Le Pen Disebut Pecah Belah Perancis dengan Menyerang Islam

Riva Dessthania Suastha , CNN Indonesia | Selasa, 21/03/2017 11:38 WIB
Le Pen Disebut Pecah Belah Perancis dengan Menyerang Islam Pemimpin ekstrem kanan Marine Le Pen diserang mengenai pandangannya tentang imigran dan Islam dalam debat perdana capres Perancis. (Foto: REUTERS/Patrick Kovarik)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden ekstrem kanan Perancis, Marine Le Pen, diserang empat capres lain mengenai isu keamanan dan sentimen anti-Islam dalam debat pemilu pertama awal pekan ini.

Dalam debat, rival terkuat Le Pen, Emmanuel Macron, menuduh pemimpin Partai Front Nasional (FN) itu berupaya memecah-belah Perancis dengan menyerang Islam, khususnya mengenai kontroversi penggunaan burkini--baju renang wanita Muslim di negara itu.

"Burkini adalah masalah ketertiban umum. Jangan menggunakan isu ini untuk memecah-belah Perancis," kata Macron seperti dikutip AFP, Selasa (21/3).

Pernyataan eks Menteri Ekonomi itu dilontarkan usai Le Pen menegaskan ingin membatasi penggunaan pakaian dan atribut agama di ruang publik. Dia menganggap, penggunaan burkini menandakan "kebangkitan Islam radikal di Perancis" dan menuduh Macron mendukung hal tersebut.
Penggunaan burkini, baju renang perempuan yang menutup seluruh bagian tubuh, memang sempat menjadi isu panas di Perancis pada musim panas lalu. Sejumlah kota-kota pesisir di Perancis bahkan melarang pabrik baju memproduksi burkini.

Beberapa otoritas lokal menganggap pelarangan ini merupakan bentuk "provokasi" di tengah meningkatnya rentetan serangan teror di negara itu. Larangan itu kemudian ditangguhkan setelah Dewan Negara menyatakannya sebagai aturan yang diskriminatif.

Serangkaian aksi teror yang menerpa Perancis menggeser fokus Le Pen ke bidang keamanan, Islam dan imigrasi. Semasa kampanye, Le Pen kerap menyerang isu "imigrasi massal", globalisasi dan "fundamentalisme Islam" yang dinilai mengancam keamanan dan nilai negara.

Secara blak-blakan Le Pen bahkan mengatakan bahwa warga Perancis tidak mau terbiasa "hidup dengan terorisme."
Semasa kampanye, Le Pen juga pernah membandingkan warga Muslim yang beribadah di jalanan dengan okupasi Nazi. Dia mengatakan, "Kami tidak ingin hidup di bawah tirani fundamentalisme."

Dalam debat malam itu, Le Pen dan Macron juga berbagi panggung dengan tiga kandidat presiden lain yakni politikus konservatif Francois Fillon dan sayap kiri Benoit Hamon, serta komunis Jean-Luc Melenchon.

Sosialis Hamon turut menyerang pernyataan Le Pen mengenai keamanan siswa di sekolah-sekolah yang ia anggap sedang dilanda aksi kekerasan.

"Tanpa perdamaian di sekolah, akan sulit untuk memaksimalkan pembelajaran," kata Le Pen.
"Tapi untuk menciptakan perdamaian di sekolah, siswa tidak boleh merasa menjadi sandera," sela Hamon dan menganggap pernyataan Le Pen tersebut "memuakkan."

Sementara itu, Fillon, capres yang sempat menempati elektabilitas tertinggi, tidak berbicara banyak. Dia berangsur-angsur kehilangan dukungannya setelah terjerat skandal penyalahgunaan dana publik yang melibatkan istrinya.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, dukungan tertinggi masih bertumpu pada Macron yang dianggap bisa dengan mudah mengalahkan Le Pen dalam putaran kedua pemilu yang berlangsung 7 Mei mendatang.

Meski begitu, tak ada satu pun yang berani membuat prediksi tajam mengenai pemilu setelah anomali kejutan menghampiri pemilu Amerika Serikat pada November lalu dengan kemenangan Donald Trump serta keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.