"Pemerintah tidak melakukan koordinasi yang baik antar kementerian," kata Viva Yoga saat berbincang dengan CNN Indonesia, Selasa (24/2).
Iapun menilai hal tersebut berimbas pada tidak jelas siapakah yang memiliki tugas untuk mengendalikan stabilitas harga beras di pasaran. Mengenai produksi, kata Viva Yoga, hal tersebut menjadi perhatian utama dari Kementerian Pertanian. Sedangkan untuk distribusi menjadi perhatian utama bagi Kementerian Perdagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal April, kan, sudah panen raya. Kalau panen stok di pasar bertambah karena beras dari petani bisa langsung disalurka ke pasar. Itu bisa tambah volume stok di pasar. Tinggal sekarang untuk proses stok pengaman (buffer stock) bulognya seperti apa," tegasnya.
Menurutnya, apabila Bulog itidak difungsikan sebagai stok penyangga nasional, Indonesia nantinya akan susah menghadapi saat-saat darurat saat panceklik, bencana alam, atau pada saat terjadi krisis ekonomi dan politik.
"Nanti siapa yang berperan sebagai stok penyangga kalau bukan Bulog," ujarnya.
Sebelumnya, Viva Yoga menyebutkan salah satu kesalahan pemerintah yang menyebabkan harga beras naik secara signifikan adalah kurang sensitifnya pemerintah dalam mengantisipasi dan menghadapi situasi darurat pangan.
Diketahui, saat ini di pasar-pasar, beras kualitas menengah yang awalnya Rp 9.000 per kilogram kini rata-rata sudah naik 30 persen menjadi Rp 12.000 per kilogram. Untuk kualitas premium, harganya sudah mencapai Rp 15.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 11.000 per kilogram. Kenaikan ini bisa disebut rekor karena tahun-tahun sebelumnya tidak sedrastis sekarang. (utd)