"September tapi tanggalnya kami komunikasikan intensif melalui saluran diplomatik," kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (29/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno menuturkan, kedua kepala negara ini nantinya membahas perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi di negara masing-masing, termasuk masalah pertahanan.
"Isu sandera dan pengamanan laut di Perairan Sulu saya kira akan dibahas," ucap dia.
Puluhan warga negara Indonesia menjadi sandera kelompok bersenjata Filipina, Abu Sayyaf, dalam satu semester terakhir secara bergantian. Mereka ditangkap saat berlayar di sekitar Perairan Sulu.
14 WNI disandera dan dibebaskan sebelum Duterte menjadi Presiden Filipina. Indonesia bersama Filipina dan Malaysia setelah itu membuat kesepakatan, salah satunya adalah patroli bersama guna mencegah penyanderaan kembali.
Belum ada realisasi patroli bersama, tujuh WNI kembali menjadi sandera Abu Sayyaf. Retno pun langsung bertolak ke Filipina setelah pemerintahan Duterte dimulai. Retno bertemu Menteri Luar Negeri baru Filipina Perfecto Rivas Yasay pada 1 Juli.
Saat itu Retno juga menyampaikan surat Presiden Joko Widodo yang meminta perhatian khusus Duterte terhadap kasus penculikan WNI oleh kelompok bersenjata di Filipina. (den)