Mengenang Seni I Nyoman Gunarsa yang Mengejutkan Jokowi

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 11/09/2017 08:50 WIB
Mengenang Seni I Nyoman Gunarsa yang Mengejutkan Jokowi Mastero seni lukis I Nyoman Gunarsa meninggal dunia pada Minggu (10/9). (Ilustrasi/skeeze/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Awal Agustus lalu, I Nyoman Gunarsa masih menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo dan Iriana di museumnya di Klungkung, Bali. Namun Minggu (10/9) kemarin, sang maestro seni lukis Bali mengembuskan napas terakhir di ruang intensif RSUP Sanglah Denpasar.

Seperti diberitakan Antara, Gunarsa meninggal setelah sekitar tiga hari dirawat intensif di rumah sakit itu. Menurut salah satu karyawan di museumnya, Gunarsa dilarikan ke rumah sakit karena jantung. Di rumah dukanya di Jalan Raya Banda Nomor 1-Takmung, Angkan Klungkung, sang seniman 73 tahun meninggalkan seorang istri, tiga anak dan tujuh cucu.

Belum dipastikan kapan akan diadakan upacara ngaben untuk Gunarsa.



Gunarsa merupakan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Namun ia bukan sekadar pengajar. Nama Gunarsa pun melegenda karena lukisannya. Ia pernah pameran tunggal di berbagai daerah di Indonesia, juga Australia, Belanda, Jepang, dan Singapura.

Perancis, Monako dan Amerika Serikat pun pernah dibuat terkagum-kagum oleh lukisannya.

Baru-baru ini, ia membuat Jokowi kagum dengan menunjukkan lukisan sang presiden sedang meminum jamu. Foto lukisan itu dibawa Gunarsa saat diundang Jokowi dan Iriana ke Istana Kepresidenan, April lalu. Saat itulah ia mengundang balik Jokowi ke museumnya.


Kunjungan balasan dilakukan Jokowi pada Agustus. Di museum Gunarsa yang luas, Jokowi kembali dibuat berdecak kagum. “Kok Pak Nyoman tahu saya suka minum jamu,” katanya.

Museum itu sendiri, yang dinamai Museum Seni Lukis Kontemporer Indonesia Nyoman Gunarsa, didirikan sekitar tahun 1990. Bukan hanya lukisan yang dipamerkan Gunarsa di museumnya. Ia juga menyimpan keris dan benda-benda lain yang punya nilai seni serta sejarah nan tinggi.

Bukan hanya sekali Gunarsa melukis Jokowi. Lukisan terakhirnya sebelum menutup mata pun tentang Jokowi. Judulnya ‘Alahkah Indahnya Indonesia jika Semua Presiden Bersatu.’


Lukisan itu ada di rumahnya di Klungkung, digambar di atas kanvas 4x9 meter. Memang tak hanya memajang Jokowi yang memainkan wayang kulit selayaknya dalang. Dalam lukisan itu ada pula Megawati, Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan BJ Habibie dan Soeharto.

Seperti Jokowi, mereka juga menjadi sosok di balik layar pementasan wayang.

Menurut sang istri Indrawati, Gunarsa sudah sakit saat melukis itu.

Gunarsa melukis sejak 1970-an. Namun baru sekitar 1980-an ia berubah gaya menjadi ekspresionis. Gunarsa pernah mengatakan, ia melukis seperti bermain musik. Tak heran jika lukisannya seakan puya ritme yang indah. Liukan garis dan warnanya serasi.


“Saya menggambar garis seperti menyanyi dan menempati warna seperti menari,” tuturnya.

Karya-karya Gunarsa dibukukan dalam beberapa buku yang rilis pada 1990-an dan 2004.

Tak sekadar melukis, Gunarsa juga termasuk seniman yang vokal soal kesetaraan status pencipta budaya itu dengan pejabat kenegaraan. Menurutnya, seperti pernah diberitakan Antara, seniman seharusnya duduk sejajar dengan kepala negara di acara-acara.


“Bukan malah di belakang sehingga peran dan kiprahnya tak terlihat,” katanya.

Ia merasa ironis saat seniman sudah memeras kemampuan untuk berkarya dan menjadi tonggak keberadaban suatu bangsa, namun banyak yang hidupnya susah. “Banyak seniman hebat di Indonesia, tapi hidupnya beratap langit. Ini sungguh ironi,” ia mengungkapkan. (rsa)