Harga Melejit, Semarak Hari Raya di Malaysia Berkurang

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Sabtu, 18/07/2015 14:46 WIB
Harga Melejit, Semarak Hari Raya di Malaysia Berkurang Harga yang melejit karena penerapan pajak pertambahan nilai sebesar enam persen membuat semarak Hari Raya Idul Fitri di Malaysia berkurang. (Ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kampung Baru, yang terletak di jantung Kuala Lumpur, merupakan daerah kantong Melayu tertua di Malaysia. Setiap tahun, selama waktu Ramadan, daerah ini merupakan sebuah pasar yang ramai dikunjungi menjelang lebara. Namun, kenaikan harga membuat para pedagang lesu, khawatir tidak mendapatkan untung tahun ini.

Seperti di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri tak lengkap tanpa sajian ketupat. Namun, para pedagang ketupat mengeluhkan harga bahan pokok telah naik sekitar 20 persen, sebagian besar akibat kenaikan pajak pertambahan nilai sebesar 6 persen yang diberlakukan sejak April tahun ini.

Masitah Mahat, seorang pedagang ketupat mengaku cemas apakah 2.000 ketupat yang dibuatnya dapat habis terjual, karena harga sedang tinggi. "Semua harga meingkat, jadi saya juga harus menaikkan harga," kata Masitah, dikutip dari Channel NewsAsia, Jumat (17/7). 


(Baca juga: Tradisi Mudik dan Hari Raya di Malaysia)

Tetangganya, Ahmad Ibrahim, penjual jubah tradisional menyatakan tahun ini penjualan menurun drastis, karena pelanggan mengeluh kenaikan harga. Menurutnya, harga yang melejit, membuat semarak hari raya di Malaysia berkurang.

"Jika Anda memiliki pendapatan kurang dari 5.000 ringgit (Rp17,5 juta) per bulan, Anda tidak akan dapat berlebaran dengan nyaman di kota karena harga telah melonjak begitu tinggi, bisa dua kali lipat," kata Sulaiman Ahmad, seorang warga Kampung Baru lainnya.

Selama kunjungannya ke Kampung Baru, Perdana Menteri Najib Razak berjanji untuk mengatasi meningkatnya biaya hidup. Dia menawarkan bantuan makanan dan kebutuhan pokok, serta berjanji memperat hubungan dengan masyarakat setempat.

Najib kini tengah terperosok dalam tuduhan korupsi, setelah ditemukannya aliran dana jutaan dolar masuk ke rekening pribadinya dari lembaga investasi 1 Malaysia Development Berhad, atau 1MDB.

(Baca juga: Hampir Rp9,3 T Dana 1MDB Mengalir ke Rekening PM Malaysia)

Namun, bagi sebagian warga, tuduhan korupsi Najib tidak segenting melejitnya harga kebutuhan pokok.

"Mereka bisa saja mengatakan semua hal buruk tentang PM, tetapi jika (Najib) bisa menurunkan harga, kita bisa berpura-pura tidak mendengarnya (tuduhan korupsi itu)," kata Sulaiman.

"Saya berharap perdana menteri dapat melakukan sesuatu untuk mengembalikan kepercayaan rakyat, dengan terlebih dahulu menurunkan harga dan menunda PPN, sehingga kita semua memiliki cukup uang untuk makan dan kita kampung dengan bahagia," kata Sulaiman.

1MDB, yang akhir-akhir ini menjadi sorotan utama di media Malaysia dan internasional, tengah berusaha membangun hubungan dengan masyarakat di Kampung Baru, dengan memberikan dana sebesar US$5,3 juta (Rp70,6 miliar) untuk merenovasi Masjid Jamek, salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur.

(Baca juga: Sampah Makanan di Malaysia Setara 30 Kali Menara Petronas)

Renovasi itu termasuk pembangunan pusat komunitas baru dan perpustakaan. Sementara penduduk setempat menyambut fasilitas baru, beberapa warga Kampung Baru menyuarakan keprihatinan mereka atas sumber pendanaan.

"Kami khawatir apakah uang itu bersih atau tidak," kata Kamarulzaman Zainal, seorang pensiunan.

Kamarulzaman menyatakan dia tak bisa begitu saja menutup teliga atas tuduhan korupsi Najib. "Saya hanya ingin dengar bahwa dia melakukan hal yang baik, itu saja," kata Kamarulzaman.

Seperti banyak warga Malaysia lainnya, Kamarulzaman juga tengah menunggu kepastian dari sang perdana menteri, tentang apakah tuduhan korupsi itu benar adanya. (ama/ama)