Ulasan Seni

'Finding Identities': Pameran dari Hati untuk Sebuah Aksi

Rahman Indra, CNN Indonesia | Sabtu, 03/12/2016 19:27 WIB
'Finding Identities': Pameran dari Hati untuk Sebuah Aksi Rosa Guerinoni, 15 tahun menggelar pameran lukisan pertamanya bertajuk Finding Identities, yang mengungkap pengalaman saat orangtuanya bercerai ketika ia berumur tujuh tahun, di Pacific Place, Jakarta, 2-5 Desember 2016. (CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dibagi ke dalam tiga seri, lukisan-lukisan itu hadir dengan nuansa emosional yang berbeda.

Seri pertama, terdiri dari dua lukisan, mengawali emosi pelukis saat menerima kabar bahwa kedua orangtuanya akan berpisah.

Berada di dalam mobil, dengan latar dua kursi, pelukis menampilkan sesosok perempuan berwajah sendu. Lukisan lainnya, dengan nuansa masih kelam, sosok perempuan menatap sendu ke depan dengan sapuan kuas gelap di sekitarnya.


Di bagian kedua, terdapat lima lukisan dengan rentang emosi lebih beragam. Ada kebingungan, kontemplasi, merenung, dan satu yang mencolok berwarna meah jambu.

Di salah satu lukisan, sosok perempuan tak lagi sendiri tapi berdua dan tertawa, yang diberi judul Sisters atau bermakna Bersaudara.

Pada bagian ketiga, seri lukisan ini lalu bernuansa lebih optimistis dan ceria. Setelah melewati masa-masa sulitnya, emosi yang ditionjolkan lebih pada pemahaman bahwa kehilangan mesti dihadapi dengan berani.

Tiga seri lukisan yang dipamerkan di Goods Dept Pacific Place, Jakarta dari 1 hingga 5 Desember 2016 itu merupakan karya Rosa Guerinoni, remaja berusia 15 tahun yang duduk di kelas 10, Sekolah Menengah Cikal Amri.

Karya-karya yang dipamerkan merupakan bagian dari IB Middle Year Program Personal Project miliknya.

"Lewat pameran ini, saya ingin menyampaikan pesan mengenai dampak perceraian dalam keluarga, terutama terhadap anak," ungkap Rosa saat ditemui disela-sela pameran.

Dalam pernyataannya, Rosa menyampaikan orangtuanya bercerai saat usianya tujuh tahun. Delapan tahun berlalu dan ingatannya masih membekas di kepalanya dan ia tuangkan dalam sejumlah lukisan di atas cat air, acrylic dan cat semprot kaleng.

"Saya ingin membuka lebih banyak mata akan dampak perceraian, tertama pada anak, seperti yang saya ungkapkan lewat karya ini," ujarnya menambahkan.

Ungkapan emosi

Natisa Jones, yang menjadi kurator pameran mengungkapkan dalam proses pembuatannya Rosa mencoba mengungkap apa yang ia rasa ketika orangtuanya berpisah lewat goresan kuas.

Pada masanya, ia menyadari bahwa saat dirinya merasa tidak nyaman dan sedih, dia menutup diri, dan alam bawah sadarnya berupaya menghapus ingatan itu. Hal itu tergambar dari salah satu karyanya berjudul System Shut Down. Dalam lukisan ini, ia menggambar potret dirinya dikelilingi pita-pita emosi kosong dan sebuah simbol komputer 'shut down' di atas kepalanya.

Pada bagian kedua dari seri lukisannya, pita-pita emosi itu muncul kembali. Bedanya dalam warna yang lebih beragam yang menggambarkan emosi campur aduk. Ada warna ungu yang melambangkan kekecewaan, kuning warna optimistis, hijau ketenangan, merah tanda kasih dan biru saling kepercayaan. Usai perceraian orangtuanya, Rosa dan adiknya Azzurra bebas memilih tinggal dengan ayah atau ibunya. 

Nuansa optmistis yang muncul di bagian ketiga diisi dengan perubahan warna dan juga ekspresi. Sosok gadis yang tadi murung di bagian pertama, bingung di bagian ke-dua, sekarang tersenyum lebar dengan latar merah jambu.

Selain dua lukisan, terdapat satu topeng yang jika dilihat ke dalam bagian matanya, terdapat potret keluarga, sang pelukis dengan kedua orangtuanya dan adik perempuan, yang utuh. Seolah menggambarkan bahwa mereka berempat tetap abadi di dalam kepalanya, meski pada kenyataannya telah berpisah.

Kolaborasi RosaG X Kle

Karya Rosa Guerinoni, seorsang remaja 15 tahun.Karya seni Rosa Guerinoni berkolaborasi dengan desainer fesyen, Kle. (Foto/CNN Indonesia/Rahman Indra)
Selain memamerkan 10 karya seninya, tak jauh dari lukisan tersebut, terdapat sejumlah pakaian, kaos, jaket bomber, scarf, tote bag dan hoodie yang mencetak persis objek lukisan milik Rosa.

Ada juga beberapa kaos dengan tulisan di bagian tengahnya 'I am Brave'.

Ini menjadi bagian kolaborasi Rosa dengan desainer fesyen Kle. Beberapa objek lukisannya, terutama di seri kedua, seperti wajah yang bingung dan pita aneka warna menjadi motif cetak di bagian depan kaos, atau di seluruh bagian jaket bomber.

Beberapa potongan busana, dan merchandise ini cukup menarik dan mencuri perhatian, terutama dengan tagline, I am Brave yang diusungnya.

"Ungkapan 'Saya Berani', menjadi wujud optimistis Rosa dalam menghadapi masa-masa sulit yang dialaminya, dan ia ingin mereka di luar sana yang mungkin bernasib sama, juga menjadi berani," ungkap Teges Prita Soraya, ibu dari Rosa.

Disampaikan Teges, bagi seorang Rosa yang pendiam dan suka menutup diri, menyampaikan pesan itu merupakan sebuah langkah berani. Termasuk ia berani dalam menampilkan ekspresinya untuk dipamerkan, dan ditonton banyak orang.

"Pameran ini sekaligus menjadi healing process, menyembuhkan luka yang pernah ia alami, untuk bangkit kembali," ujarnya menambahkan.

Setiap item merchandise dijual dengan rentang harga berbeda, dari Rp85 ribu untuk kaos, Rp100 ribu untuk tote bag, Rp300 ribu untuk scarf dan Rp850 ribu untuk jaket bomber. Semua hasil penjualan merchandise digunakan untuk mendanai situs yang dibuat Rosa untuk sosialisasi dan meningkatkan kesadaran pada masyarakat akan dampak perceraian pada anak bertajuk sama dengan judul pameran yang diusungnya.

Sebuah Aksi Peduli

Gagasan Rosa tidak hanya berhenti di pameran, dan kemudian kolaborasi seni dan fashion, tapi juga berujung pada sebuah aksi peduli, lewat situs findingidentities.com.

Di dalam situs terdapat beberapa fitur pilihan, fokusnya yakni sosialisasi dan pemahaman akan dampak perceraian. Fokus utamanya dibagi dua yakni artikel pengetahuan yang ditujukan untuk orangtua, dan artikel untuk anak-anak, dalam menghadapi proses perceraian.

Beberap artikel memuat tentang bagaimana menghadapinya secara emosional dan berbagai tindakan yang perlu dilakukan.

Rosa juga menyertai sejumlah kaitan situs yang berguna bagi keluarga yang menghadapi perceraian, termasuk dengan kaitan ke situs psikolog, terapi keluarga dan art therapy.

"Rosa sendiri menajalani Art Therapy, bagaimana ia kemudian mendapat terapi untuk membangkitkan bakat seni yang ada dalam dirinya," ujar Teges. 

Proses yang diawali sejak delapan tahun lalu, ketika menghadapi perceraian orangtuanya, membuat Rosa bertumbuh dan ekspresif lewat karya seni.

Menyaksikan lukisan serta sejumlah catatan jujurnya di hampir setiap lukisan, membuat hati tersentuh. Bahwa kemudian ada kekuatan untuk menceritakan rasa perih akan kehilangan itu, memberi nilai lebih dari pameran yang dihadirkan Rosa kali ini. (rah/rah)