Menara Pengintai Rahasia di Masjid Jami Angke
Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Minggu, 19 Jul 2015 12:28 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki atap tinggi, agaknya siapa pun tak akan mengira bila, pada masa lalu, bagian atas Masjid Jami Angke ternyata difungsikan sebagai menara pengintai.
Berlokasi di tengah permukiman, masjid ini tak terlihat dari tepi Jalan Pangeran Tubagus Angke. Tersembunyi di balik toko-toko yang berjajar di salah satu jalan besar di Jakarta Utara tersebut.
Masuk ke dalam gang, masjid ini memiliki atap genteng yang sekilas mirip dengan atap klenteng, tanpa aksen Tionghoa yang identik dengan cat merah. Dan pintu utama yang terbuat dari kayu jati bercat cokelat dan berukiran khas Jawa.
"Masjid ini dibangun, pada 1751, oleh para pejuang, untuk mengintai VOC, dan sebagai basis pertahanan," kata Muhammad Habib, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Jami Angke Al-Anwar kepada CNN Indonesia, belum lama ini.
Muhammad Habib adalah keturunan ke-11 dari Pangeran Tubagus Angke. Ia mengetahui secara persis perkembangan daerahnya dari kisah yang dituturkan eyang buyutnya secara turun menurun.
Berlokasi di tengah permukiman, masjid ini tak terlihat dari tepi Jalan Pangeran Tubagus Angke. Tersembunyi di balik toko-toko yang berjajar di salah satu jalan besar di Jakarta Utara tersebut.
Masuk ke dalam gang, masjid ini memiliki atap genteng yang sekilas mirip dengan atap klenteng, tanpa aksen Tionghoa yang identik dengan cat merah. Dan pintu utama yang terbuat dari kayu jati bercat cokelat dan berukiran khas Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muhammad Habib adalah keturunan ke-11 dari Pangeran Tubagus Angke. Ia mengetahui secara persis perkembangan daerahnya dari kisah yang dituturkan eyang buyutnya secara turun menurun.
Pelarian Tionghoa
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Empat tiang dalam Masjid Jami Angke melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)