Beda Cancel Culture di Korea dan China

CNN Indonesia
Minggu, 24 Oct 2021 13:19 WIB
Cancel culture kerap ditemukan di industri hiburan beberapa negara, seperti China dan Korea Selatan. Berikut perbedaan dan persamaan cancel culture di sana. Kim Seon-ho di-cancel K-netz setelah hubungan pribadinya dengan mantan kekasih di masa lalu terungkap. (Foto: dok. SALT Entertainment)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cancel culture terhadap artis kerap terjadi di industri hiburan beberapa negara. China dan Korea Selatan termasuk negara yang menarik perhatian publik belakangan ini karena memboikot sederet artis.

Salah satu kasus terbaru adalah Kim Seon-ho yang tersandung hubungan pribadi dengan mantan kekasih di masa lalu dan dinilai banyak pihak berbeda dengan imej 'good boy' sang aktor.

Beberapa hari setelah ramai pemberitaan, Kim Seon-ho meminta maaf kepada publik atas hal tersebut.


Hanya dalam waktu singkat, banyak pihak memutuskan hubungan dengannya bahkan ketika hal tersebut masih bersifat rumor.

Mulai dari banyak brand yang menghapus 'wajah' Kim Seon-ho dari media sosial, hingga tim produksi yang resmi mendepak sang aktor dari acara mereka setelah meminta maaf.

Berdasarkan The Privater Theraphy Clinic, cancel culture merupakan bentuk evolusi dari istilah boikot yang dikenal masyarakat sejak dahulu.

Budaya cancel culture ini disebut muncul pertama kali pada 2017 saat kasus pelecehan seksual oleh produser ternama asal AS, Harvey Weinstein, terungkap.

Mulanya cancel culture keluar ketika banyak pelaku pelecehan seksual dari kalangan publik figur diketahui masyarakat. Mereka yang terlibat skandal ini ramai-ramai ditolak masyarakat.

Sehingga, efek dari cancel culture beragam. Misalnya, publik tak terima tokoh tersebut ada di televisi, karya-karya lama mereka ditolak, pembatalan iklan, hingga pembatalan kontrak kerja.

Hal tersebut juga terjadi di China dan Korea Selatan. Berikut gambaran cancel culture yang terjadi di Korea Selatan dan China belakangan ini.

KOREA

Sebagian besar artis Korea yang di-cancel netizen Korea (K-netz) adalah yang dinilai rusak moral. Beberapa hal yang menjadi pemicu adalah tudingan bullying di masa lalu, sikap kasar atau tak sopan, serta pelecehan seksual.

Tak hanya itu, hubungan personal di masa lalu juga menjadi perhatian penuh K-netz yang memengaruhi perjalanan karier artis, seperti Kim Seon-ho dan Seo Yea-ji.

Kritikus budaya pop Kim Hern-sik mengatakan K-netz masih sangat menjunjung tinggi nilai dan etika. Sehingga, standar moral dinilai masih lebih tinggi daripada privasi individu sang artis.

Profesor sosiologi di Universitas Kyung-hee Song Jae-ryong mengatakan situasi tersebut yang membuat para artis Korea menjadi 'korban' harapan tinggi sebagian besar masyarakat Korea.

Ia juga menyoroti masyarakat Korea yang sangat menghormati dan menghargai kepatuhan serta kesesuaian mayoritas.

Oleh sebab itu, tokoh publik di Korea berisiko diboikot apabila dianggap berperilaku berseberangan dengan masyarakat mayoritas.

"Orang Korea memiliki kecenderungan kuat memihak, terutama menempatkan mereka dari kelompok sosial yang berbeda di sisi yang berlawanan," tutur Song Jae-ryong seperti dilansir Korea Times beberapa waktu lalu.

"Karena selebritas menonjol dan menarik perhatian publik, orang-orang memiliki perasaan buruk jika kehidupan mereka berbeda, dan cenderung kurang toleran terhadap kesalahan moral atau etika yang dirasakan."

Perbedaan dengan China di sebelah...

Peran Pemerintah dalam Cancel Culture China

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER