Bambang Widjojanto: Perempuan Rentan Jadi Korban Korupsi

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2015 13:41 WIB
Bambang Widjojanto: Perempuan Rentan Jadi Korban Korupsi Enam perempuan lintas generasi memasang spanduk raksasa
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua nonaktif Bambang Widjojanto menilai sosok perempuan kerap kali menjadi korban tindak pidana korupsi. Untuk menghindari kerentanan itu, Bambang menilai pentingnya perempuan menjadi agen pemberantas korupsi.

"Kalau laki-laki korupsi, yang menderita perempuan. Duitnya dipake untuk wanita idaman lainnya," kata Bambang usai menghadiri peringatan Hari Kartini di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/4).

Dalam sektor korupsi beras, perempuan juga berpotensi menjadi korban. Hal yang sama terjadi dalam potensi korupsi bahan pokok lainnya. "Berapa pun harga beras dinaikan, yang dapat untung bukan petani, tapi yang lain. (Gula) sama, karena sembilan kebutuhan pokok ada di situ," katanya. (Baca juga: KPK Ingin Pansel Pimpinan Segera Dibentuk)


Menghadapi potensi demikian, perempuan dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi agen pemberantasan korupsi. "Sekarang (perempuan) jadi bagian di luar struktur yang bisa membangun gerakan antikorupsi karena dia bisa punya solidaritas dengan kelompok lain," katanya.

Terlebih, lembaga antirasuah telah menggalang gerakan anti korupsi yang melibatkan kaum perempuan. Gerakan tersebut telah diinisiasi sejak tahun lalu, yakni "Saya, Perempuan Anti Korupsi". Gerakan SPAK pertama kali disosialisasikan setahun lalu sebagai gerakan sosial perempuan melawan korupsi.

Gerakan tersebut telah diikuti oleh sedikitnya 200 perempuan agen anti korupsi. Mereka terdiri dari pelajar, ibu rumah tangga, aktivis, dan para profesional. (Baca juga: Ruki Tantang Perempuan Jadi Pimpinan KPK)

"Ini yang menjadi penting, sehingga kalau nanti ada representasi perempuan yang jadi pimpinan itu menarik sekali. Dia bisa mewakili kepentingan kelompok perempuan. Itu sebabnya perempuan bisa maju (menjadi pimpinan KPK)," katanya.

Kendati demikian, tak menutup kemungkinan perempuan menjadi aktor korupsi. "Waktu di periode saya ada tiga kajian (kaitan perempuan dengan korupsi) yang sudah dilakukan. Yang pertama, bisa ada di sektor beras, minyak, dan gula. Apa bila jadi persoalan besar, minyak itu yang paling banyak tahu siapa? Perempuan," katanya. (Baca juga: Tiga Menteri Perempuan Peringati Hari Kartini di KPK)

Selanjutnya, potensi korupsi dapat dilakukan melalui penyalahgunaan wewenang. "Sekarang ada trend karena perempuan sudah terlibat di sektor nondomestik, maka potensi penyalahgunaan juga ada di perempuan," ujarnya.

Bambang berharap tidak ada lagi pejabat perempuan yang terjerat kasus korupsi. Untuk itu, diperlukan sosialisasi gerakan antikorupsi. "Kita sama-sama menjaga," katanya. (pit/pit)