Menurut sepupu Gularte, Angelita Muxfeldt, penerapan eksekusi mati menimbulkan sakit dan siksaan yang begitu dalam bagi sang terpidana, maupun keluarga yang ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"He was so kind and this is unbelievable to look only his body this day," kata Angelita sesaat setelah tiba di rumah sakit. (Lihat fokus: Setelah Bedil Menyalak)
Saat ditangkap, Gularte terbukti menyelundupkan 6 kilogram heroin dalam papan selancar yang dibawanya. Ia divonis mati Pengadilan Negeri Tangerang pada Februari 2005. Grasi dan Peninjauan Kembalinya ditolak. Meski disebut dokter menderita depresi dan gangguan kejiwaan biopolar, namun dirinya tetap dieksekusi kejaksaan pukul 00.35 dini hari tadi.
Saat ini, jenazah Gularte telah berada di ruang duka RS St Carolus, Jakarta Pusat, sebelum diterbangkan ke negara asalnya pada Kamis (30/4) esok. Direncanakan sebuah misa juga akan digelar pada malam nanti untuk melepas kepergian Gularte dan terpidana mati lainnya. (Baca juga: Jenazah Gularte Diformalin Dua Kali agar Awet Sampai Brasil) (sur)