Review Film: Pemburu di Manchester Biru

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 24/07/2020 19:20 WIB
Review Film Pemburu di Manchester Biru menilai bahwa glorifikasi yang masih digunakan dalam film ini tak membantu penjualan atau kualitas film. Review Film Pemburu di Manchester Biru menilai bahwa glorifikasi yang masih digunakan dalam film ini tak membantu penjualan atau kualitas film. (Dok.Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sulit rasanya memberikan pujian pada film Pemburu di Manchester Biru yang sejak beberapa waktu lalu tersedia di layanan streaming Netflix. Dari awal sampai akhir saya tidak merasa ada bagian dari film ini yang layak dipuji.

Sebenarnya, cerita film yang diadaptasi dari novel non fiksi bertajuk sama karya Hanif Thamrin ini menarik, mengisahkan pengalaman Hanif mencari kerja di Inggris setelah lulus magister sampai akhirnya bekerja di klub sepakbola Manchester City.

Sayangnya eksekusi cerita menarik itu terasa kurang baik. Naskah film yang ditulis Titien Wattimena seperti belum matang, atau seperti dikerjakan terburu-buru mengejar tenggat waktu.


Hal itu terlihat dari mayoritas dialog antara Hanif (Adipati Dolken) dengan Pringga (Ganindra Bimo) terasa kaku. Padahal mereka berdua digambarkan sebagai sahabat yang sangat dekat.

Alhasil, banyak adegan dialog Hanif dan Pringga terasa memaksakan dan bahkan membosankan.

Padahal, ada beberapa adegan mereka berdua yang seharusnya bisa menggugah emosi, misalnya ketika mereka saling menolong di saat sulit. Tapi hal itu tidak menggugah lantaran dialog terasa kaku.

Bukan hanya itu, konflik yang dibangun antara Hanif dengan Pringga terasa dipaksakan seperti film televisi. Pada suatu adegan seketika Hanif marah kepada Pringga karena masalah yang sebenarnya sudah lama mereka lalui.

Memang tidak ada salahnya membuat konflik dalam film demi keberlangsungan cerita. Tetapi adegan seperti itu akan lebih baik bila dikemas dengan halus, tidak seperti film televisi.

Pemburu di Manchester BiruReview Film Pemburu di Manchester Biru menilai bahwa glorifikasi yang masih digunakan dalam film ini tak membantu penjualan atau kualitas film.: (dok. Oreima Films/Inti Makmur Internasional via YouTube)

Belum lagi ada beberapa adegan yang bertujuan untuk melucu tapi gagal dan sama sekali tidak jenaka. Salah satunya ketika Pringga mengaku meretas kata sandi surel Hanif sehingga bisa mengaksesnya atau ketika Hanif berdamai dengan Pringga.

Semua itu diperparah dengan kualitas akting Adipati dan Ganindra yang buruk. Akting Adipati dalam film ini seperti setengah hati, tidak total. Entah mengapa hal itu terjadi karena biasanya akting aktor ini tergolong bagus.

Selain sejumlah kekerangan besar di atas, ada pula beberapa kekurangan kecil dalam film ini. Meski kecil, hal itu cukup mengganggu.

Salah satunya adalah penggunaan dialek Minang yang tidak konsisten. Pada adegan kilas balik, Hanif diperlihatkan berbicara dengan ayahnya, Thamrin Manan (Donny Alamsyah). Terkadang Manan berdialog Minang, kadang tidak.

Mungkin bagi sejumlah orang ini sepele, tapi bagi saya ini amat mengganggu. Lebih baik sama sekali tidak menggunakan dialek Minang dibanding menggunakan tetapi tidak konsisten.

Kekurangan lain dalam film ini adalah fakta yang tidak tepat. Ketika berhasil bekerja di Manchester City, ada adegan yang memperlihatkan seseorang berkata bahwa dalam sejarah belum pernah ada orang Indonesia yang bekerja di klub bola itu.

"Dia (Hanif) bikin video tentang pekerjaannya di Manchester Club, dan belum pernah ada dalam sejarah Indonesia orang bekerja di Manchester Club," kata seorang karakter.

Klaim tersebut terbilang salah dan fatal mengingat film ini dibuat dari novel non-fiksi alias berdasarkan kisah nyata. Hanif bukanlah orang Indonesia pertama, apalagi satu-satunya yang bekerja di Manchester City.

Hanif Thamrin sendiri, selaku penulis novel, mengakui ia bukan orang Indonesia pertama dan satu-satunya bekerja di Manchester City.

Walaupun, Hanif ngotot bahwa ia tetap orang Indonesia pertama dan satu-satunya karena bekerja sebagai pembuat konten berbahasa Indonesia dan bisa langsung berinteraksi dengan manajer serta pemain City.

[Gambas:Youtube]



Bisa jadi hal ini merupakan glorifikasi agar materi, baik buku yang kemudian diangkat menjadi film, bisa berpeluang laku. Hal ini juga diakui sendiri oleh Hanif dalam wawancara dengan sejumlah media.

Tapi, nampaknya alasan itu gagal karena film yang tayang di bioskop Februari lalu ini kurang laris. Bahkan kurang dari satu pekan, Pemburu di Manchester Biru sudah turun layar.

Sehingga, mengacu pada penjelasan saya dalam ulasan ini, tak heran bila Pemburu di Manchester turun layar dalam waktu kurang dari satu pekan.

(end)