Pangeran Saudi Disebut Larang Ibunya Temui Raja Salman

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 15:07 WIB
Pangeran Saudi Disebut Larang Ibunya Temui Raja Salman Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman disebut menyembunyikan dan melarang ibunya bertemu dengan Raja Salman. (REUTERS/Saudi Press Agency)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pangeran Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, disebut melarang sang ibu bertemu dengan Raja Salman dan menyembunyikan keberadaannya dari publik selama dua tahun terakhir.

Kepada NBC News, sejumlah sumber mengatakan hal itu dilakukan putra Salman karena khawatir sang ibu, Fahda binti Falah Al Hathleen, akan menggagalkan upayanya memperkuat kekuasaan dan menjadi putra mahkota kerajaan Saudi.

Dikutip CNBC, belasan pejabat dan mantan pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada NBC News bahwa informasi intelijen menunjukkan Mohammed berusaha mejauhkan Fahda dari Salman dan sorotan publik setidaknya sejak 2016 lalu.


Para pejabat bahkan mengatakan Mohammed telah menjadikan ibunya tahanan rumah di istana, tanpa sepengetahuan Salman.
Para sumber mengatakan istri ketiga Salman menganggap kerajaan bisa terpecah jika Mohammed tetap menjadi penerus takhta. Karena itu, Pangeran menjauhkannya dari sang Raja.

Saat melakukannya, dia masih menjadi wakil dari putra mahkota Saudi di kala itu, Muhammad bin Nayef. Akhirnya, pada pertengahan 2017, Mohammed menggantikan sepupunya sebagai penerus takhta kerajaan Saudi.

Selama ini Mohammed kerap berdalih ketika ditanya keberadaan sang ibu. Pria 31 tahun pernah mengatakan ibunya tengah sakit dan berada di luar negeri untuk mendapat perawatan.

Kabar ini muncul menjelang lawatan Mohammed ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Donald Trump pada awal pekan depan. Sejak menjabat sebagai putra mahkota Saudi, Mohammed terus menjadi perhatian dunia internasional dengan sejumlah kebijakannya untuk mereformasi perekonomian dan budaya negara di Timur Tengah itu.
Salah satu tindakan yang mengundang perhatian adalah penahanan ratusan pengusaha, termasuk sejumlah pangeran dan anggota keluarga kerajaan lainnya atas kasus korupsi.

Belakangan, Saudi juga mulai mengeluarkan sejumlah kebijakan yang lebih moderat, terutama soal hak perempuan. Dalam pidato sekitar Oktober lalu, Pangeran Mohammed bersumpah akan mengubah Saudi jadi negara yang lebih moderat.
Raja Salman mengganti Muhammad bin Nayef dengan Mohammed bin Salman.Raja Salman mengganti Putra Mahkota Muhammad bin Nayef dengan Mohammed bin Salman. (REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool)
Niatnya tercermin pada beberapa aturan Saudi baru-baru ini yang mulai mengizinkan perempuan lebih leluasa beraktivitas secara sosial dan politik di masayarakat. Saudi belakangan juga menunjuk Tamadar Binti Yousef al-Rama, seorang perempuan Saudi untuk menjadi wakil menteri di pemerintahan.

Penunjukkan perempuan dalam jabatan tinggi publik merupakan salah satu hal yang jarang terjadi di Saudi. Sebab, seperti negara Islam pada umumnya, Arab Saudi sangat mengatur peran perempuan dalam kehidupan sosial.
Saudi juga belakangan semakin menegaskan cengkraman kekuatanya di kawasan untuk membendung pengaruh Iran yang dianggap semakin meluas di Timur Tengah.


(aal)