Jaksa Agung

Tiga Kesalahan Jokowi Memilih Prasetyo Jadi Jaksa Agung

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 20/11/2014 20:12 WIB
Tiga Kesalahan Jokowi Memilih Prasetyo Jadi Jaksa Agung Jaksa Agung M Prasetyo siap dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (20/11). (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai Presiden Joko Widodo telah melakukan tiga kesalahan besar karena menunjuk HM Prasetyo menjadi Jaksa agung. Pertama, mekanisme pemilihan yang tidak transparan dan tidak akuntabel.

Kedua, Prasetyo merupakan figur partai politik. "Kita butuh figur yang independen karena kejaksaan adalah instansi yang merdeka dari intervensi instansi mana pun," kata Emerson Yuntho, Anggota Badan Pekerja ICW, Kamis (20/11).

Pengangkatan Prasetyo menimublkan kekhawatiran besar bahwa Kejaksaan Agung akan tersandera dengan kepentingan politik. "Apalagi ketika mengatasi perkara terkait parpol. Rawan intervensi politik," ujar Emerson.

Ketiga, rekam jejak Prasetyo diragukan. Rekam jejak dari sisi prestasi maupun upaya penegakkan hukum. "Siapa yang kenal dia? Kalau jaksa agung saja diragukam rekam jejak dan prestasinya, kami pesimistis Jaksa Agung bisa jadi ujung tombak penegakkan hukum," kata Emerson.


Emerson menganggap penunjukkan Prasetyo bagai petir di siang bolong. "Ini kejutan yang mengejutkan bukan menyenangkan," ujar Emerson.

ICW juga kecewa lantaran masih ada figur lain yang dianggap lebih punya kapasitas dan revolusioner ketimbang Prasetyo. ICW juga menuntut Jokowi menjelaskan kepada publik mengenai alasan penunjukkan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Umum tersebut.

Emerson menegaskan, sepanjang Jokowi tidak menjelaskan alasan pemilihan Prasetyo, publik akan mencurigai hal itu merupakan paktik bagi-bagi kekuasaan. "Sebelum ada Prasetyo, posisi NasDem hanya tiga di kabinet. Karena yang lain dapat empat," kata Emerson.

Keputusan pengangkatan HM. Prasetyo pun dinilai terburu-buru. "Kami memang mendorong proses pemilihan cepat. Tapi cepat dan tepat bukan membahayakan," ujar Emerson.