RUNTAI SELEB

Zara Adhisty, Merasa Hoki Main Film dan Ingin Jadi Antagonis

Naely Himami, CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 18:51 WIB
Wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Zara Adhisty, bicara soal karier di film hingga hobi aktris muda berbakat tersebut. Zara Adhisty bicara soal kariernya sebagai aktris. (Asep Syaifullah/detikHOT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan idol girl group JKT48, Zara Adhisty mengaku sudah tidak sabar untuk segera melihat film terbarunya yang berjudul Patriot Taruna: Virgo and The Sparklings segera tayang.

Gadis kelahiran Bandung, 21 Juni 2003 ini bercerita bahwa ia masih melakukan proses syuting yang berlokasi di Bandung dan Jakarta.

"Jadi ini pas banget baru selesai syuting buat film baru sekitar seminggu yang lalu. Masa-masa libur cuma diisi sama kegiatan lain " kata Zara saat berbagi cerita dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Lantaran pandemi Covid-19, obrolan CNNIndonesia.com dengan Zara hanya bisa melalui komunikasi virtual. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Zara untuk berbagi cerita menarik seputar kariernya di dunia film dan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dalam hidupnya selama menjadi bagian dari dunia seni peran.

Nama Zara Adhisty kini menjadi salah satu artis muda yang mulai diperhitungkan di dunia layar lebar Indonesia. Gadis yang saat ini berusia 17 itu mengawali kariernya sebagai penyanyi sebagai anggota idol grup JKT48 sejak 2016.

Setelah empat tahun dikenal publik sebagai seorang penyanyi, tepatnya pada 2019 Zara Adhisty memutuskan untuk berhenti dari JKT48. Keputusan itu ia ambil karena ingin fokus untuk berkarier di dunia akting.

Meskipun banting stir ke dunia akting, Zara tetap semangat dan justru menemukan banyak hal yang menyenangkan.

Saat kamu memutuskan untuk beralih menjadi pemain film apa langkah yang kamu persiapkan untuk transisi dalam karier kamu?

Ini memang cukup jauh ya. Aku memang sebelumnya di idol grup yang memang apa ya, [kegiatannya hanya] menyanyi dan menari. Lalu ke akting itu beda jauh. Ketika aku menari dan nyanyi dulu itu, biasanya aku harus menghafal dulu semuanya dan ketika perform nggak ada yang bisa dikoreksi. Jadi tanggung jawabnya cukup besar.

Kemudian ketika aku di dunia akting ternyata tidak jauh [beda]. Tingkat kesulitannya sama-sama susah. Cuma lebih enaknya [di akting] ada proses reading [membaca naskah], ada proses pengenalan karakter, ada proses chemistry, pendekatan dengan semua cast-nya yang terlibat dan bisa lebih proper. Reading itu kita baca satu skrip untuk bisa dapat feel-nya [penjiwaan], dan sebagainya.

Cuma tanggung jawabnya sama-sama besar dan di akting itu kami dikelilingi kamera dan akting sama [pemain] senior-senior yang tantangannya lebih besar. Apalagi karakter yang aku bawakan itu beda-beda, jadi Alhamdulillah saya sudah bawakan karakter beberapa dan semua itu karakternya beda-beda, dan tantangannya beda-beda. So far passion aku tuh ada di akting.

Adhisty Zara , Zara JKT48Wawancara CNNIndonesia.com dengan Zara Adhisty. (CNN Indonesia/ Aulia Bintang)

Mentor kamu di dunia akting siapa?

Kalau untuk mentor itu sebenarnya nggak ada sih. Aku pribadi masuk ke dunia akting itu lebih karena hoki arena awalnya ikut casting biasa, eh jadi lanjut gitu. Alhamdulillah berhasil dapat film-film [salah satunya] yang akan tayang dalam waktu dekat, dan untuk yang memberi tahu aku sebenarnya nggak ada sih. Kalau di dunia akting masing-masing [pemeran] punya acting couch dari project itu. Mereka yang akan mengarahkan gimana biar bisa masuk ke karakter itu atau pengenalan isi cerita itu.

Pernah ada sesi coaching khusus agar lebih maksimal hasilnya?

Kalau datang ke coaching khusus atau konsultasi semacam itu sih sebenarnya enggak ada. Jalani saja seperti air mengalir dan Alhamdulilah rezekinya selalu ada.

Film mana yang paling berkesan buat Zara yang sudah dijalani?

Setiap film punya ceritanya masing-masing, punya kenangannya masing-masing, cuma yang paling berkesan itu mungkin film aku yang pertama kali ya. Itu film Keluarga Cemara. Di film pertama itu aku muncul [ibaratnya] masih sepersekian detik lah. Tapi aku aku merasa dapat peran besar, aku yang engga tahu apa-apa disuruh akting menangis, marah, panik, ini dan itu.

Dan, yang paling berkesan itu aku bisa [bermain] bareng orang-orang yang walaupun mereka sudah senior, sudah terkenal, mereka itu tetap rendah hati dan selalu membantu saya sebagai anak baru.

Kami selalu diskusi adegan per adegan. Ini nanti mau dibawa kemana? Mau dibuat seperti apa? Itu berkesan banget buat aku, karena aku dibimbing sama orang yang sudah lama di dunia akting dan banyak banget pelajaran yang aku ambil dari mereka. Bahkan sampai sekarang pun banyak baget yang masih kepake.

Waktu awal bertemu dengan Agus Ringgo bagaimana kesan kamu?

Jujur waktu itu aku deg-degan karena aku pikir waktu itu mereka sudah jago-jago [akting]. Mereka enggak akan menganggapku kali ya, tapi ternyata nggak, dan sama aktor-aktor senior di film-film aku yang lain pun emang selalu saling bantu. Mereka nggak mau bagus sendiri di film itu, ini kan film kita bareng-bareng, jadi semuanya harus akting bagus dan Alhamdulillah [film] aku bisa diterima oleh masyarakat.

Gif Rekomendasi Drama Korea (Drakor)

Film keluarga cemara itu remake dari sinetron lama, kamu sendiri pernah menonton sinetron itu?

Iya, aku nonton serial yang yang sudah pernah tayang dulu, tapi cuma beberapa bagian karena kita nggak mau menjiplak dari serial itu. Pastinya aku juga riset saat dapat proyek baru.

Setelah peran di Keluarga Cemara, lalu kamu main di film horor. Penyesuaiannya sulit?

Untuk genre memang masih baru buat aku, karena sebelumnya aku memang nggak pernah dan aku tadinya memang nggak mau ngambil film horor. Aku cukup sensitif dengan genre itu. Cuma pas dapat peran itu aku langsung antusias karena itu filmnya mas Joko Anwar, dan yang menulis ceritanya mas Kimo Stamboel. Itu kolaborasi yang sangat jarang.

Karena mas Kimo kan terkenal dengan film-filmnya yang boring [terkesan membosankan]. Sementara mas Joko sutradara yang kualitasnya kita semua sudah tahu, makanya pas dapat film itu aku enggak pikir dua kali. Ketika baru baca sinopsisnya aku langsung suka dan peran aku di situ sebagai anak yang masih remaja. Itu aku banget karakternya, dan saat proses syuting berlangsung memang bikin deg-degan. Memang film horror itu beda ya, tapi menyenangkan.

Kamu suka dengan film horor?

Aku pribadi enggak suka film itu [horor], film genre horror thriller, aku nggak suka karena aku lebih mellow [melankolis] anaknya jadi suka yang romantis gitu.

Jadi waktu akting di film Dua Garis Biru dan Mariposa itu pas banget ya sama genre yang kamu suka?

Enggak juga sih, memang jatuhnya itu aku banget, dan aku emang selalu suka sama film-fim aku.

Sebentar lagi kamu main di film virgo, proses castingnya bagaimana saat itu?

Untuk film Virgo sendiri proses aku dapetin peran ini tuh cukup unik. Waktu itu aku tiba-tiba ditelepon sama mas Joko Anwar, dia bilang: "Zara kapan nih kita bisa ketemu? Aku pengen ngobrol nih. Aku lagi bikin film judulnya Gundala."

Dia cerita awal mula Gundala dan Bumi Langit itu. Lalu dia cerita ada satu karakter yang namanya Virgo, sudah ada di komik dan webtoonnya juga. Dia bilang ingin aku jadi Virgo-nya.

Waktu itu [aku] enggak mikir panjang, langsung bilang ke manajer aku: "Kak, aku mau film ini dan akhirnya kami meeting, Waktu itu meeting-nya di Screenplay. Ada orang dari Bumi Langit dan Screenplay, mereka menjelaskan konsep Bumi Langit Universe ini, konsep Virgo and The Sparkling ini apa. Di situ aku merasa ini kesempatan yang nggak boleh aku lewatkan. Apalagi aku dari dulu ingin merasakan main di film action dan Alhamdulilah jodoh sama Virgo.

Di film ini apakah ada persiapan khusus dari kamu?

Persiapan khusus ada. Ketika reading [membaca dialog] itu juga lumayan lama, sekian bulan lah. Aku juga belajar fighting karena ini kan film action dan butuh badan yang kuat, mental yang kuat dan segala macam. Persiapannya beda dengan yang lain, dan lumayan lama dibandingkan dengan [film] yang sebelumnya

Kamu sudah bawakan banyak karakter, mana yang paling kamu banget?

Mungkin [film] Mariposa kali ya. Cuma enggak seratus persen mirip aku. Hanya dari kepribadiannya yang happy-happy terus itu aku banget karena [karakter] Aca itu ada bagian dari diri aku, jadi aku juga nggak susah waktu membawakannya.

Ke depan kalau misalnya dapat tawaran yang berbeda dari diri kamu apakah itu juga akan diambil?

Karena aku sudah serius di dunia akting, jadi aku juga harus lebih berani untuk mengambil karakter yang lain. Aku enggak boleh main di zona nyaman terus. Aku enggak menolak kalo misal ada karakter antagonis malah aku pengen banget. Aku sejauh ini selalu main karakter remaja atau seorang anak, jadi adik, jadi remaja pada umumnya, yang memang itu anak baik.

Nah, aku ingin mencoba peran si antagonis ini. Kemarin [film] action aku sudah terlibat. Nah, tinggal antagonisnya nih belum karena aku juga sempet pikir kalau jadi peran antagonis aku bisa tidak ya? Ini salah satu hal yang feel-nya [penjiwaan] beda dan pasti jauh banget dari film-film aku sebelumnya.

Ikuti cerita Zara Adhisty soal kesenangannya di dunia akting hingga sempat dilarang jadi artis di halaman berikut...

Sempat Dilarang Jadi Seleb

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK