"Hari ini gelar perkara dan yang bersangkutan tersangka," ujar Direktur Tipideksus Brigadir Jenderal Viktor Simanjuntak, Senin (13/7).
Sebenarnya ini bukan kali pertama gelar perkara kasus tersebut dilakukan. Viktor mengatakan gelar perkara perdana dilakukan Rabu (8/7) pekan lalu, dan gelar hari ini dilakukan untuk menegaskan status tersangka AIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah uang dari pelabuhan dan soal setoran-setorannya," kata Viktor.
Berdasarkan informasi, kasus tersebut berhubungan dengan Pelabuhan Garongkong di Kabupaten Barru. AIS diduga tidak membentuk Perusahaan Daerah Pelabuhan dan Pelayaran seperti yang tertera di Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2015.
Dengan tidak adanya PDPP tersebut, pemerintah Kabupaten Barru memberikan izin pada para perusahaan untuk beraktivitas di pelabuhan tersebut tapi uang pungutannya tidak masuk kas daerah.
Selain itu, pemerintah Kabupaten Barru juga menerima uang sebesar Rp 22,5 miliar yang diterima dari peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Sayangnya, uang tersebut malah diberikan AIS ke empat yayasan yang berbeda.
Ditambah lagi, AIS pun diduga menerima gratifikasi satu unit mobil dengan nomor polisi DD 61 AS berwarna hitam yang diberikan oleh PT Cipta Bhara Bata dan PT Jaya Bakti. Tak hanya satu, AIS juga menerima satu mobil sport bernomor polisi DD 1727 ,dari perbuatannya berproyek di Pelabuhan Garongkong, yang didaftarkan atas nama sang istri. (hel)