Ismail Marzuki, Seniman Betawi yang Terpatri di Cikini
CNN Indonesia
Minggu, 03 Okt 2021 11:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ismail Marzuki menjadi salah satu ikon yang menandakan dua hal: Betawi dan Cikini.(Wikimedia Commons (PD Indonesia Old))
Jakarta, CNN Indonesia --
Ismail Marzukimenjadi salah satu ikon yang menandakan dua hal: Betawi dan Cikini. Meski diketahui lahir di Kwitang dan menetap di Tanah Abang, nama Ismail Marzuki lebih terpatri di Cikini.
Taman Ismail Marzuki di Jalan Cikini Raya adalah pusat kebudayaan di Jakarta yang mengabadikan seniman legendaris asal Betawi dan memengaruhi musik Indonesia selama bergenerasi tersebut.
Seniman yang lahir pada 11 Mei 1914 ini sejatinya bernama asli Ismail. Nama Marzuki diambil dari nama ayahnya. Ismail Marzuki merupakan anak yang telah lama dinantikan oleh kedua orangtuanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, ia lahir setelah orang tuanya kehilangan kedua kakaknya karena tak berumur panjang. Namun saat Ismail lahir, tiga bulan setelahnya sang ibu pergi selamanya.
Sebagai orang tua tunggal, Marzuki membesarkan Ismail dengan penuh harapan dan cita-cita. Marzuki menyekolahkan Ismail di sekolah Belanda, yaitu Hollandsh Inlandshe School, sekolah unggulan di masa itu.
Bukan hanya itu, Ismail juga disekolahkan di sebuah madrasah bernama Unwanul Falah yang dipimpin oleh Habib Ali Alhabsji di Kwitang.
Menurut sejarawan mendiang Alwi Shahab dalam Ismail Marzuki, Santri yang Melegenda Lewat Lagu Perjuangan yang diterbitkan pada 25 September 2016, pendidikan yang diterima Ismail Marzuki membawa andil besar pada pola pikir Ismail Marzuki.
"Ia menjadi sosok Islam moderat dengan istiqomah menggali dan mengamalkan Islam serta sekaligus mendalami seni," ujar Alwi, Mei 2018.
Walaupun kala itu seniman dicap sebagai pekerjaan yang tidak jelas, Ismail tidak berkecil hati. Ia tetap menekuni bidang seni.
Ninok Leksono dalam buku Seabad Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman (2014) menyebut harmonika menjadi salah satu alat musik awal yang dikuasai Ismail.
Usai harmonika, ia berpindah ke alat musik lainnya. Terus begitu dan selalu berlatih empat hingga lima jam setiap harinya, hingga Ismail mampu menguasai delapan alat musik: harmonika, mandolin, gitar, ukulele, biola, akordeon, saksofon, piano.
Ismail Marzuki pun mampu menciptakan lagu pertamanya, O Sarinah, pada usianya 17 tahun, atau pada 1931. Bakat dan ketenaran Ismail cemerlang saat ia bergabung dengan Lief Java pada 1936, atau pada 22 tahun.
Ia pun disebut sempat menjalani pekerjaan sebagai penjual piring hitam yang cemerlang, berkat minatnya terhadap musik.
Lewat musik pula, Ismail bertemu dengan Eulis, seorang biduan orkes asal Bandung nan terkenal.
lanjut ke sebelah...
Ismail pun akhirnya meminang Eulis Zuraidah pada 1940.
Selain Eulis yang menjadi inspirasi terbesar Ismail dalam menulis lagu bertema cinta dan perempuan. Indonesia juga jadi salah satu inspirasinya.
Di antara 337 lagu yang tercatat di bawah nama Ismail, setidaknya sembilan di antaranya dijadikan lagu wajib nasional karena dinilai mampu meningkatkan rasa nasionalisme, seperti Indonesia Pusaka, Ibu Pertiwi, Gugur Bunga, dan Sepasang Mata Bola.
Alwi Shahab mengatakan bahwa Ismail Marzuki adalah sosok yang merakyat. Itulah yang membuat Ismail banyak membuat lagu tentang bangsa Indonesia.
"Kami membicarakan perjuangan Indonesia. Rakyat waktu itu memang masih miskin keadaannya. Tapi semangatnya harus ditiru hingga Bung Karno menamakan dia seorang pejuang kemerdekaan yang patut kita banggakan," kata Alwi.
Ismail Marzuki dengan istrinya, Eulis Zuraida. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Setelah bertahun-tahun melahirkan karya fenomenal, Ismail Marzuki meninggal dunia di usia yang muda, 44 tahun, pada 25 Mei 1958.
Sosok Ismail Marzuki kemudian menjadi inspirasi nama pusat kebudayaan yang digagas oleh Gubernur DKI pada 1968, Ali Sadikin. Ia pun memilih lahan bekas Kebun Binatang Cikini beralamat Jalan Cikini Raya Nomor 73.
"Karena ini ada di Jakarta, harus seniman Jakarta yang namanya diabadikan," kata Imam Hadi Purnomo selaku Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, saat ditemui CNNIndonesia.com, Mei 2018.
Taman Ismail Marzukimerupakan sebuah pusat kesenian yang lengkap, mulai dari pendidikan, pelatihan, pengembangan, pencarian inspirasi, hingga penyajian, dan terpadu dalam satu lokasi sehingga mampu menjadi ikon dari Jakarta.
Di lokasi ini, pengunjung dapat menikmati sebagian karya dan peninggalan Ismail Marzuki yang diserahkan oleh pihak keluarga sang maestro ke pengelola TIM pada 2008 silam.
"Kalau di catatan kami, tahun 2008 [diserahkan ke TIM]. Itu ada lima jenis barang, yang pertama itu ada biola beliau, ada arkodeon, kemudian ada jam dinding, album foto, dan yang kelima itu ada partitur lagu-lagu tulisan tangan beliau langsung," kata Imam.
Koleksi berharga itu kemudian disimpan oleh pengelola TIM dalam tempat penyimpanan khusus bersamaan dengan ratusan koleksi seni dari berbagai seniman lainnya.
Selain menjadi ikon dan dimonumenkan, karya dan perjuangan Ismail Marzuki dalam mengharumkan nama bangsa membuahkan gelar pahlawan nasional pada tanggal 5 November 2004.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ismail Marzukimenjadi salah satu ikon yang menandakan dua hal: Betawi dan Cikini. Meski diketahui lahir di Kwitang dan menetap di Tanah Abang, nama Ismail Marzuki lebih terpatri di Cikini.
Taman Ismail Marzuki di Jalan Cikini Raya adalah pusat kebudayaan di Jakarta yang mengabadikan seniman legendaris asal Betawi dan memengaruhi musik Indonesia selama bergenerasi tersebut.
Seniman yang lahir pada 11 Mei 1914 ini sejatinya bernama asli Ismail. Nama Marzuki diambil dari nama ayahnya. Ismail Marzuki merupakan anak yang telah lama dinantikan oleh kedua orangtuanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, ia lahir setelah orang tuanya kehilangan kedua kakaknya karena tak berumur panjang. Namun saat Ismail lahir, tiga bulan setelahnya sang ibu pergi selamanya.
Sebagai orang tua tunggal, Marzuki membesarkan Ismail dengan penuh harapan dan cita-cita. Marzuki menyekolahkan Ismail di sekolah Belanda, yaitu Hollandsh Inlandshe School, sekolah unggulan di masa itu.
Bukan hanya itu, Ismail juga disekolahkan di sebuah madrasah bernama Unwanul Falah yang dipimpin oleh Habib Ali Alhabsji di Kwitang.
Menurut sejarawan mendiang Alwi Shahab dalam Ismail Marzuki, Santri yang Melegenda Lewat Lagu Perjuangan yang diterbitkan pada 25 September 2016, pendidikan yang diterima Ismail Marzuki membawa andil besar pada pola pikir Ismail Marzuki.
"Ia menjadi sosok Islam moderat dengan istiqomah menggali dan mengamalkan Islam serta sekaligus mendalami seni," ujar Alwi, Mei 2018.
Walaupun kala itu seniman dicap sebagai pekerjaan yang tidak jelas, Ismail tidak berkecil hati. Ia tetap menekuni bidang seni.
Ninok Leksono dalam buku Seabad Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman (2014) menyebut harmonika menjadi salah satu alat musik awal yang dikuasai Ismail.
Usai harmonika, ia berpindah ke alat musik lainnya. Terus begitu dan selalu berlatih empat hingga lima jam setiap harinya, hingga Ismail mampu menguasai delapan alat musik: harmonika, mandolin, gitar, ukulele, biola, akordeon, saksofon, piano.
Ismail Marzuki pun mampu menciptakan lagu pertamanya, O Sarinah, pada usianya 17 tahun, atau pada 1931. Bakat dan ketenaran Ismail cemerlang saat ia bergabung dengan Lief Java pada 1936, atau pada 22 tahun.
Ia pun disebut sempat menjalani pekerjaan sebagai penjual piring hitam yang cemerlang, berkat minatnya terhadap musik.
Lewat musik pula, Ismail bertemu dengan Eulis, seorang biduan orkes asal Bandung nan terkenal.
lanjut ke sebelah...
Ismail Marzuki, Seniman Betawi yang Terpatri di Cikini
Ismail Marzuki menjadi salah satu ikon yang menandakan dua hal: Betawi dan Cikini. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Ismail pun akhirnya meminang Eulis Zuraidah pada 1940.
Selain Eulis yang menjadi inspirasi terbesar Ismail dalam menulis lagu bertema cinta dan perempuan. Indonesia juga jadi salah satu inspirasinya.
Di antara 337 lagu yang tercatat di bawah nama Ismail, setidaknya sembilan di antaranya dijadikan lagu wajib nasional karena dinilai mampu meningkatkan rasa nasionalisme, seperti Indonesia Pusaka, Ibu Pertiwi, Gugur Bunga, dan Sepasang Mata Bola.
Alwi Shahab mengatakan bahwa Ismail Marzuki adalah sosok yang merakyat. Itulah yang membuat Ismail banyak membuat lagu tentang bangsa Indonesia.
"Kami membicarakan perjuangan Indonesia. Rakyat waktu itu memang masih miskin keadaannya. Tapi semangatnya harus ditiru hingga Bung Karno menamakan dia seorang pejuang kemerdekaan yang patut kita banggakan," kata Alwi.
Ismail Marzuki dengan istrinya, Eulis Zuraida. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Setelah bertahun-tahun melahirkan karya fenomenal, Ismail Marzuki meninggal dunia di usia yang muda, 44 tahun, pada 25 Mei 1958.
Sosok Ismail Marzuki kemudian menjadi inspirasi nama pusat kebudayaan yang digagas oleh Gubernur DKI pada 1968, Ali Sadikin. Ia pun memilih lahan bekas Kebun Binatang Cikini beralamat Jalan Cikini Raya Nomor 73.
"Karena ini ada di Jakarta, harus seniman Jakarta yang namanya diabadikan," kata Imam Hadi Purnomo selaku Kepala Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, saat ditemui CNNIndonesia.com, Mei 2018.
Taman Ismail Marzukimerupakan sebuah pusat kesenian yang lengkap, mulai dari pendidikan, pelatihan, pengembangan, pencarian inspirasi, hingga penyajian, dan terpadu dalam satu lokasi sehingga mampu menjadi ikon dari Jakarta.
Di lokasi ini, pengunjung dapat menikmati sebagian karya dan peninggalan Ismail Marzuki yang diserahkan oleh pihak keluarga sang maestro ke pengelola TIM pada 2008 silam.
"Kalau di catatan kami, tahun 2008 [diserahkan ke TIM]. Itu ada lima jenis barang, yang pertama itu ada biola beliau, ada arkodeon, kemudian ada jam dinding, album foto, dan yang kelima itu ada partitur lagu-lagu tulisan tangan beliau langsung," kata Imam.
Koleksi berharga itu kemudian disimpan oleh pengelola TIM dalam tempat penyimpanan khusus bersamaan dengan ratusan koleksi seni dari berbagai seniman lainnya.
Selain menjadi ikon dan dimonumenkan, karya dan perjuangan Ismail Marzuki dalam mengharumkan nama bangsa membuahkan gelar pahlawan nasional pada tanggal 5 November 2004.