Namun, Kabareskrim Komisaris Jenderal Budi Waseso mengungkapkan dirinya masih menunggu perkembangan dari keterangan saksi-saksi yang lain. Sementara untuk domisili Dahlan yang sama dengan Sri Mulyani, yaitu di Amerika Serikat, Budi pun belum terpikir apakah akan melakukan sistem yang sama seperti dirinya memerintahkan penyidik untuk memeriksa Sri Mulyani dalam kasus kondensat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, aliran dana kasus tersebut pun hingga kini masih diusut oleh penyidik Bareskrim. Budi mengatakan dirinya juga berencana untuk berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengusut aliran dananya.
"Kita akan tetap koordinasi dengan KPK," katanya.
Proyek bermasalah ini juga disebut penyidik didanai oleh sejumlah BUMN. "Sejumlah BUMN yang sedang kita dalami ikut dalam upaya mendukung. Cetak sawah itu kan butuh anggaran," kata Kepala Subdirektorat I Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Ajun Komisaris Besar Adi Deriyan kepada CNN Indonesia.
Ade tidak mengatakan BUMN mana saja yang mendanai proyek ini. Namun, berdasarkan informasi, proyek cetak sawah tersebut diselenggarakan beberapa BUMN seperti BNI, Askes, Pertamina, Pelindo, Hutama Karya, BRI, dan PGN. Nilai proyek pun diperkirakan mencapai Rp317 miliar.
Sejumlah BUMN tersebut menyerahkan pengerjaan cetak sawah itu kepada PT Sang Hyang Seri. Namun, PT Sang Hyang Seri menyerahkan kembali proyek itu ke PT Hutama Karya, PT Indra Karya, PT Brantas Abipraya, PT Yodya Karya. (tyo/pit)