DPRD: Istri Ahok Arahkan Proyek Kota Tua, Indikasi Nepotisme

Donatus Fernanda Putra, CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2015 16:31 WIB
DPRD: Istri Ahok Arahkan Proyek Kota Tua, Indikasi Nepotisme Istri Basuki Tjahaja Purnama, Veronica Tan, saat pelantikan suaminya sebagai Gubernur Jakarta, 19 November 2014. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Panitia Angket DPRD DKI Jakarta dengan Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Sylviana Murni, Jumat siang (13/3), menghasilkan tiga kesimpulan. Pertama, proyek revitalisasi Kota Tua menggunakan dana APBD dan Corporate Social Reponsibility (CSR).

“Kedua, istri Ahok, Veronika Tan, memberikan pengarahan secara detail dalam rapat soal revitalisasi Kota Tua. Ketiga, tindakan itu mengindikasikan nepotisme dan menyalahi kaidah,” kata Panitia Angket Muhammad ‘Ongen’ Sangaji di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Kesimpulan itu dibacakan Ongen setelah meminta keterangan selama sekitar satu jam dari Sylviana yang memimpin rapat soal Kota Tua yang dihadiri Veronika, adik Ahok –Harry Basuki Tjahaja, dan pejabat DKI Jakarta lain, Kamis (5/3).


Dalam rapat, Sylviana menyatakan Veronika hadir dalam kapasitasnya sebagai orang yang peduli dengan Kota Tua. Sementara adik Ahok, Harry, merupakan ahli pariwisata. Oleh sebab itu keduanya memberi masukan untuk revitalisasi Kota Tua yang programnya diluncurkan 13 Maret 2014 itu.

Di hadapan Panitia Angket, Sylviana menjelaskan Kota Tua merupakan aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang perlu direvitalisasi sebab sudah masuk nominasi warisan kebudayaan dunia UNESCO. Namun untuk menjadi kawasan budaya, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi Kota Tua.

“Saat Arief Yahya dilantik menjadi Menteri Pariwisata, dia langsung mengeluarkan surat Kota Tua menjadi destinasi utama wisata nasional,” kata Sylviana. Oleh sebab itu secara rutin diadakan pertemuan antara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan berbagai komunitas.

Untuk merevitaliasi Kota Tua, ujar Sylviana, Pemprov DKI Jakarta berdialog dan bekerja sama dengan pakar budaya, pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis, dan lain-lain. Seluruh SKPD yang terkait dengan proyek itu pun disebut Sylviana proaktif dan bertanggung jawab atas tugas mereka masing-masing.

Terkait intensitas berbagai komunitas itulah, kata Sylviana, bukan hanya Veronica yang datang untuk memberi masukan terkait revitalisasi Kota Tua. “Beberapa kali Bu Vero datang, tapi tak cuma dia. Ada komunitas, seniman, budayawan. Mereka juga diskusi dengan tim sidang pemugaran, selalu mengingatkan agar jangan sampai pembangunan Kota Tua menyimpang,” ujar Sylviana.

Soal dana proyek revitalisasi Kota Tua, Sylviana mengatakan ada pihak swasta yang bersepakat untuk membantu, yakni Lin Che Wei. “Ini lebih pada kepedulian swasta pada Kota Tua. Mereka membantu. Lin Che Wei kumpulkan dana, sama sekali tak ada kaitannya dengan Pemerintah Provinsi DKI,” ujarnya.

Sylviana menyatakan keterangannya soal revitalisasi Kota Tua itu ia sampaikan tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Masterplan revitalisasi pun sudah ada sejak masa Sutiyoso menjabat gubernur Jakarta.

Tudingan adanya tekanan terhadap Sylviana itu datang dari Wakil Ketua DPRD DI Jakarta Abraham ‘Lulung’ Lunggana. “Ibu tampak di bawah tekanan Bu Gubernur. Saya minta kepada empok untuk menjelaskan apa ini nepotisme. CSR harus dikelola, jangan liar,” kata politikus PPP itu.

Pendapat senada dilontarkan anggota DPRD dari Fraksi Demokrat, Santoso. “Saya menilai PT Pembangunan Kota Tua tidak murni tulus. Saya ragu karena tak ada 'makan siang' gratis,” ujarnya.

Terhadap tuduhan bertubi-tubi Panitia Angket DPRD itu, Sylviana menegaskan itu semua tak benar. Bantahan juga telah dinyatakan Ahok secara terpisah. Ia mengatakan Veronica tak terkait dengan pengelolaan dana CSR di Jakarta.

Ahok juga mengatakan tak ada lembaga bernama bernama Ahok Center yang disebut DPRD ikut mengelola CSR di Jakarta. "Ahok Center enggak pernah ada. Cari deh di seluruh dunia, ada enggak Ahok Center? Itu cuma relawan yang gaya-gayaan tulis Ahok Center," ujar Ahok.

Terkait program revitalisasi itu, saat ini di Kota Tua dilakukan pengelompokkan para pedagang berdasarkan cluster agar lebih tertata rapi. PT Pembangunan Kota Tua juga berencana menyediakan bus wisata gratis agar wisatawan dapat mengelilingi kawasan itu dengan mudah. (agk/agk)