Diberitakan Reuters, Rabu (25/11), Tunisia sebagai negara paling sekuler di Arab kerap menjadi target serangan militer setelah menegakkan demokrasi menyusul tergulingnya Zine Abidine Ben Ali dari kursi kepresidenan pada revolusi tahun 2011.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini adalah serangan terbesar ketiga yang terjadi di Tunisia tahun ini. Sebelumnya Juni lalu, militan membunuh 28 wisatawan asing di hotel pinggir pantai di Sousse, dan pada Maret 21 orang tewas dalam serangan di Museum Bardo, Tunis. ISIS mengklaim berada di balik dua serangan sebelumnya.
Pelaku dalam serangan kali ini meledakkan diri menggunakan bom plastik Semtex yang diduga berasal dari Libya.
Usai peristiwa ini, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi membatalkan lawatan ke Eropa dan menerapkan jam malam hingga Rabu pukul 5 pagi. Essebsi kembali menerapkan keadaan darurat selama satu bulan, yang memungkinkan pemerintah memiliki kekuatan eksekutif yang fleksibel, kewenangan aparat keamanan yang lebih luas dan membatasi beberapa hak sipil.
Tunisia juga akan menutup perbatasannya dengan Libya selama 15 hari dan merekruit tambahan pasukan keamanan hingga 6.000 orang. Polisi dan tentara terlihat berpatroli di kota Tunis, mendirikan pos pemeriksaan. Di bandara, hanya orang yang memiliki tiket pesawat boleh masuk ke kawasan itu. (den)