Bisnis Daring Ilegal

Tercatat Angka Aborsi Meningkat di Perkotaan

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia | Rabu, 29/10/2014 11:26 WIB
Tercatat Angka Aborsi Meningkat di Perkotaan Dereten situs penjual obat penggugur kandungan masih merdeka berjualan di dunia maya. (Fajrian/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan angka aborsi pada anak usia remaja di perkotaan terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan remaja mengenai pendidikan seksual.

"Kalau dari data yang kita pakai, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), peningkatannya sekitar 1 persen," kata Kepala BKKBN Fasli Djalal saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (29/10).

Dia mengatakan sejauh ini tidak ada data pasti yang menunjukkan besaran aborsi di Indonesia. BKKBN sendiri selama ini menggunakan pedoman data SDKI untuk memperkirakan kematian ibu yang disebabkan oleh aborsi atau kelahiran yang tidak diinginkan.


Menurut data SDKI 2008, rata-rata nasional angka kematian ibu melahirkan (AKI) mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Dari jumlah tersebut, kematian akibat aborsi tercatat mencapai 30 persen. Sementara itu, laporan 2013 dari Australian Consortium For In Country Indonesian Studies menunjukan hasil penelitian di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia terjadi 43 persen aborsi per 100 kelahiran hidup. Aborsi tersebut dilakukan oleh perempuan di perkotaan sebesar 78 % dan perempuan di pedesaan sebesar 40 %.

Fasli mengatakan perempuan yang melakukan aborsi di daerah perkotaan besar di Indonesia umumnya berusia remaja dari 15 tahun hingga 19 tahun. Umumnya, aborsi tersebut dilakukan akibat kecelakaan atau kehamilan yang tidak diinginkan.

"Kita bisa melihat dari laporan SDKI pernikahan usia remaja semakin meningkat terutama di daerah perkotaan, yang mencapai total 48 persen dari total pernikahan nasional," kata dia.

Peningkatan angka aborsi tersebut, katanya, disebabkan oleh meningkatnya angka pernikahan usia dini terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Selain itu, kegiatan seks bebas serta lemahnya pemahaman mengenai seks menjadi pemicu meningkatnya aborsi di Indonesia.

Mantan wakil menteri Kementerian Pendidikan Nasional tersebut mengatakan sebanyak 52 persen dari anak muda Indonesia berpikir kehamilan tidak akan disebabkan dari kegiatan berhubungan seksual untuk pertama kali.

"Padahal, kenyataannya, kan, tidak demikian. Mereka yang tidak siap karena kehamilan lantas mencari aborsi,"kata dia.

Sementara itu, Suryo Darmono dari Rumah Sakit Carolus mengatakan tindakan aborsi banyak yang dilakukan secara mendadak serta tanpa sepengetahuan orangtua remaja bersangkutan. Alhasil, remaja perempuan menjadi traumatik dengan tindakan aborsi tersebut.

"Muncul rasa bersalah dari mereka. Kenapa sudah membunuh nyawa orang lain. Ujung-ujungnya depresi," kata dia.

Selain traumatik, tindakan aborsi tanpa prosedural yang benar atau dilakukan oleh orang yang tidak profesional, hanya akan berdampak pada gangguan kecacatan janin bersangkutan.

"Alih-alih kandungan gugur, bayinya malah cacat," dia menjelaskan.

Untuk mengurangi angka aborsi sendiri, kata Fasli, BKKB mengadakan kerjasama dengan satuan unit pendidikan di 9.000 unit Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 30 ribu universitas swasta serta negeri untuk membuka pelatihan edukasi seksual kepada remaja.