media sosial turut mempengaruhi kondisi kesehatan mental para atlet. Dia menambahkan dukungan yang diberikan harus konsisten.
"Konsisten dalam artian kapanpun atlet ini mengalami kegagalan ataupun kemenangan dukungan harus tetap diberikan untuk menyemangati atlet tersebut. Dukungan konsisten yg tidak memihak tidak menyudutkan seperti inilah yang dibutuhkan untuk para atlet," katanya.