Ulasan Film: 'Pengabdi Setan'

Resty Armenia, CNN Indonesia | Kamis, 28/09/2017 08:11 WIB
Ulasan Film: 'Pengabdi Setan' Telah dinanti sejak lama, Joko Anwar harus menghadapi tantangan ekspektasi penonton atas 'Pengabdi Setan' yang dikenal sebagai film horor legendaris Indonesia. (Dok. Rapi Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akhirnya karya yang dinanti banyak penggemar film horor telah datang. Sinema horor ikonis lawas Pengabdi Setan (1980) kembali dibangkitkan oleh Joko Anwar.

Ekspektasi penggemar terhadap film garapan ulang ini bisa dibilang cukup tinggi. Pasalnya, Pengabdi Setan versi asli dipenuhi karakter dan adegan ikonis yang membekas di benak penontonnya, bahkan hingga saat ini.

Sebut saja sejumlah karakter seperti Karto yang diperankan HIM Damsyik, sosok penjaga rumah sakit-sakitan yang bila muncul kadang mengagetkan. Selain itu, ada pula Darminah (Ruth Palupessi), pembantu rumah tangga yang aneh dan ternyata pengabdi makhluk gaib.



Meski dibuat pada 1980, hantu-hantu yang bergentayangan terbilang menyeramkan dan revolusioner, yakni mayat yang bangkit dari kubur berbalut kain putih compang-camping, alih-alih dedemit tipikal film lokal seperti kuntilanak, genderuwo atau pocong.

Riasan hantu yang muncul di Pengabdi Setan lawas pun terbilang amat mengerikan untuk masa itu. Bahkan ada yang menyebut hantu di film ini sebagai zombie yang disesuaikan dengan kearifan lokal. Dengan berbagai 'prestasinya' itu, tak heran, ia sempat disebut sebagai film horor Indonesia terseram.

Poster film 'Pengabdi Setan' versi 1980. (dok. Rapi Films)Poster film 'Pengabdi Setan' versi 1980. (dok. Rapi Films)
Kini, Rapi Films menggandeng rumah produksi raksasa Korea Selatan CJ Entertainment untuk membangkitkan kembali kisah keluarga yang diteror oleh hantu sang ibu. Saking totalnya, bangku sutradara sekaligus penulis skenario diisi oleh Joko Anwar sendiri.

Kisah dibuka dengan masalah finansial keluarga Rini (Tara Basro) yang kehabisan uang untuk biaya pengobatan sakit sang ibu (Ayu Laksmi). Penyakit yang begitu parah membuat ibu Rini tak mampu menggerakkan tubuhnya dan hanya berbaring di tempat tidur.

Untuk memanggil dan meminta bantuan, ibu Rini harus membunyikan lonceng.

Berbagai upaya dilakukan keluarga Rini untuk mendapatkan uang tambahan, termasuk meminta royalti milik sang ibu yang sempat berkarier di dunia tarik suara, sebelum akhirnya jatuh sakit selama tiga setengah tahun tanpa diketahui penyebabnya.


Anak kedua keluarga itu, Tony (Endy Arfian), pun rela menjual sepeda motor dan barang pribadi lainnya demi menolong keluarganya. Sang ayah (Bront Palarae) pun harus berhemat dan sesekali bekerja ke luar kota karena harus tetap membiayai keempat anaknya.

Upaya keluarga untuk membuat sang ibu sembuh dari penyakitnya gagal setelah Rini menemukan sang ibu terjatuh di lantai kamarnya dan menghembuskan nafas terakhir.

Kematian sang ibu ternyata jadi awal dari teror di rumah keluarga Rini. Ia dan ketiga adiknya didatangi oleh sosok yang menyerupai sang mendiang ibu. Situasi ini diperparah dengan kondisi ayah yang harus meninggalkan mereka untuk bekerja di luar kota.

Rini, ketiga adik, serta neneknya yang berada di rumah secara interns menghadapi penampakan hantu mengerikan: ibunya sendiri.

Rini dan keluarganya menemukan sang ibu jatuh lalu meninggal dunia. Rini dan keluarganya menemukan sang ibu jatuh lalu meninggal dunia. (Dok. Rapi Films)
Teror demi teror berdatangan silih berganti. Untuk mengungkap misteri rentetan kejadian mencekam itu, Rini bahkan harus meminta bantuan kepada kiai di kampungnya, dan paranormal sekaligus kawan neneknya yang tinggal di kota.

Rini ingin tahu satu hal: mengapa roh ibunya menghantui keluarganya sendiri?

Sebagai garapan ulang sebuah film horor ikonis, Joko tentu tahu banyak penonton yang akan membandingkan karyanya dengan film aslinya.

Meski demikian, boleh dibilang, Joko berhasil memanfaatkan keuntungan menjadi sineas masa kini, yakni teknologi yang lebih canggih dan sumber referensi perfilman yang lebih banyak sehingga bisa membuat karya lebih baik dari versi orisinal.


Ekspektasi tinggi itu berhasil dipenuhi oleh Joko. Ia sukses menggarap Pengabdi Setan menjadi kisah yang tak berhenti meneror penonton selama 107 menit. Meski sesekali dibumbui dengan drama keluarga nan manis dan jenaka, unsur mengagetkan (jumpscare) dari film ini tetap membuat bulu kuduk berdiri.

Atmosfer horor Pengabdi Setan versi baru didukung oleh sinematografi dan penataan suara yang ciamik. Latar waktu ’80an yang diambil pun tergambar apik lewat bentuk detail rumah dan properti lain, seperti alat makan, kendaraan dan busana para pemainnya.

Joko pun berhasil mengeksplorasi dan memperkaya karakter yang muncul dalam film ini. Hasilnya, tak hanya konflik dan alur cerita yang masuk akal, tapi juga drama tentang eratnya hubungan keluarga lebih terasa.

[Gambas:Youtube]

Sumber ketakutan bukan hanya dari unsur jumpscare, tapi juga dari ekspresi para pemain yang total dan suara mencekam yang datang dari denting lonceng yang menjadi penanda bahwa ibu sedang ‘berada’ di rumah. Porsi kemunculan para hantu juga pas, tidak kurang atau berlebihan.

Salah satu kekuatan dari Pengabdi Setan versi 2017 adalah riasan para hantunya, terutama sang ibu. Mulai dari ibu yang masih menjadi penyanyi, menjadi pesakitan hingga akhirnya menjadi hantu, riasannya sangat mengerikan.

Padahal, seluruh hantu yang muncul tidak menggunakan efek CGI (computer-generated imagery), hanya mengandalkan riasan, kostum, dan kemampuan akting para pemain.


Kekurangan film ini mungkin hanya terlihat dari beberapa pengucapan yang terdengar kaku. Untuk menyesuaikan dengan latar waktu, para pemain yang mayoritas anak muda masa kini ini harus menggunakan gaya bahasa ‘80an. Beberapa kali mereka terdengar sedikit kaku dalam mengucapkan kata seperti ‘kau’ dan ‘tidak.’

Pada akhirnya, Pengabdi Setan bisa disebut sebagai karya reinterpretasi yang sangat baik dari versi aslinya. Film ini sangat menghibur dan tidak menuntut penonton untuk menyaksikan film terdahulu karena cerita yang cukup berbeda.

[Gambas:Instagram]