Korut Larang Warga Bernyanyi dan Gelar Pesta

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 23/11/2017 14:31 WIB
Korut Larang Warga Bernyanyi dan Gelar Pesta Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. (KCNA/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, dilaporkan melarang warganya menggelar pesta minum hingga bernyanyi. Larangan itu tampaknya diberlakukan lantaran kondisi perekonomian yang mulai terdampak akibat serangkaian sanksi dan isolasi internasional terhadap negara komunis yang berambisi memiliki senjata nuklir di Asia Timur itu. 

"[Korea Utara] telah membuat aturan di mana sebuah lembaga dari partai komunis melaporkan kesulitan yang dihadapi rakyat setiap harinya, dan melarang pertemuan dengan minum-minum, bernyanyi, dan aktivitas hiburan lainnya," kata Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) kepada Parlemen di Seoul, Kamis (23/11).

Intelijen Korea Selatan menduga larangan itu diberlakukan Pyongyang menyusul kondisi keuangan  yang semakin sulit lantaran terisolasi.  Terutama setelah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) baru mengimbau negara-negara di dunia untuk membatasi hingga memutus hubungan dengan Korut. 
Resolusi sanksi DK PBB itu keluar sebagai respons atas ambisi nuklir dan rudal Korut yang semakin mengancam keamanan kawasan, terutama setelah uji coba nuklir keenamnya pada awal September lalu.


Seperti dikutip The Independent, Badan intelijen Korsel itu juga mengatakan larangan tersebut diterapkan Korut demi mencegah munculnya perbedaan pendapat diantara masyarakat yang dapat mempersulit pemerintahan

Larangan ini pun semakin dikuatkan setelah NIS mengetahui bahwa Korea Utara membatalkan festival bir Pyongyang  yang selama ini rutin digelar pada bulan Juli, pasca kekeringan yang melanda negeri itu.
Situs berita The Telegraph memberitakan warga Korea Utara yang selama ini telah dibatasi ruang gerak dan kebebasannya, juga dilarang merayakan Hari Ibu. Rezim Korut khawatir perayaan Hari Ibu bisa mengurangi sanjungan dan kesetiaan warga terhadap Kim Jong-un.

Seperti dilansir Daily NK, meningkatnya popularitas perayaan Hari Ibu di kalangan warga telah mengurangi kultus terhadap pribadi Kim Jong-un yang selama ini diterapkan. Otoritas Korea Utara menegaskan bahwa pemberian karangan bunga, hadiah, dan pesan yang menunjukan rasa kesetiaan serta cinta kepada orang lain selain Kim Jong-un tidak bisa ditoleransi.

"Sangat menyedihkan ketika orang harus mengucapkan terima kasih kepada 'sang ayah' Kim Jong-un hingga setiap hal-hal kecil yang dia lakukan. Tapi kami tidak dapat mengungkapkan ucapan terima kasih kepada ibu kandung kami yang sebenarnya," kata seorang warga di Provinsi Pyongan Selatan kepada kantor berita Yonhap.
Kim Jong-un juga dikabarkan tengah mempererat cengkraman rezimnya dengan memastikan bahwa para pejabat pemerintahan menunjukan kesetiaan yang kuat terhadapnya. Menurut laporan NIS, Korea Utara memeriksa dua pejabat tinggi militer yang dituduh "bersikap tidak murni" terhadap pemerintahan Kim Jong-un.

Kepada Parlemen, Badan Intelijen Korea Selatan itu juga menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Korea Utara tengah mempersiapkan uji coba nuklir atau rudal baru.

"Meski begitu, kami memperkirakan bahwa uji coba nuklir dan rudal baru Korea Utara bergantung pada keputusan pemimpin mereka sehingga berpotensi dilakukan kapan saja," kata NIS. (nat)