Geliat Bacaan Anak dan Religi di Tengah Kelesuan Global

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Selasa, 17/05/2016 07:05 WIB
Geliat Bacaan Anak dan Religi di Tengah Kelesuan Global Toko buku di Jakarta. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perayaan Hari Buku Nasional pada hari ini (17/5) dibayangi fakta tentang penyerapan terbesar buku di Indonesia yang secara berurutan didominasi buku anak, buku religi, buku fiksi, baru kemudian buku teks.

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menggunakan data Gramedia dengan pertimbangan jaringan toko buku ini adalah yang terbesar dan sedikit banyak dapat mewakili keseluruhan toko buku.

Buku anak jadi genre paling laku dibanding genre lain tak terlepas dari makin tingginya tingkat pendidikan dan makin mapannya ekonomi orang tua. Faktor tersebut menciptakan budaya menomorsatukan buku sekaligus menjadikan buku sebagai salah satu media pembentukan karakter anak.


Namun pola yang sudah bertahun-tahun ajeg ini sepertinya akan kacau sejak masuknya Big Bad Wolf Books (BBWB) di Indonesia. Sale buku yang diklaim terbesar dengan diskon hingga 80 persen itu pertama kali diadakan di Indonesia pada 30 April-8 Mei 2016.

“Acara itu membuat kita tersadar, ternyata peminat buku di Indonesia besar, minat terhadap buku impor tinggi, dan bacaan berbahasa Inggris bukan lagi kendala. Selama ini, kita hanya memberi perhatian pada buku berbahasa Indonesia,” ujar Ketua IKAPI Rosidayati Rozalina saat ditemui CNNIndonesia.com di kantor IKAPI, Jakarta, pada Senin (16/5).

Menurutnya, tak tertutup kemungkinan BBWB membuat pergeseran tren seperti terjadi di Malaysia, negara asal BBWB. Di sana, BBWB yang digelar sejak 2006 sudah sangat mengancam keberadaan toko buku.

Ida, sapaan akrab Rosidayati, menyebut di ranah buku remaja, yang paling laku adalah buku religi. Sebagai contoh, dalam helatan Islamic Book Fair pada 26 Februari–6 Maret 2016, ada satu judul buku remaja yang, dari sembilan hari penyelenggaraan, laku sembilan ribu eksemplar.

“Karena buku remaja itu bercerita kehidupan remaja, ditulis remaja, dan menggunakan bahasa mereka. Yang seperti itu disukai remaja karena sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Karena itu, ujar Ida, cita-cita idealistis yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku-buku bermutu akan dapat diterima remaja jika cocok dengan formula tersebut.

Pemilik penerbit dan percetakan PT Remaja Rosdakarya Bandung ini mengungkapkan sekarang sedang terjadi kelesuan pasar perbukuan global, termasuk Indonesia.

Belum dapat disimpulkan apa penyebab kelesuan tersebut. Era digital memang mengakibatkan banyak waktu dihabiskan di media digital, tapi bukan e-book, karena masih sangat sedikit angkanya.

Kondisi ini memunculkan ide kreatif toko buku dan penerbit untuk menyiasati sekaligus bertahan. Penerbit Mizan, misalnya, bekerja sama dengan BBWB hingga ampuh menghabiskan stok buku yang mengendap di gudang. Gramedia mengecilkan space rak buku di toko buku dan menggantinya dengan, misalnya, kafe serta menjadikan toko buku sebagai bagian dari gaya hidup.

Ketua IKAPI Rosidayati Rozalina. (Dok. Pribadi)


Kabar baiknya, ujar Ida, kreativitas membuat penulis, penerbit, dan toko buku Indonesia bertahan di tengah kelesuan global. Jika dibandingkan Malaysia, yang sudahlah minim penulis, minim pula buku produksi lokal. Kemampuan rata-rata rakyat Malaysia berbahasa Inggris kali ini jadi petaka.

Masyarakat Malaysia lebih mengandalkan buku impor dan tak banyak membuat buku berbahasa Melayu. Berbeda dengan Indonesia yang banyak buku dihasilkan ilmuwan, selain produktivitasnya tinggi.

“Mereka lebih kagum pada kreativitas dan produktivitas Indonesia,” kata Ida. “Terkait buku agama, mereka lebih konservatif. Islam kita lebih moderat, sahabat Nabi masih bisa digambarkan, sedangkan mereka tidak.  Banyak aturan yang membatasi mereka.”

Peluang ini memungkinkan Indonesia memasarkan buku di sana, seperti buku perguruan tinggi, buku agama, buku anak, buku kesehatan, dan buku-buku sastra.

(vga)