Jubir: Wapres Tak Kampanye Anak Muda Indonesia Tonton K-Pop

CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 17:02 WIB
Jubir jelaskan pernyataan Wapres Ma'ruf Amin hanya menyampaikan fakta soal anak muda Indonesia yang mengenal K-pop dan gemar menonton drama Korea. Jubir menjelaskan pernyataan Wapres Ma'ruf Amin berdasarkan beberapa fakta, seperti anak muda Indonesia yang mengenal K-pop dan gemar menonton drama Korea. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Wakil Presiden Indonesia, Masduki Baidlowi meluruskan sejumlah kabar miring dan kesalahpahaman terkait pernyataan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dalam memperingati 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia.

Masduki menjelaskan pernyataan Wapres sejatinya berdasarkan beberapa fakta, seperti kondisi anak muda di berbagai pelosok Indonesia yang sudah mulai mengenal artis K-pop dan gemar menonton drama Korea.

"Ini merupakan fakta yang tak bisa dibantah. Bila dipahami dengan tenang, Wapres tidak sedang kampanye agar anak muda Indonesia menonton K-Pop," kata Masduki melalui keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (24/9).


"Wapres sekadar menjelaskan fenomena terkini terkait budaya populer Korea yang sudah masuk dan mempengaruhi anak muda Indonesia," lanjutnya.

Ia juga menyatakan sejatinya ekspansi budaya pop Korea tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan mancanegara, sehingga hal tersebut sudah dikenal sebagai Hallyu Wave sejak dekade '90-an.

Fakta lain yang disebutkan adalah Korea berhasil mengemas budaya pop menjadi bisnis yang menambah devisa negara, seperti nilai ekspor industri musik korea, pada 2018 mencapai US$564,2 miliar.

"Inilah yang semestinya menjadi inspirasi anak muda Indonesia," ucap Masduki. "Titik tekan Wapres adalah agar kita bisa belajar dari kemajuan Korea. Kita jangan sekadar menjadi konsumen produk kebudayaan populer Korea."

"Tapi kita belajar dan mengambil inspirasi dari pengalaman Korea, khususnya dalam suksesnya mengenalkan budaya ke mancanegara," kata Masduki.

Masduki juga membantah kabar bahwa Wapres Ma'ruf Amin mengabaikan wabah karena membicarakan tentang musik di tengah pandemi Covid-19.

Menurutnya, hal itu merupakan satu dari sekian banyak aspek yang disinggung dalam apresiasi kerja sama Korea dan Indonesia selama ini, termasuk produksi alat kesehatan selama pandemi.

TO GO WITH Entertainment-Malaysia-SKorea-music-Kpop,FOCUS by Julia ZappeiIn this photograph taken on January 16, 2013, South Korean K-pop band Epik High (R) greet their fans on the red carpet on the final day of the 27th Golden Disk Awards at the Sepang International Circuit in Sepang outside Kuala Lumpur.  Organisers said the annual Golden Disk Awards, viewed as the Korean Grammys and which included occasionally racy performances by some of K-pop's biggest acts, saw more than 15,000 tickets sold for January 15-15. Malaysia became the second country outside South Korea to host the awards, as K-Pop's bubble-gum tunes and dance moves continue to defy language barriers and find fans around the world.      AFP PHOTO / MOHD RASFAN (Photo by MOHD RASFAN / AFP)Ilustrasi penggemar K-Pop. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)

Pada akhir pekan lalu (20/9), Wapres Ma'ruf Amin menyinggung tren budaya Korea di Indonesia. Ia sempat mengatakan ketertarikan anak muda Indonesia terhadap Korea juga telah mendorong peningkatan wisatawan Indonesia ke Korea beberapa tahun belakangan ini.

Ia juga berharap sebaliknya, wisatawan Korea juga bisa semakin banyak datang ke Indonesia.

Ma'ruf juga melihat peluang tren K-Pop dan Drama Korea yang menjamur jadi potensi untuk dijadikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam membawa budaya Indonesia ke kancah internasional.

Namun pernyataan tersebut kemudian disebut disalahartikan sekelompok pihak sebagai bentuk merendahkan kualitas musik Indonesia di bawah Korea.

Bukan hanya itu, pernyataan itu juga dianggap memberi dukungan untuk terus menonton video musik Korea, bahkan sempat dipersepsikan mengajak menyaksikan tontonan yang vulgar.

(chri/end)

[Gambas:Video CNN]