Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, menjelaskan soal CSR ini. Secara harfiah, CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan ialah tindakan yang dilakukan perusahaan sebagai rasa tanggung jawabnya terhadap lingkungan sekitar di mana perusahaan itu berada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat serupa dikemukakan Ketua Panitia Angket Muhammad ‘Ongen’ Sangaji. “Ada kaitan antara CSR dan APBD. Dana CSR itu harus dipertanggungjawabkan,” kata politikus Hanura itu.
“Bu Gubernur kan boleh saja aktif di kegiatan sosial. Beliau itu Ketua PKK, Ketua Dharma Wanita. Beliau menggerakkan kegiatan sosial. Boleh dong beliau menginisiasi kegiatan sosial, bukan berarti minta uang,” ujar Heru.
Soal CSR, tegas Heru, peran Pemprov DKI hanyalah memfasilitasi dan menyaksikan penyaluran bantuan tersebut.
Secara terpisah, Ahok membantah istrinya punya sangkut-paut dengan pengelolaan dana. Menurut Ahok, tak ada pula lembaga bernama Ahok Center yang disebut Panitia Angket ikut mengelola CSR di Jakarta.
"Ahok Center enggak pernah ada. Cari deh di seluruh dunia, ada enggak Ahok Center? Itu cuma relawan yang gaya-gayaan tulis Ahok Center," kata Ahok.
Soal CSR yang diributkan Panitia Angket ini mengemuka karena beredarnya foto Veronica dan adik Ahok, Harry Basuki Tjahaja, dalam rapat soal revitalisasi Kota Tua di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis pekan lalu (5/3).
Veronica, menurut DPRD, memimpin rapat yang dihadiri oleh Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Sylviana Murni, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Purba Hutapea, serta Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta Sarwo Handayani. (Baca: DPRD Panggil Pejabat DKI yang Rapat Bersama Istri Ahok)
“Itu (revitalisasi Kota Tua) kan pakai dana CSR. Kami mau tahu pelaksana proyek itu siapa saja,” ujar Panitia Angket Selamat Nurdin.
Revitalisasi Kota Tua melibatkan Pemprov DKI Jakarta dan PT Pembangunan Kota Tua. Menurut Purba Hutapea, rapat yang dihadiri istri Ahok sesungguhnya merupakan diskusi informal yang bersifat cair. Kehadiran Veronica dan Harry di sana untuk memberi saran terkait revitalisasi Kota Tua.
Veronica sendiri bukannya tak sering muncul di Balai Kota. Seperti dikemukakan Heru, sebagai istri Gubernur Jakarta, Veronica menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Jakarta, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Jakarta, dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jakarta. Terkait posisinya itulah ia beberapa kali memimpin rapat di lingkungan Balai Kota DKI Jakarta. (agk)