Beda Selera Drama Korea di Televisi dan Streaming

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 05:40 WIB
Perbedaan jauh selera penonton internasional via layanan streaming dengan penonton televisi Korea memaksa industri drakor menyesuaikan diri. The King: Eternal Monarch menjadi drama yang merepresentasikan fenomena baru akibat keberadaan layanan streaming. (dok. SBS via HanCinema)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkembangan layanan streaming dalam beberapa tahun terakhir memengaruhi capaian rating drama Korea di saluran televisi nasional dan kabel Korea Selatan.

Drama Korea yang biasanya mampu mendapatkan rating rata-rata hingga 30 persen, kini sebagian besar hanya bertahan di kisaran 6-10 persen.

The King: Eternal Monarch dan It's Okay to Not Be Okay menjadi drama yang merepresentasikan hal tersebut. Drama bertabur bintang besar seperti Lee Min-ho dan Kim Soo-hyun ini hanya mendapatkan rating rata-rata 6-8 persen di tiap episodenya.


Padahal, kedua drama tersebut menjadi ajang kembalinya kedua aktor besar itu ke layar kaca setelah hiatus karena menjalani wajib militer.

Di sisi lain, kedua drama tersebut berhasil menarik perhatian penonton internasional dan termasuk menjadi drama Korea yang paling banyak dicari bahkan terpopuler di Netflix.

Salah satu petinggi industri drama Korea yang enggan disebutkan namanya menyatakan hal tersebut membuat banyak rumah produksi lebih memilih 'mempercayakan' proyek kepada Netflix.

Layanan streaming seperti Netflix berani membiayai sebagian besar hingga seluruh biaya produksi. Hasilnya pun bisa disaksikan masyarakat di 190 negara.

Rumah-rumah produksi kemudian mulai menyesuaikan drama yang dibuat dengan selera penonton layanan streaming atau jaringan-jaringan internasional yang hendak membeli mengimpor drama Korea.

"Sebagian besar ingin drama komedi romantis yang pemeran utamanya tampan atau nama besar untuk dibawa ke negara mereka. Ketika kami menawarkan genre medis, 90 persen pembeli internasional kurang tertarik," kata pelaku industri drama Korea tersebut.

"Penonton internasional memiliki sentimen yang benar-benar berbeda. Mereka menyukai busur cerita serta pengembangan karakter. Ada atau tidaknya aktor besar juga memengaruhi itu," ucapnya.

Busur cerita merupakan cara narasi atau konstruksi kronologis alur dalam cerita yang biasanya terdiri dari lima bagian yakni pengenalan karakter, muncul masalah (aksi meningkat), klimaks, jatuh aksi, serta resolusi.

It's Okay to Not Be Okaydok. tvN via HancinemaIt's Okay to Not Be Okay menjadi drama yang merepresentasikan fenomena baru akibat keberadaan layanan streaming. (dok. tvN via Hancinema)

Sedangkan penonton di Korea Selatan disebut memiliki selera yang berbeda daripada penonton internasional.

"Mereka meminta tim produksi drama tak hanya fokus pada genre romansa dan menginginkan genre lain," tuturnya seperti dilansir Korea Times.

Hal tersebut terlihat dari data Nielsen Korea seperti drama keluarga, slice of life dan romansa Once Again yang kembali mencatatkan rating dua digit dalam beberapa pekan.

Drama misteri seperti Flower of Evil dan The Good Detective juga mendapatkan rating tertinggi dibandingkan drama-drama lain yang tayang di saat bersamaan.

Hal serupa disampaikan beberapa ahli. Pengamat budaya pop Kim Hern-sik yang mempertegas beberapa perbedaan selera penonton lokal dan internasional ketika menyaksikan drama Korea.

"Penonton Korea mengamati dan menyukai realisme, sementara penonton internasional tidak," tutur Kim Hern-sik.

"Sehingga banyak penonton lokal merasa drama The King: Eternal Monarch payah dalam mengangkat realisme, tapi penonton internasional tak peduli dan tak mempermasalahkan itu," ia menegaskan.

Sementara itu, kritikus drama sekaligus profesor Bahasa dan Budaya Korea Universitas Nasional Chungbuk Yun Suk-jin mengatakan perlahan selera penikmat drama Korea internasional juga berubah dan tidak hanya mementingkan nama-nama besar semata.

"Artis seperti Lee Min-ho bisa menarik perhatian banyak penonton global dan membantu dramanya bertumbuh. Tapi seiring berjalannya waktu, penonton global juga akan memprioritaskan kualitas drama dan bukan hanya aktor," ucap Yun Suk-jin.

Tim produksi mengamini hal itu. Mereka menyatakan terus berusaha meningkatkan kualitas drama Korea supaya bisa mendapatkan rating tinggi di dalam negeri dan populer di luar negeri.

"Kami juga percaya bahwa kualitas tinggi dapat membawa kami lebih banyak pengakuan masuk dan keluar dari Korea." ucapnya.

(chri/end)