"Jumlah terakhir ada lebih dari 200 ribu korban di setidaknya 150 negara. Banyak dari para korban merupakan pelaku bisnis, termasuk perusahaan besar," tutur Kepala Badan Kepolisian Uni Eropa (Europol), Rob Wainwright, Minggu (14/5).
Ransomware WannaCry merupakan salah satu program jahat yang bisa mengunci data pada komputer terinfeksi dan jaringan terhubung hanya dalam hitungan menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu korban terparah adalah Inggris. Sedikitnya 45 fasilitas kesehatan nasional (NHS) terinfeksi, membuat sejumlah rumah sakit harus membatalkan operasi dan program perawatan pasien.
Sementara Di Indonesia, malware WannaCry ini mulai terdeteksi pada Jumat sore (12/5). Berdasarkan laporan yang diterima oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sejauh ini program tersebut baru terdeteksi menyerang sistem komputer Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais.
Berdasarkan penyelidikan awal, pelaku serangan malware ini diperkirakan berjumlah lebih dari satu orang.
Walaupun begitu, dia menuturkan, motivasi pelaku di balik serangan ini masih belum diketahui, meski pada umumnya serangan siber berkedok tebusan biasanya "bersifat kriminal."
"Ancaman ini terus meningkat, jumlah korban terus naik. Saya khawatir jumlah korban akan meningkat khususnya saat orang-orang pergi bekerja dan menghidupkan komputer mereka pada Senin (15/5) pagi," ujarnya.
"Kami menjalankan sekitar 200 operasi global melawan kejahatan siber setiap tahunnya. Tapi kami belum pernah melihat [serangan malware] yang seperti ini," katanya.
"Kebanyakan korban tak membayar tebusan yang diminta. Hanya beberapa korban saja yang sudah melakukan pembayaran tebusan," ucap Wainwright menambahkan, seperti dikutip AFP.