"Menurut saya hal ini sangat bagus," ujar Djoko dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (10/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Djoko juga mengatakan, situs-situs yang diblokir tidak akan sepenuhnya mati selama masih mempunyai server. "Ditutup di sini terbuka di sana, keluar lagi, jadi tidak selesai-selesai."
Walau demikian, dia juga menyatakan pemblokiran situs tidak dapat dilakukan sembarangan. Situs yang hendak diblokir perlu didalami matang-matang apakah memang layak untuk dibatasi.
"Kebetulan percepatan penanganan ISIS termasuk program yang penanggungjawabnya adalah Kabaintelkam, selain Kepala BIN, BNPT dan pemerintah. Kami bersepakat untuk tahun 2015 sampai 2019 ISIS sudah tidak boleh ada lagi," ujar Djoko. (Lihat fokus: Kontroversi Pemblokiran Situs Islam)
Sebelumnya, tim panel Forum Penanggulangan Situs Internet Bermuatan Negatif (PSIBN) memutuskan untuk membebaskan 12 situs Islam dari pemblokiran mulai hari ini (10/4).
"Mereka punya itikad baik karena sudah datang ke sini pada Selasa kemarin untuk sampaikan hal-hal bahwa situs mereka tidak mengandung konten radikal," kata Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi, dan Aparatur, Kemenko Polhukam, Agus Barnas saat ditemui CNN Indonesia, Kamis (9/4).
12 situs yang mengajukan normalisasi adalah arrahmah.com, aqlislamiccenter.com, hidayatullah.com, muslimdaily.net, salam-online.com, gemaislam.com, dakwatuna.com, panjimas.com, kiblat.net, voaislam.com, eramuslim.com, dan yang paling baru an-najah.net.
Sementara untuk tujuh situs lain yang masih diblokir, Agus masih belum mendapat informasi jelas. Pemilik ketujuh situs tersebut pun diminta untuk melapor jika memang ada keberatan yang diajukan. (Baca juga: Nasib Situs yang Diblokir Tergantung Tim Panel) (sur)