Dalam debat, rival terkuat Le Pen, Emmanuel Macron, menuduh pemimpin Partai Front Nasional (FN) itu berupaya memecah-belah Perancis dengan menyerang Islam, khususnya mengenai kontroversi penggunaan burkini--baju renang wanita Muslim di negara itu.
"Burkini adalah masalah ketertiban umum. Jangan menggunakan isu ini untuk memecah-belah Perancis," kata Macron seperti dikutip AFP, Selasa (21/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa otoritas lokal menganggap pelarangan ini merupakan bentuk "provokasi" di tengah meningkatnya rentetan serangan teror di negara itu. Larangan itu kemudian ditangguhkan setelah Dewan Negara menyatakannya sebagai aturan yang diskriminatif.
Serangkaian aksi teror yang menerpa Perancis menggeser fokus Le Pen ke bidang keamanan, Islam dan imigrasi. Semasa kampanye, Le Pen kerap menyerang isu "imigrasi massal", globalisasi dan "fundamentalisme Islam" yang dinilai mengancam keamanan dan nilai negara.
Secara blak-blakan Le Pen bahkan mengatakan bahwa warga Perancis tidak mau terbiasa "hidup dengan terorisme."
Dalam debat malam itu, Le Pen dan Macron juga berbagi panggung dengan tiga kandidat presiden lain yakni politikus konservatif Francois Fillon dan sayap kiri Benoit Hamon, serta komunis Jean-Luc Melenchon.
Sosialis Hamon turut menyerang pernyataan Le Pen mengenai keamanan siswa di sekolah-sekolah yang ia anggap sedang dilanda aksi kekerasan.
"Tanpa perdamaian di sekolah, akan sulit untuk memaksimalkan pembelajaran," kata Le Pen.
Lihat juga:Obama Kini 'Diminta' Jadi Presiden Perancis |
Sementara itu, Fillon, capres yang sempat menempati elektabilitas tertinggi, tidak berbicara banyak. Dia berangsur-angsur kehilangan dukungannya setelah terjerat skandal penyalahgunaan dana publik yang melibatkan istrinya.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru, dukungan tertinggi masih bertumpu pada Macron yang dianggap bisa dengan mudah mengalahkan Le Pen dalam putaran kedua pemilu yang berlangsung 7 Mei mendatang.
Meski begitu, tak ada satu pun yang berani membuat prediksi tajam mengenai pemilu setelah anomali kejutan menghampiri pemilu Amerika Serikat pada November lalu dengan kemenangan Donald Trump serta keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.