Pemilu Theresa May Gagal, Inggris Dilanda Kekacauan Politik

Rinaldy Sofwan , CNN Indonesia | Jumat, 09/06/2017 18:18 WIB
Pemilu Theresa May Gagal, Inggris Dilanda Kekacauan Politik
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Inggris menghantam pemimpinnya sendiri, Theresa May, dalam pemilu sela yang ia gagas untuk memperkuat pemerintahan dalam menghadapi Brexit. Keinginan itu berbalik merugikan ketika Partai Konservatif yang ia pimpin sebaliknya justru kehilangan mayoritas kursi di parlemen.

Setelah pemilu berakhir tanpa pemenang, May memberi sinyal akan terus berjuang. Sempat disebut tak punya harapan, rivalnya dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn, kini justru meminta May mengundurkan diri dan menyatakan berniat untuk membentuk pemerintahan minoritas.

Setelah malam bersejarah itu, politikus dan pengamat menyebut keputusan May untuk menggelar pemilu lebih cepat sebagai kesalahan sangat besar dan memperolok performanya semasa kampanye.

Walau demikian, dia tetap berniat untuk maju terus.
Saat ini Inggris berada dalam situasi parlemen gantung dan May sebagai perdana menteri harus mencoba membentuk pemerintahan, baik itu dengan kekuatan minoritas atau membentuk koalisi.

Bila May berhasil membentuk pemerintahan, ia harus menghadap ke Majelis Tinggi. Pemerintahan ini harus mendapatkan mosi kepercayaan setelah pembukaan parlemen pada 19 Juni.

Namun, jika May gagal membentuk pemerintahan atau tidak mendapatkan mosi kepercayaan, ia harus mengajukan pengunduran diri kepada Ratu Elizabeth II.

Kerajaan lantas akan memberikan kesempatan kepada Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh selaku oposisi terkuat, untuk membentuk pemerintahan. Jika ia juga gagal, parlemen dapat dibubarkan dan pemilu kembali diselenggarakan.
Skenario Theresa May pascapemilu yang gagal.Skenario Theresa May pascapemilu yang gagal. (CNN Indonesia/Fajrian)
Kondisi parlemen gantung sangat jarang terjadi di Inggris. Sejak akhir Abad ke-19, hanya ada lima kali parlemen gantung, terakhir kali pada masa pemerintahan David Cameron yang bertahan selama lima tahun dari Mei 2010.

Sky News melaporkan Partai Uni Demokrat (DUP) Irlandia Utara akan mendukungnya, memungkinkan Partai Konservatif untuk mencapai 326 kursi yang dibutuhkan untuk menjadi mayoritas di parlemen. Namun, DUP sejauh ini masih enggan berkomentar.

Dengan 649 dari 650 kursi dideklarasikan, partai Konservatif telah memenangi 318 kursi. Walau jadi pemenang, mereka gagal menjadi mayoritas dalam parlemen. Partai Buruh mendapatkan 261 kursi.

"Jika Partai Konservatif memenangkan sebagian besar kursi dan mungkin sebagian besar suara, maka jelas kita akan memastikan periode stabilitas dan persis itu yang akan kami lakukan," kata May setelah memenangi kursi parlemennya sendiri di Maidenhead, dekat London.
Namun, pembicaraan rumit seputar kepergian Inggris dari Uni Eropa dijadwalkan dimulai 19 hari lagi. Sementara itu, masih belum jelas siapa yang akan membentuk pemerintahan selanjutnya dan ke mana Brexit akan diarahkan.

Setelah memenangi kursinya di London, Corbyn mengatakan upaya May untuk mendapatkan mandat lebih besar justru menjadi senjata makan tuan.

"Mandat yang ia dapatkan adalah kursi Konservatif, kehilangan suara, kehilangan dukungan dan kehilangan rasa percaya diri," ujarnya, dikutip Reuters.

"Saya pikir itu cukup baginya untuk pergi, sesungguhnya, dan memberi jalan bagi pemerintahan baru yang akan sepenuhnya mewakili semua orang di negeri ini."
Ditanya apakah negosiasi Brexit mesti ditunda, Corbyn menjawab "mereka harus terus maju karena Pasal 50 sudah dipicu."

"Posisi kami sangat jelas. Kami ingin Brexit yang mengedepankan lapangan pekerjaan. Karena itu, hal terpenting adalah kesepakatan perdagangan dengan Eropa.

Corbyn menyatakan Partai Buruh siap untuk memimpin pemerintahan minoritas. Sekutu potensialnya adalah Partai Nasional Skotlandia (SNP) yang menderita kekalahan telak meski masih memenangi mayoritas kursi Skotlandia.