Kepada NBC News, sejumlah sumber mengatakan hal itu dilakukan putra Salman karena khawatir sang ibu, Fahda binti Falah Al Hathleen, akan menggagalkan upayanya memperkuat kekuasaan dan menjadi putra mahkota kerajaan Saudi.
Dikutip CNBC, belasan pejabat dan mantan pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada NBC News bahwa informasi intelijen menunjukkan Mohammed berusaha mejauhkan Fahda dari Salman dan sorotan publik setidaknya sejak 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat melakukannya, dia masih menjadi wakil dari putra mahkota Saudi di kala itu, Muhammad bin Nayef. Akhirnya, pada pertengahan 2017, Mohammed menggantikan sepupunya sebagai penerus takhta kerajaan Saudi.
Selama ini Mohammed kerap berdalih ketika ditanya keberadaan sang ibu. Pria 31 tahun pernah mengatakan ibunya tengah sakit dan berada di luar negeri untuk mendapat perawatan.
Kabar ini muncul menjelang lawatan Mohammed ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Donald Trump pada awal pekan depan. Sejak menjabat sebagai putra mahkota Saudi, Mohammed terus menjadi perhatian dunia internasional dengan sejumlah kebijakannya untuk mereformasi perekonomian dan budaya negara di Timur Tengah itu.
Lihat juga:Singgung Iran, Saudi Ancam Buat Bom Nuklir |
Belakangan, Saudi juga mulai mengeluarkan sejumlah kebijakan yang lebih moderat, terutama soal hak perempuan. Dalam pidato sekitar Oktober lalu, Pangeran Mohammed bersumpah akan mengubah Saudi jadi negara yang lebih moderat.
Raja Salman mengganti Putra Mahkota Muhammad bin Nayef dengan Mohammed bin Salman. (REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool) |
Penunjukkan perempuan dalam jabatan tinggi publik merupakan salah satu hal yang jarang terjadi di Saudi. Sebab, seperti negara Islam pada umumnya, Arab Saudi sangat mengatur peran perempuan dalam kehidupan sosial.
(aal)
Raja Salman mengganti Putra Mahkota Muhammad bin Nayef dengan Mohammed bin Salman. (REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool)