Kim Seon-ho di-cancel K-netz setelah hubungan pribadinya dengan mantan kekasih di masa lalu terungkap. (Foto: dok. SALT Entertainment)
Jakarta, CNN Indonesia --
Cancel culture terhadap artis kerap terjadi di industri hiburan beberapa negara. China dan Korea Selatan termasuk negara yang menarik perhatian publik belakangan ini karena memboikot sederet artis.
Salah satu kasus terbaru adalah Kim Seon-ho yang tersandung hubungan pribadi dengan mantan kekasih di masa lalu dan dinilai banyak pihak berbeda dengan imej 'good boy' sang aktor.
Beberapa hari setelah ramai pemberitaan, Kim Seon-ho meminta maaf kepada publik atas hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya dalam waktu singkat, banyak pihak memutuskan hubungan dengannya bahkan ketika hal tersebut masih bersifat rumor.
Mulai dari banyak brand yang menghapus 'wajah' Kim Seon-ho dari media sosial, hingga tim produksi yang resmi mendepak sang aktor dari acara mereka setelah meminta maaf.
Berdasarkan The Privater Theraphy Clinic, cancel culture merupakan bentuk evolusi dari istilah boikot yang dikenal masyarakat sejak dahulu.
Budaya cancel culture ini disebut muncul pertama kali pada 2017 saat kasus pelecehan seksual oleh produser ternama asal AS, Harvey Weinstein, terungkap.
Mulanya cancel culture keluar ketika banyak pelaku pelecehan seksual dari kalangan publik figur diketahui masyarakat. Mereka yang terlibat skandal ini ramai-ramai ditolak masyarakat.
Sehingga, efek dari cancel culture beragam. Misalnya, publik tak terima tokoh tersebut ada di televisi, karya-karya lama mereka ditolak, pembatalan iklan, hingga pembatalan kontrak kerja.
Hal tersebut juga terjadi di China dan Korea Selatan. Berikut gambaran cancel culture yang terjadi di Korea Selatan dan China belakangan ini.
KOREA
Sebagian besar artis Korea yang di-cancel netizen Korea (K-netz) adalah yang dinilai rusak moral. Beberapa hal yang menjadi pemicu adalah tudingan bullying di masa lalu, sikap kasar atau tak sopan, serta pelecehan seksual.
Tak hanya itu, hubungan personal di masa lalu juga menjadi perhatian penuh K-netz yang memengaruhi perjalanan karier artis, seperti Kim Seon-ho dan Seo Yea-ji.
Kritikus budaya pop Kim Hern-sik mengatakan K-netz masih sangat menjunjung tinggi nilai dan etika. Sehingga, standar moral dinilai masih lebih tinggi daripada privasi individu sang artis.
Profesor sosiologi di Universitas Kyung-hee Song Jae-ryong mengatakan situasi tersebut yang membuat para artis Korea menjadi 'korban' harapan tinggi sebagian besar masyarakat Korea.
Ia juga menyoroti masyarakat Korea yang sangat menghormati dan menghargai kepatuhan serta kesesuaian mayoritas.
Oleh sebab itu, tokoh publik di Korea berisiko diboikot apabila dianggap berperilaku berseberangan dengan masyarakat mayoritas.
"Orang Korea memiliki kecenderungan kuat memihak, terutama menempatkan mereka dari kelompok sosial yang berbeda di sisi yang berlawanan," tutur Song Jae-ryong seperti dilansir Korea Times beberapa waktu lalu.
"Karena selebritas menonjol dan menarik perhatian publik, orang-orang memiliki perasaan buruk jika kehidupan mereka berbeda, dan cenderung kurang toleran terhadap kesalahan moral atau etika yang dirasakan."
Perbedaan dengan China di sebelah...
CHINA
China memiliki kisah berbeda. Pelanggaran nilai dan moral juga menjadi penyebab seorang artis di-cancel, sebut saja Kris Wu yang disebut melakukan pelecehan seksual kepada perempuan di bawah umur.
Tak lama setelah ditangkap atas dugaan itu, akun Weibo dan lagu serta karya lainnya langsung dihapus dari sejumlah platform.
Selain nilai dan moral, artis Negeri Tirai Bambu juga berisiko diboikot apabila dinilai tak sesuai dengan nasionalisme dan ideologi partai komunis yang menguasai china, salah satunya adalah Zhang Zhehan.
Penyanyi sekaligus aktor ini diboikot ketika benar-benar berada di atas, usai sukses membintangi Word of Honor. Ia diblokir karena fotonya di depan Kuil Yasukuni pada 2018 viral pada Agustus 2021.
Aktor dan penyanyi China Zhang Zhehan kehilangan seluruh kontrak kerja sama usai foto di depan Yasukuni pada 2018 viral Agustus 2021. (Foto: Arsip Youku via Twitter)
Kuil Yasukuni merupakan simbol penghormatan kepada tentara-tentara Jepang yang gugur pada perang dunia kedua. Itu menjadi tempat tabu bagi pelancong China.
Dalam sejarah 70 tahun terakhir, pemerintah China juga telah mengutuk keras ritual kunjungan perdana menteri Jepang. Hal itu membangkitkan sentimen anti-Jepang di kalangan masyarakat China.
Sehingga, foto lama tersebut dinilai menandakan Zhang Zhehan abai sejarah dan tidak nasionalis.
Seperti dilansir The Diplomat beberapa waktu lalu, Zhehan kehilangan seluruh kerja sama iklan dalam empat jam. Otoritas China, termasuk Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin, langsung mengeluarkannya dari industri hiburan.
Asosiasi Seni Pertunjukan China mengecam Zhang Zhehan karena dinilai merusak perasaan nasional dan membawa pengaruh buruk bagi generasi muda. Mereka menuntut para anggota tidak melibatkan sang aktor dalam proyek apapun.
Zhang Zhehan meminta maaf dan mengaku malu karena ketidaktahuannya. Ia membantah mengetahui sejarah di balik bangunan tersebut dan abai sehingga tetap berfoto di depan Kuil Yasukuni.
Namun permintaan maaf Zhehan gagal menenangkan para pengkritik.
Secara garis besar, China dan Korea memiliki ciri khas masing-masing ketika memboikot figur publik. Namun, keduanya memiliki persamaan yakni hal itu dilakukan untuk memberikan contoh kepada masyarakat.
Kritikus budaya Ha Jae-geun menyatakan selebritas merupakan sosok yang memiliki dampak sosial besar. Sehingga, cara menangani permasalahannya bisa menjadi contoh di masyarakat.
"Jika seorang artis dulu terlibat bullying dan akhirnya dikeluarkan dari program, anak anak bisa mengambil pelajaran dari konsekuensi mengintimidasi orang lain," tuturnya.
Begitu pula dengan China yang melarang artis-artis 'bermasalah' untuk kembali tampil di layar kaca maupun layar lebar. Partai Komunis menginginkan figur publik menjadi panutan masyarakat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Cancel culture terhadap artis kerap terjadi di industri hiburan beberapa negara. China dan Korea Selatan termasuk negara yang menarik perhatian publik belakangan ini karena memboikot sederet artis.
Salah satu kasus terbaru adalah Kim Seon-ho yang tersandung hubungan pribadi dengan mantan kekasih di masa lalu dan dinilai banyak pihak berbeda dengan imej 'good boy' sang aktor.
Beberapa hari setelah ramai pemberitaan, Kim Seon-ho meminta maaf kepada publik atas hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya dalam waktu singkat, banyak pihak memutuskan hubungan dengannya bahkan ketika hal tersebut masih bersifat rumor.
Mulai dari banyak brand yang menghapus 'wajah' Kim Seon-ho dari media sosial, hingga tim produksi yang resmi mendepak sang aktor dari acara mereka setelah meminta maaf.
Berdasarkan The Privater Theraphy Clinic, cancel culture merupakan bentuk evolusi dari istilah boikot yang dikenal masyarakat sejak dahulu.
Budaya cancel culture ini disebut muncul pertama kali pada 2017 saat kasus pelecehan seksual oleh produser ternama asal AS, Harvey Weinstein, terungkap.
Mulanya cancel culture keluar ketika banyak pelaku pelecehan seksual dari kalangan publik figur diketahui masyarakat. Mereka yang terlibat skandal ini ramai-ramai ditolak masyarakat.
Sehingga, efek dari cancel culture beragam. Misalnya, publik tak terima tokoh tersebut ada di televisi, karya-karya lama mereka ditolak, pembatalan iklan, hingga pembatalan kontrak kerja.
Hal tersebut juga terjadi di China dan Korea Selatan. Berikut gambaran cancel culture yang terjadi di Korea Selatan dan China belakangan ini.
KOREA
Sebagian besar artis Korea yang di-cancel netizen Korea (K-netz) adalah yang dinilai rusak moral. Beberapa hal yang menjadi pemicu adalah tudingan bullying di masa lalu, sikap kasar atau tak sopan, serta pelecehan seksual.
Tak hanya itu, hubungan personal di masa lalu juga menjadi perhatian penuh K-netz yang memengaruhi perjalanan karier artis, seperti Kim Seon-ho dan Seo Yea-ji.
Kritikus budaya pop Kim Hern-sik mengatakan K-netz masih sangat menjunjung tinggi nilai dan etika. Sehingga, standar moral dinilai masih lebih tinggi daripada privasi individu sang artis.
Profesor sosiologi di Universitas Kyung-hee Song Jae-ryong mengatakan situasi tersebut yang membuat para artis Korea menjadi 'korban' harapan tinggi sebagian besar masyarakat Korea.
Ia juga menyoroti masyarakat Korea yang sangat menghormati dan menghargai kepatuhan serta kesesuaian mayoritas.
Oleh sebab itu, tokoh publik di Korea berisiko diboikot apabila dianggap berperilaku berseberangan dengan masyarakat mayoritas.
"Orang Korea memiliki kecenderungan kuat memihak, terutama menempatkan mereka dari kelompok sosial yang berbeda di sisi yang berlawanan," tutur Song Jae-ryong seperti dilansir Korea Times beberapa waktu lalu.
"Karena selebritas menonjol dan menarik perhatian publik, orang-orang memiliki perasaan buruk jika kehidupan mereka berbeda, dan cenderung kurang toleran terhadap kesalahan moral atau etika yang dirasakan."
Perbedaan dengan China di sebelah...
Gambaran Cancel Culture di China
Zhang Zhehan diboikot China karena dinilai merusak rasa nasionalis dan memberi pengaruh buruk karena berfoto di Kuil Yasukuni pada 2018. (Foto: Arsip Youku via Twitter)
CHINA
China memiliki kisah berbeda. Pelanggaran nilai dan moral juga menjadi penyebab seorang artis di-cancel, sebut saja Kris Wu yang disebut melakukan pelecehan seksual kepada perempuan di bawah umur.
Tak lama setelah ditangkap atas dugaan itu, akun Weibo dan lagu serta karya lainnya langsung dihapus dari sejumlah platform.
Selain nilai dan moral, artis Negeri Tirai Bambu juga berisiko diboikot apabila dinilai tak sesuai dengan nasionalisme dan ideologi partai komunis yang menguasai china, salah satunya adalah Zhang Zhehan.
Penyanyi sekaligus aktor ini diboikot ketika benar-benar berada di atas, usai sukses membintangi Word of Honor. Ia diblokir karena fotonya di depan Kuil Yasukuni pada 2018 viral pada Agustus 2021.
Aktor dan penyanyi China Zhang Zhehan kehilangan seluruh kontrak kerja sama usai foto di depan Yasukuni pada 2018 viral Agustus 2021. (Foto: Arsip Youku via Twitter)
Kuil Yasukuni merupakan simbol penghormatan kepada tentara-tentara Jepang yang gugur pada perang dunia kedua. Itu menjadi tempat tabu bagi pelancong China.
Dalam sejarah 70 tahun terakhir, pemerintah China juga telah mengutuk keras ritual kunjungan perdana menteri Jepang. Hal itu membangkitkan sentimen anti-Jepang di kalangan masyarakat China.
Sehingga, foto lama tersebut dinilai menandakan Zhang Zhehan abai sejarah dan tidak nasionalis.
Seperti dilansir The Diplomat beberapa waktu lalu, Zhehan kehilangan seluruh kerja sama iklan dalam empat jam. Otoritas China, termasuk Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin, langsung mengeluarkannya dari industri hiburan.
Asosiasi Seni Pertunjukan China mengecam Zhang Zhehan karena dinilai merusak perasaan nasional dan membawa pengaruh buruk bagi generasi muda. Mereka menuntut para anggota tidak melibatkan sang aktor dalam proyek apapun.
Zhang Zhehan meminta maaf dan mengaku malu karena ketidaktahuannya. Ia membantah mengetahui sejarah di balik bangunan tersebut dan abai sehingga tetap berfoto di depan Kuil Yasukuni.
Namun permintaan maaf Zhehan gagal menenangkan para pengkritik.
Secara garis besar, China dan Korea memiliki ciri khas masing-masing ketika memboikot figur publik. Namun, keduanya memiliki persamaan yakni hal itu dilakukan untuk memberikan contoh kepada masyarakat.
Kritikus budaya Ha Jae-geun menyatakan selebritas merupakan sosok yang memiliki dampak sosial besar. Sehingga, cara menangani permasalahannya bisa menjadi contoh di masyarakat.
"Jika seorang artis dulu terlibat bullying dan akhirnya dikeluarkan dari program, anak anak bisa mengambil pelajaran dari konsekuensi mengintimidasi orang lain," tuturnya.
Begitu pula dengan China yang melarang artis-artis 'bermasalah' untuk kembali tampil di layar kaca maupun layar lebar. Partai Komunis menginginkan figur publik menjadi panutan masyarakat.