Peneliti dari Perhimpunan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadli Ramadhanil mengatakan, rekomendasi sah-sah saja dilontarkan, termasuk dari orang nomor dua di Indonesia tersebut. Namun menurutnya saran dari JK akan terbentur pada pertanyaan soal kepengurusan Golkar kubu mana yang sah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang jika acuannya adalah pada SK Menkumham, Golkar yang sah adalah kubu Agung Laksono. Namun SK tersebut ditangguhkan pelaksanaanya oleh putusan sela dari PTUN.
Di situlah, menurut Fadli, rekomendasi JK akan sulit terlaksana. SK kepengurusan Partai Golkar sedang dalam proses digugat pengadilan dan akhirnya akan menyulitkan KPU menentukan kepengurusan mana yang sah.
Sebelumnya Jusuf Kalla yang juga mantan Ketua Umum Partai Golkar mengungkapkan akan ikut turun tangan agar Partai Golkar bisa ikut dalam pilkada serentak 2015.
"Saya usulkan pencalonan pilkada jalan terus dan kalau perlu di tanda tangan berdua (oleh 2 kepengurusan saat ini), biar sah. Nanti diusahakan," kata JK dalam teleconference dengan Musyawarah Perangkat Daerah (Muspida) Sulawesi Selatan, Kantor Wapres, Jakarta kemarin
Kendati demikian JK masih meminta publik menunggu hasil Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait Golkar, walau JK memprediksikan bahwa pihak yang kalah dalam PTUN akan gugat balik ke Mahkamah Agung.
Respons JK ini menanggapi permintaan Ketua DPRD Sulawesi Selatan yang juga kader Golkar, Moh Roem. "Teman-teman sesama kader dan yang ikut pilkada gelisah kondisi Golkar saat ini. Kalau tidak akan dikutuk yang berseteru bila sampai Golkar tidak ikut pilkada," kata Mohammad Roem dalam teleconference. (sur)