“Presiden Jokowi perlu menghentikan dirinya dan para pembantunya dari kebiasaan politik buruk seperti menyebar informasi bohong, tuduhan tanpa dasar, dan perilaku politik artifisial,” kata politikus Demokrat Rachland Nashidik kepada CNN Indonesia, Selasa (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait utang RI kepada IMF ini, Jokowi sempat mengungkapkan kegeramannya kepada IMF yang menurut dia gemar memberi utang dengan syarat-syarat memberatkan. “Kita (RI) masih pinjam dari sana (IMF). Perlu dibuat tatanan keuangan global yang lebih baik dengan memperhatikan negara miskin. Seharusnya lembaga keuangan memberi bantuan dan rangsangan untuk pertumbuhan ekonomi negara yang kurang. Jangan malah memberatkan,” ujar Jokowi (26/4).
“Jika pernyataan Presiden Jokowi tidak saya koreksi, rakyat bisa menuduh saya yang berbohong. Kebenaran bagi saya mutlak,” kata SBY via akun Twitter resminya. (Baca: SBY Koreksi Pernyataan Jokowi soal Utang IMF Lewat Twitter)
Keesokannya (29/4), giliran IMF yang menyatakan Indonesia telah tak memiliki utang ke IMF. “Indonesia saat ini tidak memiliki pinjaman dari IMF,” kata Penasihat IMF Benedict Bingham dalam keterangan resmi yang dimuat di situs resmi lembaga keuangan internasional itu. (Baca: IMF Tegaskan Indonesia Bebas Utang)
Salah ucap atau salah informasi dalam pemerintaha SBY, menurut Rachland, terjadi berulang. “Sehingga menimbulkan spekulasi bahwa Presiden Jokowi mengembangkan pola politik bermusuhan dan memecah-belah yang tidak terpuji,” ujarnya.
Oleh sebab itu Demokrat merasa amat kecewa terhadap Jokowi, dan meminta Jokowi untuk tak membuat masalah-masalah baru yang menurut mereka tak perlu ada.
“Partai Demokrat ingin dengan rendah hati mengingatkan. Demi efektivitas pemerintahan dan mengingat tipisnya selisih suara kemenangan Jokowi baik ketika menjadi Gubernur DKI maupun Presiden RI, Jokowi perlu mengembangkan sense of reality,” ujar Rachland.
Kesalahan berulang, kata dia, bisa menyeret Jokowi menjauh dari kekuatan politik moderat yang sewaktu-waktu pasti ia butuhkan untuk mendukung kebijakan pemerintahan.
Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, terkait kemarahan Demokrat terhadap menteri mereka, menyatakan Sudirman Said hanya menjalankan tugas dalam memperbaiki pengelolaan energi. (Baca Jubir ESDM: Kami Hanya Jalankan Tugas soal Petral) (agk)