Goresan Tangan 'Picasso Cilik' Afghanistan untuk Bocah Serbia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 10/08/2017 08:23 WIB
Goresan Tangan 'Picasso Cilik' Afghanistan untuk Bocah Serbia Seorang bocah Afghanistan yang dijuluki Picasso cilik menggelar pameran lukisan. (Ilustrasi/skeeze/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Delapan bulan sudah Farhad Nouri tinggal di kamp pengungsian di Belgrade, Krnjaca. Bersama orang tua dan dua adik laki-lakinya ia meninggalkan rumah di Afghanistan dua tahun lalu.

Mengutip Independent, mereka sempat melintasi Yunani dan Turki sebelum tiba di Serbia.

Tak dipungkiri, masa kecil Farhad sangat berat, sebelum akhirnya menemukan hidup damai di Eropa barat. Namun ia punya cara sendiri untuk membuat dirinya bahagia: seni.



Ketika menggambar, Farhad mengaku tidak memikirkan hal lain. Maka begitulah ia berdamai dengan perang di dunianya. “Hanya orang-orang di sini yang memahami [betapa hidup sangat berat]. Itu sangat buruk bagi saya,” Farhad pernah mengungkapkan soal hidupnya.

“Jika Anda menghabiskan waktu satu minggu di kamp pengungsian itu, Anda akan gila. Tapi saya merasa baik-baik saja ketika saya menggambar,” tuturnya melanjutkan.

Ia tidak memikirkan betapa keras perang di Afghanistan. Bocah 10 tahun merasa rileks.


Farhad mulai menggambar sejak usia enam tahun. Meski masih kecil, teknik menggambarnya sudah jago. Ia banyak melukis sketsa orang-orang yang menginspirasinya, termasuk Novak Djokovic, Cristiano Ronaldo, Angela Merkel, Slavador Dali, dan Pablo Picasso.

“Waktu saya mulai melukis di usia enam tahun, saya tidak bisa menggambar seperti yang saya lakukan sekarang. Sekarang hal favorit saya adalah menggambar wajah dan potret,” tuturnya.

Farhad merasa nyaman saat menggambar wajah orang-orang yang diidolakannya itu. “Terutama Picasso, karena dia adalah seniman favorit saya.” Tak heran ia disebut ‘Picasso cilik.’

Picasso adalah sosok yang menginspirasi Farhad.Picasso adalah sosok yang menginspirasi Farhad. (REUTERS/Darren Ornitz)
Kini, sang Picasso cilik bahkan sudah punya pamerannya sendiri. ‘We Need Kindness—The Dream of a Ten-Year-Old’ nama pamerannya. Farhad tak hanya ingin memamerkan karya-karyanya ke dunia lewat itu, tetapi juga mengubah pola pikir orang tentang seni dan konflik.

Pameran itu juga akan mengubah cara pandang orang akan anak imigran.

Yang lebih luar biasa, Farhad mendedikasikan pamerannya untuk mengubah hidup seorang bocah Serbia berusia tujuh tahun. Keluarga bocah itu sedang mencari dana untuk membantu membayar biaya pengobatan di sebuah klinik di Paris. Mendengar itu, Farhad langsung ingin membantu.


“Saya tidak ingin ada seorang anak pun di dunia yang takut akan sesuatu,” tegasnya.

Ia tidak menjual lukisannya untuk mendapat uang. Alih-alih, ia menyediakan kotak bagi mereka yang ingin menyumbang si bocah sakit. “Saya ingin membantunya dan menunjukkan ke orang lain bagaimana mereka bisa membantunya menunjukkan kebaikan mereka,” tuturnya.

Pameran itu sendiri diselenggarakan di Slow Cafe di Belgrade, Rabu (9/8). Tak sendiri, Farhad mengatur pameran itu bersama Help Refugees, Refugees Foundation Serbia dan sekolah fotografi terkenal di Serbia: Fabrika Fotografa. Semua kagum pada tekad Farhad.